Earth, ElrolumNews – Selama puluhan tahun, dunia ilmu pengetahuan hampir tidak memiliki kabar tentang salah satu primata paling misterius di Indonesia.
Namanya kukang Bangka, atau Nycticebus bancanus.
Dalam catatan konservasi internasional, spesies ini bahkan pernah dianggap mungkin telah punah. Catatan ilmiah terakhir yang menjadi rujukan berada pada dekade 1930-an. Dalam Daftar Merah IUCN, kukang Bangka tercatat sebagai Critically Endangered (Possibly Extinct).
Namun ternyata ada sesuatu yang luput dari dunia ilmiah.
Kukang Bangka masih hidup.
Bukan karena sebuah ekspedisi besar menemukan koloni tersembunyi di tengah hutan.
Bukti itu justru datang dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: masyarakat Bangka yang melaporkan satwa yang mereka temukan, dan para penyelamat satwa yang selama bertahun-tahun merawatnya.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Spixiana pada Oktober 2026 menghimpun lebih dari 90 kukang Bangka yang diselamatkan antara 2015 hingga 2025. Sebanyak 86 individu kemudian dilepasliarkan ke habitat yang sesuai.
Kisah ini bukan sekadar tentang seekor primata yang “ditemukan kembali”.
Ini adalah cerita tentang bagaimana pengetahuan masyarakat dapat mengisi kekosongan dalam catatan ilmiah—dan bagaimana kesempatan menyelamatkan suatu spesies mungkin masih terbuka ketika kita belum terlambat.
Satwa yang Tidak Pernah Benar-Benar Hilang dari Bangka
Ada ironi besar dalam kisah kukang Bangka.
Bagi dunia ilmu pengetahuan, spesies ini seperti menghilang.
Bagi sebagian masyarakat Bangka, kenyataannya berbeda.
Selama bertahun-tahun, kukang tetap muncul di sekitar kehidupan manusia. Ada yang ditemukan di rumah, kebun, jalan, perkebunan, bahkan dalam kondisi terluka atau berada dalam penguasaan manusia.
Warga kemudian melaporkan keberadaan satwa tersebut kepada penyelamat satwa.
Alobi Wildlife Rescue Center, organisasi penyelamatan satwa di Bangka, mengumpulkan catatan tersebut selama bertahun-tahun.
Ketika data itu akhirnya dianalisis secara ilmiah, muncul gambaran yang sangat berbeda dari kesan bahwa spesies ini mungkin telah lenyap.
Kukang Bangka masih bertahan di Pulau Bangka.
Perbedaan antara “hilang dari ilmu pengetahuan” dan “hilang dari alam” menjadi sangat penting di sini.
Keduanya bukan hal yang sama.
Lebih dari 90 Individu, Tetapi Bukan Berarti Populasinya 90
Angka ini perlu dibaca dengan hati-hati.
Penelitian mencatat lebih dari 90 individu yang berhasil diselamatkan Alobi selama 2015–2025, dan 86 di antaranya dilepasliarkan kembali.
Tetapi angka tersebut bukan sensus populasi kukang Bangka.
Artinya, kita tidak boleh mengatakan bahwa hanya ada 90 kukang Bangka yang tersisa.
Sebaliknya, data tersebut menunjukkan bahwa ada jauh lebih banyak bukti keberadaan spesies ini daripada yang tercermin dalam catatan ilmiah selama beberapa dekade.
Para peneliti sendiri mendorong survei sistematis untuk mengetahui distribusi dan kondisi populasi yang sebenarnya.
Ini merupakan perbedaan kecil dalam kalimat, tetapi sangat besar dalam jurnalisme konservasi.
Data penyelamatan menunjukkan keberadaan; data survei populasi diperlukan untuk memperkirakan jumlah dan tren.
Dari Rumah, Kebun, Jalan hingga Kabel Listrik
Sebagian besar pertemuan manusia dengan kukang Bangka tidak terjadi di tempat yang ideal.
Satwa ini ditemukan di berbagai situasi yang memperlihatkan semakin dekatnya batas antara habitat alami dan ruang yang telah diubah manusia.
Ada yang masuk ke rumah dan kebun.
Ada yang ditemukan di jalan.
Ada yang berada dalam penangkaran atau perdagangan.
Ada pula yang mengalami luka, termasuk cedera akibat kabel listrik.
Keadaan ini memiliki dua sisi.
Di satu sisi, kemunculan kukang di sekitar permukiman membantu manusia menyadari bahwa spesies tersebut masih ada.
Di sisi lain, terlalu seringnya satwa liar muncul di ruang manusia dapat menunjukkan bahwa habitat alaminya semakin tertekan atau terfragmentasi.
Karena itu, penyelamatan individu memang penting.
Tetapi penyelamatan saja tidak cukup.
