PEDANG BULAN KEMBAR: Sekutu Tak Terduga dan Pengkhianatan Kekaisaran Langit

Episode 5: “Sekutu Tak Terduga”

Sastra/Fiksi, ELrolumNews – Hujan turun deras di luar gua tempat Lian Hua dan Lian Ying bersembunyi. Mereka telah berlari sepanjang malam, jauh dari Istana Langit, jauh dari pengkhianatan yang baru saja mereka temukan. Lian Hua duduk di dekat api unggun kecil, memanaskan tangannya yang dingin. Lian Ying berdiri di mulut gua, mengawasi lingkungan sekitar dengan mata tajam. “Kita tidak bisa terus bersembunyi seperti ini,” kata Lian Ying. “Kita harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa Kaisar Langit bekerja sama dengan Sekte Naga Langit?” Lian Hua mengangguk. “Aku tahu. Tetapi kita perlu bukti. Tanpa bukti, tidak ada yang akan percaya pada kita.”

Keesokan paginya, hujan berhenti dan matahari terbit dengan cerah. Lian Hua dan Lian Ying memutuskan untuk kembali ke Desa Bulan untuk mencari informasi. Mereka bergerak dengan hati-hati, menghindari jalan-jalan utama, dan bersembunyi di balik pepohonan setiap kali mereka melihat pasukan Kekaisaran Langit yang berpatroli. “Mereka mencari kita,” bisik Lian Ying. “Kita harus cepat.” Lian Hua mengangguk, dan mereka mempercepat langkah mereka.

Ketika mereka tiba di Desa Bulan, mereka menemukan bahwa desa itu telah didatangi oleh pasukan Kekaisaran Langit. Penduduk desa tampak ketakutan, dan beberapa rumah telah dirusak. “Apa yang terjadi di sini?” tanya Lian Hua kepada seorang penduduk. Penduduk itu menjawab dengan suara gemetar, “Pasukan Kekaisaran Langit datang kemarin. Mereka mencari kalian. Mereka mengatakan bahwa kalian adalah pengkhianat yang mencuri Pedang Bulan Kembar.” Lian Ying mengepalkan tangannya. “Itu bohong! Kamilah yang memiliki pedang itu!” Penduduk itu menggeleng. “Aku percaya pada kalian. Tetapi pasukan itu… mereka sangat kuat. Kakek tua yang menjaga desa ini… mereka membawanya.”

Lian Hua dan Lian Ying terkejut. “Mereka membawa kakek tua itu? Ke mana?” tanya Lian Hua. Penduduk itu menunjuk ke arah utara. “Ke markas mereka di Gunung Langit. Mereka mengatakan bahwa kakek tua itu akan diadili karena membantu kalian.” Lian Ying menggeram. “Kita harus menyelamatkannya.” Lian Hua mengangguk. “Ya. Tetapi kita tidak bisa melakukannya sendirian. Kita butuh bantuan.” Mereka berpamitan dengan penduduk desa dan bergegas menuju Gunung Langit.

Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan seseorang yang tidak mereka duga. Seorang pria tinggi kurus dengan jubah hitam dan topeng setengah wajah — Pendeta Bayangan. Lian Ying segera mencabut pedangnya. “Kau! Apa yang kau lakukan di sini?!” Pendeta Bayangan mengangkat tangannya. “Tenang. Aku bukan di sini untuk bertarung.” Lian Hua menatapnya dengan curiga. “Lalu apa tujuanmu?” Pendeta Bayangan menghela napas. “Aku tahu kalian sedang dalam masalah. Kekaisaran Langit… mereka telah mengkhianatiku juga. Mereka ingin menghancurkan Sekte Bayangan Bulan dan mengambil alih kekuasaanku.”

Lian Ying tidak percaya. “Kau pikir kami akan mempercayaimu? Kau telah menipuku selama bertahun-tahun! Kau membuatku percaya bahwa aliran Terang adalah musuh!” Pendeta Bayangan menundukkan kepalanya. “Aku tahu. Aku telah melakukan banyak kesalahan. Tetapi aku ingin menebusnya. Aku ingin membantumu menghentikan Kekaisaran Langit.” Lian Hua menatapnya dengan mata tajam. “Mengapa kami harus mempercayaimu?” Pendeta Bayangan mengeluarkan sebuah gulungan dari jubahnya. “Karena aku memiliki ini. Bukti bahwa Kaisar Langit bekerja sama dengan Sekte Naga Langit. Aku mencurinya dari Istana Langit beberapa bulan yang lalu.”

Lian Hua mengambil gulungan itu dan membukanya. Di dalamnya, terdapat surat-surat yang ditandatangani oleh Kaisar Langit dan pemimpin Sekte Naga Langit. Surat-surat itu berisi rencana untuk menyerang dunia persilatan dan membagi kekuasaan di antara mereka. “Ini… ini bukti yang kita butuhkan,” bisik Lian Hua. Lian Ying membaca surat-surat itu dengan mata terbelalak. “Jadi Kaisar Langit memang pengkhianat.” Pendeta Bayangan mengangguk. “Ya. Dan ia berencana untuk menggunakan Pedang Bulan Kembar untuk membuka gerbang ke dunia kegelapan. Kita harus menghentikannya.”

Explore additional categories

Explore