Dua Pohon Ara Endemik Jawa Tak Terlihat Lebih dari 60 Tahun, Kini Terancam Perubahan Iklim

Earth, Elrolumnews – Di tengah perhatian besar terhadap hutan Jawa yang semakin terfragmentasi, ada dua tumbuhan yang nyaris tidak terdengar dalam percakapan tentang keanekaragaman hayati: Ficus trachycoma dan Ficus miqueliana.

Keduanya merupakan pohon ara endemik Jawa yang telah lama menjadi teka-teki bagi para peneliti. Tidak ada catatan lapangan terkonfirmasi mengenai keduanya selama lebih dari enam dekade.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Reinwardtia pada 2026 kini memberikan gambaran baru. Dengan menggabungkan data herbarium, penilaian berdasarkan kriteria IUCN, serta pemodelan distribusi spesies menggunakan proyeksi iklim, para peneliti menemukan bahwa masa depan kedua tumbuhan ini dapat semakin terdesak oleh perubahan lingkungan.

- Advertisement -

Yang menarik, masalahnya bukan sekadar berkurangnya hutan. Perubahan iklim berpotensi menggeser wilayah yang sesuai untuk tumbuhan tersebut ke tempat yang lebih tinggi.

Dua spesies yang nyaris terlupakan

Ficus trachycoma dan Ficus miqueliana termasuk kelompok tumbuhan ara (Ficus), salah satu kelompok tumbuhan penting di ekosistem tropis.

- Advertisement -

Namun, informasi mengenai kedua spesies tersebut sangat terbatas.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari IPB University, BRIN, Royal Botanic Gardens Kew, dan sejumlah institusi lain, kedua spesies tidak memiliki catatan lapangan terkonfirmasi selama lebih dari 60 tahun. Karena keterbatasan data, peneliti menggunakan spesimen herbarium yang tervalidasi untuk memperkirakan persebaran historisnya.

Kondisi tersebut membuat pencarian kembali populasi di alam menjadi salah satu kebutuhan konservasi yang paling mendesak.

Sebab, tidak ditemukannya suatu tumbuhan dalam survei lapangan tidak otomatis berarti spesies tersebut telah punah.

Bisa saja populasinya memang sangat kecil, berada di lokasi yang sulit dijangkau, atau habitatnya telah berubah sehingga keberadaannya semakin sulit dilacak.

Ficus trachycoma: hanya tersisa jejak dari satu lokasi historis

Situasi Ficus trachycoma menjadi yang paling mengkhawatirkan.

Berdasarkan data herbarium yang dianalisis, spesies ini hanya dapat dikaitkan dengan satu lokasi historis dari abad ke-19. Penelitian memperkirakan extent of occurrence (EOO) dan area of occupancy (AOO) masing-masing hanya sekitar 4 km².

Dengan satu lokasi yang diketahui secara historis serta indikasi penurunan habitat, para peneliti menilai spesies ini memenuhi kriteria untuk kategori Critically Endangered (CR) berdasarkan kriteria IUCN.

Namun ada hal penting yang perlu dipahami.

Penilaian tersebut merupakan hasil asesmen ilmiah berdasarkan kriteria IUCN dalam penelitian, bukan berarti Ficus trachycoma otomatis sudah tercantum sebagai status resmi dalam IUCN Red List.

Perbedaan ini penting agar informasi konservasi tidak disederhanakan secara berlebihan.

Ficus miqueliana juga berada dalam kondisi rentan

Ficus miqueliana memiliki catatan persebaran yang lebih luas dibandingkan Ficus trachycoma, tetapi tetap menunjukkan keterbatasan serius.

Penelitian memperkirakan AOO sekitar 20 km² dan EOO sekitar 600 km², dengan tidak lebih dari lima lokasi yang diketahui serta adanya indikasi penurunan habitat.

Berdasarkan kriteria yang digunakan dalam penelitian, kondisi tersebut memenuhi ambang kategori Endangered (EN).

Model distribusi kemudian digunakan untuk melihat bukan hanya di mana habitat yang sesuai berada saat ini, tetapi bagaimana kemungkinan perubahan habitat tersebut pada masa mendatang.

