PEDANG BULAN KEMBAR: Sekutu Tak Terduga dan Pengkhianatan Kekaisaran Langit

Lian Hua dan Lian Ying berdiskusi dengan Pendeta Bayangan. Meskipun mereka masih curiga, mereka tahu bahwa mereka tidak punya pilihan lain. “Kita akan bekerja sama,” kata Lian Hua. “Tetapi jika kau mengkhianati kami, kami tidak akan segan-segan untuk menghukummu.” Pendeta Bayangan mengangguk. “Aku mengerti. Aku akan membantumu menyelamatkan kakek tua itu dan menghentikan Kaisar Langit.” Lian Ying menatapnya dengan mata tajam. “Kau lebih baik menepati janjimu. Karena jika tidak, kau akan menyesal.” Pendeta Bayangan tersenyum tipis. “Aku tidak akan mengecewakanmu.”

Mereka bertiga bergerak menuju Gunung Langit, tempat markas Kekaisaran Langit berada. Pendeta Bayangan memandu mereka melalui jalan-jalan rahasia yang tidak diketahui oleh pasukan Kekaisaran Langit. “Aku pernah tinggal di sini selama beberapa tahun,” katanya. “Aku tahu setiap sudut gunung ini.” Lian Hua dan Lian Ying mengikuti dengan hati-hati, tetap waspada terhadap kemungkinan jebakan. Namun, semakin dalam mereka masuk ke wilayah Kekaisaran Langit, semakin mereka menyadari bahwa Pendeta Bayangan benar-benar mengetahui tempat itu.

Akhirnya, mereka tiba di sebuah penjara bawah tanah di kaki Gunung Langit. Di sana, mereka melihat kakek tua itu — terikat di kursi batu, dengan wajah memar dan luka. “Kakek!” teriak Lian Hua. Kakek tua itu mengangkat kepalanya, dan matanya berbinar melihat mereka. “Lian Hua… Lian Ying… kalian datang.” Lian Ying segera memotong tali yang mengikat kakek itu. “Kami akan mengeluarkanmu dari sini.” Namun sebelum mereka bisa bergerak, terdengar suara tawa yang dingin dari balik pintu. “Betapa mengharukan,” suara itu bergema. “Semua tikus berkumpul di satu tempat.”

Utusan Langit muncul di pintu penjara, diikuti oleh puluhan penjaga. “Kalian pikir kalian bisa menyusup ke markas kami tanpa ketahuan?” katanya dengan senyum sinis. “Kaisar Langit sudah menduga kalian akan datang ke sini.” Lian Ying mencabut pedangnya. “Kalau begitu, kita selesaikan ini sekarang.” Utusan Langit tertawa. “Kalian tidak akan bisa mengalahkan kami semua.” Namun Pendeta Bayangan melangkah maju. “Mungkin. Tetapi kita bisa mencoba.” Ia mengangkat tangannya, dan bayangan-bayangan mulai bergerak di sekelilingnya.

Pertarungan pun terjadi. Lian Hua dan Lian Ying bertarung dengan Pedang Bulan Kembar, sementara Pendeta Bayangan menggunakan ilmu silat bayangannya untuk melumpuhkan para penjaga. Kakek tua itu, meskipun lemah, juga ikut bertarung dengan sisa-sisa kekuatannya. Mereka bertarung dengan sengit, tetapi jumlah musuh terus bertambah. “Kita harus keluar dari sini!” teriak Lian Hua. Pendeta Bayangan mengangguk. “Aku akan membuka jalan!” Ia mengumpulkan seluruh kekuatan bayangannya dan melancarkan serangan yang menghancurkan dinding penjara. “SEKARANG!”

Mereka berlari keluar dari penjara, menerobos hutan yang gelap. Utusan Langit dan pasukannya terus mengejar mereka. “Jangan biarkan mereka kabur!” teriak Utusan Langit. Lian Hua dan Lian Ying berlari secepat mungkin, sementara Pendeta Bayangan melindungi mereka dari belakang. “Kakek, apakah kau baik-baik saja?” tanya Lian Hua. Kakek tua itu mengangguk lemah. “Aku baik-baik saja. Kalian harus terus maju. Jangan pedulikan aku.” Lian Ying menggeleng. “Kami tidak akan meninggalkanmu.”

Akhirnya, mereka berhasil mencapai sebuah sungai yang deras. “Kita harus menyeberang!” teriak Pendeta Bayangan. Mereka melompat ke sungai dan berenang ke seberang. Utusan Langit dan pasukannya berhenti di tepi sungai, tidak berani mengikuti. “Kalian tidak akan bisa bersembunyi selamanya!” teriak Utusan Langit. “Kaisar Langit akan menemukan kalian!” Lian Hua dan Lian Ying tidak menoleh. Mereka terus berenang sampai ke seberang, di mana mereka beristirahat di bawah pohon besar.

Explore additional categories

Explore