Episode 6: “Tiga Ujian Pendekar Legendaris”
Satra/FIksi, ELrolumNews – Setelah menyelamatkan kakek tua dari penjara Kekaisaran Langit, Lian Hua, Lian Ying, dan Pendeta Bayangan memutuskan untuk berpisah sementara. Kakek tua itu perlu dirawat, dan Pendeta Bayangan menawarkan diri untuk membawanya ke tempat yang aman. “Aku tahu tempat persembunyian yang tidak akan ditemukan oleh Kekaisaran Langit,” katanya. “Di sana, ia bisa pulih dengan tenang.” Lian Hua dan Lian Ying setuju. “Kami akan mencari sekutu,” kata Lian Hua. “Kami akan kembali setelah kami mendapatkan cukup kekuatan untuk melawan Kaisar Langit.” Pendeta Bayangan mengangguk. “Hati-hati. Kekaisaran Langit tidak akan tinggal diam.”
Lian Hua dan Lian Ying memulai perjalanan mereka menuju Pegunungan Utara, tempat di mana seorang pendekar legendaris bernama Guru Angin tinggal. Guru Angin adalah salah satu pendekar terkuat yang pernah hidup — konon, ia mampu mengendalikan angin dan badai dengan ilmu silatnya. Namun ia telah mengasingkan diri selama puluhan tahun, dan tidak ada yang tahu apakah ia masih hidup. “Apakah kau yakin kita bisa menemukannya?” tanya Lian Ying. Lian Hua mengangguk. “Kita harus mencoba. Jika kita bisa mendapatkan bantuannya, kita akan memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan Kekaisaran Langit.”
Perjalanan menuju Pegunungan Utara memakan waktu lima hari. Mereka melewati hutan-hutan yang lebat, sungai-sungai yang deras, dan lembah-lembah yang dalam. Di sepanjang perjalanan, mereka bertemu dengan para pendekar yang telah mendengar tentang mereka. Beberapa dari mereka menawarkan bantuan, tetapi Lian Hua dan Lian Ying tahu bahwa mereka belum cukup kuat. “Kita butuh seseorang yang bisa mengimbangi kekuatan Kaisar Langit,” kata Lian Hua. “Dan hanya Guru Angin yang bisa melakukannya.”
Akhirnya, mereka tiba di kaki Pegunungan Utara. Gunung-gunung di sana sangat tinggi dan curam, dengan puncak-puncak yang tertutup salju abadi. Angin bertiup kencang, dan udara terasa dingin menusuk tulang. “Guru Angin tinggal di puncak tertinggi,” kata Lian Hua. “Kita harus mendaki.” Mereka mulai mendaki, melawan angin yang semakin kencang dan udara yang semakin tipis. Setelah berjam-jam mendaki, mereka akhirnya tiba di sebuah dataran tinggi yang tersembunyi di balik awan. Di sana, mereka melihat sebuah pondok kayu sederhana, dikelilingi oleh taman bunga yang aneh — bunga-bunga yang mekar di tengah salju.
Di depan pondok, duduk seorang kakek tua dengan janggut putih yang panjang, mengenakan jubah abu-abu yang lusuh. Matanya tertutup, dan ia tampak sedang bermeditasi. Lian Hua dan Lian Ying mendekat dengan hormat. “Maafkan kami, Kakek. Apakah kau Guru Angin?” Kakek itu membuka matanya, dan mata itu berwarna biru seperti langit — jernih dan dalam. “Aku sudah lama tidak dipanggil dengan nama itu,” katanya dengan suara lembut namun berwibawa. “Siapa kalian, dan mengapa kalian datang ke tempat ini?”
Lian Hua memperkenalkan diri dan menceritakan tentang misi mereka — tentang Kaisar Langit, tentang Sekte Naga Langit, dan tentang Pedang Bulan Kembar. Guru Angin mendengarkan dengan seksama, tanpa ekspresi. Setelah Lian Hua selesai, ia terdiam lama. Kemudian ia berkata, “Aku tahu tentang Pedang Bulan Kembar. Aku juga tahu tentang Kaisar Langit. Tetapi aku tidak bisa membantumu.” Lian Ying terkejut. “Mengapa tidak? Kau adalah pendekar legendaris! Kau bisa menghentikan Kaisar Langit!” Guru Angin menggeleng. “Aku sudah terlalu tua. Aku sudah lama meninggalkan dunia persilatan. Aku tidak ingin terlibat lagi.”
Lian Hua menatap Guru Angin dengan mata penuh harap. “Kakek, kami tahu kau sudah lama mengasingkan diri. Tetapi dunia persilatan sedang dalam bahaya. Jika Kaisar Langit berhasil membuka gerbang ke dunia kegelapan, semua orang akan menderita — termasuk orang-orang yang kau cintai.” Guru Angin terdiam. Ia menatap Lian Hua dan Lian Ying bergantian, dan untuk pertama kalinya, ada keraguan di matanya. “Kalian… kalian mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang pernah aku kenal dahulu kala.” Ia menghela napas. “Baiklah. Aku akan membantumu. Tetapi ada syaratnya. Kalian harus melewati tiga ujian.”