Di sinilah persoalan perubahan iklim menjadi semakin menarik.

Ketika habitat tidak hilang, tetapi berpindah

Peneliti menggunakan model MaxEnt dan proyeksi iklim CMIP6 untuk melihat perubahan kesesuaian habitat pada skenario emisi berbeda.

Hasilnya menunjukkan bahwa habitat yang sesuai bagi Ficus miqueliana saat ini diperkirakan mencapai sekitar 16.233 km², atau sekitar 12,4 persen wilayah Jawa, terutama pada kawasan hutan dataran rendah dan kaki bukit yang terfragmentasi.

Namun, pemodelan menunjukkan kemungkinan terjadinya kontraksi habitat dan pergeseran ke wilayah yang lebih tinggi.

Pada pertengahan abad, model memproyeksikan kehilangan bersih habitat yang sesuai sekitar 9–11 persen di Jawa, bergantung pada skenario dan model iklim yang digunakan.

Pada akhir abad, sebagian habitat masih mungkin bertahan di kawasan pegunungan pada skenario emisi moderat. Tetapi dalam skenario emisi tinggi, habitat yang tersisa diproyeksikan menjadi semakin terfragmentasi.

Dengan kata lain, perubahan iklim tidak selalu bekerja dengan cara sederhana seperti “hutan hilang lalu tumbuhan ikut hilang”.

Dalam kasus tertentu, zona iklim yang cocok bagi suatu spesies dapat bergeser secara geografis dan elevasional.

Mengapa pohon ara penting?

Pohon ara bukan sekadar salah satu jenis pohon di hutan tropis.

Genus Ficus dikenal memiliki arti ekologis penting dalam ekosistem tropis karena buahnya dapat menjadi sumber makanan bagi berbagai organisme.

Karena itu, hilangnya spesies ara tertentu bukan hanya persoalan hilangnya satu nama dari daftar flora.

Ia berpotensi berkaitan dengan perubahan hubungan ekologis yang lebih luas.

Tetapi penelitian tentang Ficus trachycoma dan Ficus miqueliana juga menunjukkan sesuatu yang lebih mendasar: kita tidak dapat melindungi sesuatu yang bahkan belum kita pahami keberadaannya dengan baik.

Ketika sebuah spesies tidak lagi ditemukan dalam survei lapangan selama puluhan tahun, langkah pertama bukan langsung menyimpulkan kepunahan.

Langkah pertama adalah mencari.

Pencarian kembali menjadi sangat penting

Para peneliti merekomendasikan program verifikasi lapangan dan pencarian kembali populasi sebagai prioritas.

Wilayah yang diperkirakan tetap memiliki kondisi iklim yang sesuai dapat menjadi sasaran penting untuk ekspedisi berikutnya.

Untuk Ficus trachycoma, bahkan penemuan kembali satu populasi kecil akan memiliki nilai ilmiah dan konservasi yang sangat besar karena informasi mengenai keberadaan aktual spesies ini sangat terbatas.

Penelitian juga merekomendasikan perhatian lebih besar terhadap hutan pegunungan, wilayah yang berpotensi menjadi refugia iklim, serta konektivitas habitat pada berbagai ketinggian.

Koridor hutan bukan hanya untuk satwa

Istilah koridor satwa biasanya lebih sering dikaitkan dengan mamalia seperti orangutan, gajah, harimau, atau badak.

Tetapi penelitian ini memperlihatkan mengapa konektivitas lanskap juga penting bagi tumbuhan.

Jika kondisi iklim yang sesuai bergeser ke wilayah lebih tinggi, populasi tumbuhan membutuhkan ruang dan jalur habitat yang memungkinkan penyebaran ke kawasan baru.

Hutan yang terputus-putus dapat membuat proses tersebut semakin sulit.

Karena itu, mempertahankan hubungan antara hutan dataran rendah, perbukitan, hingga kawasan pegunungan dapat menjadi bagian penting dari strategi konservasi yang menghadapi perubahan iklim.

Ada satu pelajaran penting dari dua pohon yang hampir terlupakan

Kisah Ficus trachycoma dan Ficus miqueliana menunjukkan bahwa krisis biodiversitas tidak selalu hadir dalam bentuk yang dramatis.

