Akhirnya, mereka tiba di sebuah lembah yang tersembunyi di balik pegunungan. Di tengah lembah itu, berdiri sebuah istana yang megah — terbuat dari batu putih yang berkilau seperti salju, dengan atap berlapis emas dan menara-menara yang menjulang tinggi. “Ini adalah Istana Langit,” kata Utusan Langit itu. “Kaisar Langit menunggu di dalam.” Lian Hua dan Lian Ying terpesona oleh keindahan istana itu. Namun di dalam hati mereka, ada perasaan waspada. Istana itu terlalu sempurna, terlalu sunyi. Seolah-olah ada sesuatu yang tersembunyi di balik keindahannya.
Mereka memasuki istana, dan di dalam, mereka disambut oleh para pelayan yang mengenakan pakaian serba putih. Mereka dibawa ke sebuah aula besar, di mana seorang pria tua duduk di atas singgasana emas. Pria itu memiliki rambut putih yang panjang, wajah yang bijaksana, dan mata yang tajam seperti elang. “Selamat datang, Lian Hua dan Lian Ying,” katanya dengan suara yang dalam dan berwibawa. “Aku adalah Kaisar Langit.” Lian Hua dan Lian Ying membungkuk dengan hormat. “Kami datang memenuhi undanganmu, Yang Mulia.”
Kaisar Langit tersenyum. “Aku telah mendengar tentang kalian. Kalian adalah pemegang Pedang Bulan Kembar — pedang legendaris yang diciptakan oleh kakek buyut kalian. Aku ingin melihat pedang itu.” Lian Hua dan Lian Ying saling berpandangan. Lian Hua mengeluarkan Pedang Bulan Kembar dari sarungnya dan menunjukkannya kepada Kaisar Langit. Pedang itu berkilau dengan cahaya putih dan hitam yang bergantian. Kaisar Langit mengamatinya dengan mata berbinar. “Menakjubkan,” bisiknya. “Pedang ini memiliki kekuatan yang luar biasa. Tetapi juga… bahaya yang luar biasa.”
Kaisar Langit kemudian menjelaskan mengapa ia memanggil mereka. “Ada kekuatan gelap yang bangkit di dunia persilatan,” katanya. “Kekuatan itu lebih besar dari Sekte Bayangan Bulan, lebih besar dari Pendeta Bayangan. Kekuatan itu bernama Sekte Naga Langit — sebuah organisasi yang ingin menghancurkan Kekaisaran Langit dan menguasai dunia persilatan. Mereka telah mencuri banyak artefak kuno, dan sekarang mereka mencari Pedang Bulan Kembar.” Lian Hua terkejut. “Sekte Naga Langit? Apa hubungannya dengan kami?” Kaisar Langit menatapnya dengan mata tajam. “Mereka ingin menggunakan Pedang Bulan Kembar untuk membuka gerbang ke dunia kegelapan. Dan jika mereka berhasil… dunia ini akan hancur.”
Lian Ying mengepalkan tangannya. “Kita tidak akan membiarkan itu terjadi.” Kaisar Langit mengangguk. “Aku tahu kalian tidak akan. Itulah mengapa aku memanggil kalian ke sini. Aku ingin kalian bekerja sama dengan Kekaisaran Langit untuk menghentikan Sekte Naga Langit.” Lian Hua berpikir sejenak. “Kami bersedia membantu. Tetapi kami tidak ingin menjadi bawahan siapa pun. Kami akan bekerja sama, tetapi sebagai mitra.” Kaisar Langit tersenyum. “Aku menghargai kejujuranmu, Lian Hua. Baiklah. Kita akan bekerja sama sebagai mitra.”
Malam itu, Lian Hua dan Lian Ying dijamu dengan makan malam yang mewah di istana. Mereka duduk bersama Kaisar Langit dan para penasihatnya, membahas rencana untuk menghentikan Sekte Naga Langit. “Markas mereka berada di Gunung Naga Langit, di ujung utara dunia persilatan,” kata Kaisar Langit. “Mereka memiliki pasukan yang besar dan senjata yang kuat. Kalian tidak bisa menghadapi mereka sendirian.” Lian Hua mengangguk. “Kami mengerti. Kami akan bekerja sama dengan pasukanmu.” Lian Ying menambahkan, “Dan kami akan menunjukkan pada mereka bahwa Pedang Bulan Kembar bukanlah senjata yang bisa mereka mainkan.”
Namun, di tengah malam, ketika semua orang tertidur, Lian Hua terbangun karena merasakan sesuatu yang aneh. Ia keluar dari kamarnya dan berjalan menyusuri koridor istana. Di sana, ia melihat sesuatu yang mengejutkan: Utusan Langit sedang berbicara dengan seseorang di balik tirai. “Apakah mereka sudah percaya?” tanya suara itu. Utusan Langit mengangguk. “Ya. Mereka akan membawa Pedang Bulan Kembar ke Gunung Naga Langit. Rencana kita berjalan dengan baik.” Lian Hua terkesiap. Ia berlari kembali ke kamarnya dan membangunkan Lian Ying. “Kita harus pergi dari sini. Sekarang.”