Hutan Bangka Menghadapi Tekanan
Pulau Bangka memiliki sejarah panjang aktivitas pertambangan timah.
Dalam beberapa tahun terakhir, perubahan penggunaan lahan juga menjadi perhatian konservasi, termasuk pembukaan lahan untuk perkebunan.
Tekanan tersebut membuat habitat alami kukang semakin terfragmentasi. Sumber konservasi yang membahas penelitian terbaru menyebut penambangan timah dan ekspansi perkebunan sebagai ancaman terhadap habitat spesies ini.
Masalahnya bukan sekadar kehilangan pohon.
Bagi primata nokturnal yang hidup di pepohonan, hutan yang terpecah menjadi potongan-potongan kecil dapat mengubah cara satwa bergerak, mencari makan, mencari pasangan, dan menghindari bahaya.
Jarak yang bagi manusia mungkin terlihat pendek dapat menjadi penghalang serius bagi satwa arboreal.
Apalagi jika di antara dua bagian hutan terdapat jalan, permukiman, perkebunan, atau jaringan listrik.
Kukang yang Memiliki Senjata Tak Biasa
Kukang Bangka merupakan primata kecil yang aktif pada malam hari.
Matanya yang besar membantu aktivitas dalam kondisi cahaya rendah.
Tetapi ada satu karakter biologis yang membuat kelompok kukang sangat unik.
Kukang merupakan satu-satunya kelompok primata yang diketahui memiliki mekanisme bisa.
Kelenjar di sekitar siku menghasilkan sekresi yang dapat menjadi berbahaya ketika bercampur dengan air liur. Mekanisme ini merupakan salah satu bentuk pertahanan alami kukang.
Karena itu, kukang bukan satwa yang seharusnya ditangkap atau diperlakukan seperti hewan peliharaan.
Sifat biologis tersebut juga mengingatkan kita bahwa satwa liar tidak dirancang untuk hidup dalam lingkungan domestik manusia.
Jika kukang masuk ke rumah atau kebun, tindakan terbaik bukan mencoba memeliharanya, melainkan menghubungi pihak yang memiliki kapasitas untuk melakukan penyelamatan dan penanganan satwa liar secara aman.
Mengapa Kukang Bisa “Hilang” Padahal Masyarakat Melihatnya?
Pertanyaan ini justru menjadi salah satu bagian paling menarik dari cerita ini.
Dalam ilmu pengetahuan, suatu spesies membutuhkan dokumentasi yang dapat diverifikasi.
Pertemuan masyarakat dengan satwa liar mungkin sangat berharga, tetapi selama tidak terdokumentasikan secara sistematis dan masuk ke literatur ilmiah, informasi tersebut dapat tetap berada di luar radar penelitian global.
Itulah yang terjadi dalam kasus kukang Bangka.
Alobi telah memiliki pengalaman lapangan selama bertahun-tahun.
Mereka menerima laporan, menyelamatkan satwa, merawatnya, dan melepaskan sebagian individu ke alam.
Namun data tersebut baru kemudian disusun menjadi bukti ilmiah yang dapat dibaca dan dievaluasi oleh komunitas penelitian internasional melalui publikasi Spixiana.
Dengan demikian, kisah kukang Bangka juga merupakan kisah tentang jembatan antara pengetahuan lokal dan ilmu pengetahuan formal.
Ketika Warga Menjadi Bagian dari Sistem Konservasi
Ada pelajaran penting bagi konservasi Indonesia di sini.
Tidak semua informasi biodiversitas harus bermula dari laboratorium.
Kadang informasi pertama datang dari seseorang yang melihat satwa di halaman rumah.
Seorang warga melapor.
Relawan datang.
Satwa diperiksa.
Lokasi dicatat.
Kondisinya didokumentasikan.
Kemudian data tersebut dapat menjadi bahan penelitian.
Rangkaian sederhana itu dapat menghasilkan sesuatu yang sangat besar.
Dalam kasus kukang Bangka, rangkaian laporan dan penyelamatan membantu memberikan bukti bahwa spesies yang lama dianggap mungkin telah hilang masih bertahan.
Karena itu, masyarakat bukan hanya “penonton” konservasi.
Mereka dapat menjadi bagian dari sistem deteksi dini terhadap perubahan biodiversitas.
Tetapi Kabar Baik Ini Belum Berarti Aman
Ada godaan untuk mengakhiri cerita dengan kalimat:
“Kukang Bangka ditemukan kembali, jadi semuanya baik-baik saja.”
Itu justru kesimpulan yang salah.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa spesies ini masih ada.
Tetapi ia juga menunjukkan bahwa spesies tersebut tetap berada sangat dekat dengan ancaman kepunahan.
Habitatnya menghadapi tekanan.
Sebagian individu ditemukan di lingkungan manusia.