Tidak selalu ada suara kebakaran.

Tidak selalu ada gambar satwa yang terluka.

Tidak selalu ada penebangan yang terlihat jelas.

Kadang-kadang, krisis itu muncul sebagai ketiadaan.

Sebuah tumbuhan tidak lagi ditemukan.

Catatan terakhirnya semakin tua.

Hutan tempatnya pernah tercatat berubah.

Dan perlahan, sebuah spesies dapat menghilang dari perhatian manusia sebelum kita benar-benar mengetahui apa yang telah hilang.

Karena itu, konservasi biodiversitas bukan hanya tentang menyelamatkan spesies yang sudah terkenal.

Ia juga tentang mencari kembali yang terlupakan, menjaga habitat yang tersisa, dan memastikan bahwa perubahan iklim tidak membuat ruang hidup suatu spesies bergerak lebih cepat daripada kemampuan kita untuk melindunginya.

Ficus trachycoma dan Ficus miqueliana memperlihatkan betapa kompleksnya tantangan konservasi flora Jawa.

Keduanya telah lama kehilangan catatan lapangan yang terkonfirmasi, sementara analisis terbaru menunjukkan bahwa kehilangan habitat dan perubahan iklim dapat semakin mempersempit ruang hidup yang sesuai bagi mereka.

Penelitian ini sekaligus memberikan arah yang jelas: pencarian lapangan perlu dilakukan kembali, hutan pegunungan dan habitat yang masih sesuai perlu diprioritaskan, dan konektivitas antarkawasan harus dipertahankan.

Sebab, dalam dunia yang iklimnya berubah, menyelamatkan tumbuhan tidak cukup hanya dengan mempertahankan tempat ia hidup hari ini.

Kita juga harus memikirkan tempat ia mungkin membutuhkan untuk bertahan hidup esok hari.

Sumber yang digunakan
  1. Risna, R. A., dkk. (2026). Climate-driven Range Shifts Threaten Keystone Endemic Figs of Java: Complementing IUCN Red List Assessment with Species Distribution Modelling to Guide Conservation Priorities. Reinwardtia 25(1): 49–63, BRIN Publishing. DOI: 10.55981/reinwardtia.2026.635.
  2. BRIN Publishing / Reinwardtia, Volume 25 No. 1 (2026), publikasi ilmiah dan metadata artikel.
  3. Garuda Kemdiktisaintek, metadata dan abstrak artikel penelitian terkait.

 

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif. Proyeksi habitat berdasarkan model iklim merupakan perkiraan ilmiah berdasarkan skenario tertentu, bukan kepastian mengenai kondisi habitat di masa depan.

Share:

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Iklan

Terkait
Tiga spesies baru dari genus Homalomena, yaitu Homalomena boesenbergiifolia, H. trigona, dan H. widyatmokoi, resmi dideskripsikan dari Indonesia pada Oktober 2026.

Tiga Tumbuhan Baru Indonesia Ditemukan dari Tanaman yang Sudah...

Earth, ElrolumNews - Sebuah tanaman yang sudah lama tumbuh dalam pot atau rumah pembibitan mungkin tampak seperti...
Bulbophyllum alsiosum, anggrek yang sebelumnya dikenal dari Filipina dan kini tercatat untuk pertama kalinya di Indonesia setelah ditemukan di hutan pegunungan Sulawesi.

Anggrek yang Dikira Hanya Milik Filipina Ternyata Ditemukan di...

Earth, ElrolumNews - Selama lebih dari satu abad, Bulbophyllum alsiosum dikenal sebagai anggrek yang berasal dari Filipina.Kini,...
Tomiyamichthys oriens, spesies shrimp goby baru yang dideskripsikan dari perairan pesisir Banyuwangi, Jawa Timur, dengan lima bercak oranye khas pada tubuhnya.

Ikan Kecil dengan Lima Bercak Oranye: Spesies Baru Ditemukan...

Earth, ElrolumNews - Seekor ikan kecil dari perairan Banyuwangi, Jawa Timur, kini memiliki identitas ilmiah baru.Namanya Tomiyamichthys...
Advertisement

Lainnya

Popular