PEDANG BULAN KEMBAR: Utusan Kekaisaran Langit dan Ancaman Baru di Dunia Persilatan

Episode 4: “Utusan Kekaisaran Langit”

Sastra/FIksi, ElrolumNews – Tiga hari setelah pertempuran di Kuil Bulan, Lian Hua dan Lian Ying kembali ke Desa Bulan untuk beristirahat. Mereka disambut dengan hangat oleh penduduk desa, yang telah mendengar tentang kemenangan mereka melawan Pendeta Bayangan. Kakek tua yang dulu menjadi sahabat Guru Lin menyambut mereka dengan senyum lebar. “Kalian telah melakukan hal yang luar biasa,” katanya. “Dunia persilatan berhutang budi pada kalian.” Lian Hua tersenyum dengan rendah hati, sementara Lian Ying menyeringai bangga. “Kami hanya melakukan apa yang benar,” kata Lian Hua.

Malam itu, mereka duduk di beranda rumah kakek tua itu, menikmati teh hangat dan pemandangan bulan yang bersinar terang. “Apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Lian Ying. Lian Hua berpikir sejenak. “Aku tidak tahu. Mungkin kita bisa menjelajahi dunia persilatan, membantu orang-orang yang membutuhkan.” Lian Ying mengangguk. “Aku suka ide itu. Kita bisa menjadi pendekar pengembara — seperti yang diceritakan dalam legenda.” Mereka berdua tertawa, menikmati momen kedamaian yang jarang mereka rasakan.

Namun kedamaian itu tidak berlangsung lama. Keesokan paginya, ketika matahari baru saja terbit, terdengar suara gemuruh dari arah gerbang desa. Lian Hua dan Lian Ying bergegas keluar, dan mereka melihat sesuatu yang mengejutkan: seorang pria tinggi dengan zirah emas dan putih, menunggangi kuda putih yang besar, berdiri di depan gerbang desa. Di tangannya, ia memegang gulungan emas dengan segel kekaisaran. “Siapa kau?” tanya Lian Ying dengan tangan di gagang pedangnya. Pria itu turun dari kudanya dan membungkuk. “Aku adalah Utusan Langit, utusan dari Kekaisaran Langit. Aku datang membawa pesan untuk Lian Hua dan Lian Ying.”

Lian Hua melangkah maju. “Aku Lian Hua. Apa pesan itu?” Utusan Langit itu mengulurkan gulungan emas. “Kaisar Langit meminta kalian untuk menghadap ke istananya. Ia ingin bertemu dengan pemegang Pedang Bulan Kembar.” Lian Ying mengerutkan kening. “Kaisar Langit? Siapa dia? Dan mengapa ia ingin bertemu dengan kami?” Utusan Langit itu tersenyum tipis. “Kaisar Langit adalah penguasa dunia persilatan. Ia mengawasi semua yang terjadi, dan ia ingin memastikan bahwa Pedang Bulan Kembar tidak jatuh ke tangan yang salah.” Lian Hua dan Lian Ying saling berpandangan. “Apakah ini undangan, atau perintah?” tanya Lian Hua. Utusan itu mengangguk. “Ini adalah undangan. Tetapi Kaisar Langit tidak suka menunggu.”

Setelah Utusan Langit itu pergi, Lian Hua dan Lian Ying berdiskusi dengan kakek tua itu. “Aku pernah mendengar tentang Kekaisaran Langit,” kata kakek tua itu dengan wajah serius. “Mereka adalah organisasi rahasia yang mengawasi dunia persilatan. Konon, mereka memiliki kekuatan yang luar biasa — bahkan lebih besar dari Sekte Bayangan Bulan. Kaisar Langit adalah pemimpin mereka, dan ia dikenal sebagai orang yang bijaksana tetapi juga tegas.” Lian Ying mengerutkan kening. “Apakah kita harus pergi?” Kakek tua itu menghela napas. “Aku sarankan kalian pergi. Jika kalian menolak, Kaisar Langit mungkin akan menganggap kalian sebagai ancaman.”

Lian Hua dan Lian Ying memutuskan untuk pergi ke Kekaisaran Langit. Mereka berpamitan dengan kakek tua itu dan penduduk desa, yang mendoakan keselamatan mereka. “Hati-hati,” kata kakek tua itu. “Kekaisaran Langit bukanlah tempat yang bisa dianggap remeh. Mereka memiliki mata di mana-mana.” Lian Hua mengangguk. “Kami akan berhati-hati.” Lian Ying menambahkan, “Dan jika mereka mencoba sesuatu, mereka akan menyesal.” Mereka berdua berangkat, mengikuti Utusan Langit yang telah menunggu di luar desa.

Perjalanan menuju Kekaisaran Langit memakan waktu tujuh hari tujuh malam. Mereka melewati pegunungan yang tinggi, lembah yang dalam, dan hutan yang lebat. Di sepanjang perjalanan, Utusan Langit itu tidak banyak bicara. Ia hanya menunjukkan jalan dan sesekali memberikan petunjuk. Lian Hua memperhatikan bahwa utusan itu selalu waspada — matanya terus mengawasi sekeliling, seolah-olah ada sesuatu yang mengintai. “Apakah ada sesuatu yang harus kami ketahui?” tanya Lian Hua. Utusan itu terdiam sejenak, lalu berkata, “Ada banyak orang yang ingin memiliki Pedang Bulan Kembar. Kalian harus waspada.”

Explore additional categories

Explore