Sebagian mengalami cedera.
Dan belum ada sensus populasi menyeluruh yang dapat menjawab berapa banyak kukang Bangka yang sebenarnya hidup di alam.
Dengan kata lain:
kita mendapatkan harapan, tetapi belum mendapatkan jaminan.
Langkah Berikutnya: Dari Bukti Menuju Perlindungan
Kini tantangan sebenarnya dimulai.
Para peneliti dan pegiat konservasi membutuhkan survei lapangan yang lebih sistematis untuk mengetahui distribusi kukang Bangka.
Pemantauan individu yang dilepasliarkan juga penting untuk mengetahui apakah satwa mampu bertahan dalam habitatnya.
Penelitian genetik dapat membantu memahami kondisi populasi dan hubungan antarindividu.
Dan yang paling mendasar, habitat yang tersisa harus tetap dijaga.
Re, yang memasukkan kukang Bangka dalam daftar primata yang sebelumnya “hilang” dari pengetahuan ilmiah, menekankan perlunya perlindungan hutan, survei sistematis, dan pengembangan strategi konservasi lebih lanjut.
Penemuan kembali dalam literatur hanyalah langkah pertama.
Tujuan akhirnya bukan membuat nama Nycticebus bancanus kembali terkenal.
Tujuan akhirnya adalah memastikan spesies tersebut tidak benar-benar hilang suatu hari nanti.
Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Kukang Bangka?
Ada satu kalimat yang mungkin paling tepat menggambarkan kisah ini:
Kukang Bangka tidak benar-benar hilang. Yang hilang adalah jejaknya dalam catatan ilmiah.
Masyarakat Bangka masih menjumpainya.
Para penyelamat satwa masih menanganinya.
Tetapi dunia ilmu pengetahuan tidak memiliki cukup bukti yang terdokumentasi untuk memastikan keberadaannya.
Kini celah itu mulai tertutup.
Dan dari celah tersebut muncul pelajaran yang lebih luas.
Indonesia memiliki ribuan pulau, berbagai tipe habitat, serta keanekaragaman hayati yang sangat besar.
Masih banyak hal yang mungkin belum terdokumentasi dengan baik.
Karena itu, konservasi tidak selalu dimulai dengan ekspedisi besar.
Kadang ia dimulai dengan satu laporan warga.
Satu satwa yang diselamatkan.
Satu catatan lokasi.
Satu foto.
Satu peneliti yang mau bertanya lebih jauh.
Dan akhirnya, satu publikasi yang mengubah apa yang kita pikir kita ketahui.
Jangan Terlalu Cepat Mengucapkan Selamat Tinggal
Kisah kukang Bangka memberi kita alasan untuk berhenti sejenak sebelum menyebut sebuah spesies “hilang”.
Hutan dapat menyembunyikan kehidupan selama puluhan tahun.
Masyarakat dapat menyimpan pengetahuan yang belum masuk buku ilmiah.
Dan sebuah populasi kecil dapat bertahan jauh lebih lama daripada yang kita perkirakan.
Tetapi cerita ini juga mengandung peringatan.
Ditemukan kembali bukan berarti diselamatkan.
Justru ketika sebuah spesies kembali terlihat setelah hampir seabad, kita mendapatkan kesempatan yang mungkin tidak datang untuk kedua kalinya.
Kesempatan untuk mencari tahu berapa banyak yang masih ada.
Kesempatan untuk menemukan hutan tempat mereka bertahan.
Kesempatan untuk memperbaiki perlindungan.
Kesempatan untuk memastikan anak-anak Indonesia kelak masih dapat melihat kukang Bangka bukan hanya dalam foto atau buku sejarah alam.
Karena mungkin inilah pelajaran paling penting dari Nycticebus bancanus:
alam terkadang memberi kita kesempatan kedua. Tetapi kesempatan kedua tidak boleh disia-siakan.
Sumber yang digunakan
Sani, L., Riadi, E., Septian, A., Menner, J., & Glaw, T. (2026). “Neglected but still alive: Further evidence for the continued existence of the Bangka Slow Loris (Nycticebus bancanus) on Bangka Island, Indonesia (Primates: Lorisidae).” Spixiana, 49(1), 119–128. Publikasi Oktober 2026.
Re, 20 Oktober 2026 — laporan mengenai rediscovery ilmiah kukang Bangka dan catatan lebih dari 90 individu yang diselamatkan Alobi.
Reuters, 20 Oktober 2026 — laporan mengenai keberadaan kembali Nycticebus bancanus, 86 individu yang telah dilepasliarkan, serta ancaman habitat.
Mongabay Indonesia, 25 Oktober 2026 — konteks konservasi kukang Bangka, catatan penyelamatan, serta kebutuhan survei dan perlindungan habitat.




