Optimasi Tidur, ElrolumNews – Mendengkur adalah suara yang dihasilkan ketika udara mengalir melalui saluran napas yang menyempit selama tidur. Hampir semua orang pernah mendengkur pada suatu waktu. Sebagian menganggapnya sebagai hal normal, bahkan bahan lelucon. Tapi tidak semua dengkuran tidak berbahaya. Dalam beberapa kasus, mendengkur bisa menjadi tanda pertama dari kondisi serius yang disebut sleep apnea.
American Academy of Sleep Medicine (AASM) mencatat bahwa mendengkur adalah gejala paling umum dari obstructive sleep apnea (OSA). Namun, tidak semua orang yang mendengkur mengalami sleep apnea, dan tidak semua sleep apnea disertai dengkuran. Memahami perbedaannya penting untuk menentukan kapan dengkuran perlu mendapat perhatian medis.
Mengapa Orang Mendengkur
Mendengkur terjadi ketika aliran udara melalui saluran napas menjadi terhalang. Selama tidur, otot-otot di belakang tenggorokan rileks, termasuk lidah dan langit-langit lunak. Ketika otot-otot ini rileks, saluran napas menyempit. Udara yang melewati saluran yang sempit membuat jaringan bergetar, menghasilkan suara dengkuran.
Sebuah tinjauan yang diterbitkan di Sleep Medicine Reviews menjelaskan bahwa intensitas dengkuran bergantung pada seberapa sempit saluran napas dan seberapa cepat udara mengalir melaluinya.
Semakin sempit saluran napas, semakin keras dengkuran. Pada beberapa orang, saluran napas bisa tersumbat sepenuhnya, menyebabkan pernapasan berhenti sementara. Ini yang disebut sleep apnea.
Mendengkur Normal vs Mendengkur yang Perlu Diperiksa
Tidak semua dengkuran sama. Ada dengkuran yang tidak berbahaya, dan ada yang merupakan tanda kondisi serius.
Mendengkur yang umumnya tidak berbahaya:
Terjadi sesekali, terutama setelah kelelahan ekstrem atau konsumsi alkohol
Tidak disertai gangguan pernapasan
Tidak disertai kantuk berlebihan di siang hari
Tidak disertai terbangun dengan tersedak atau terengah-engah
Intensitasnya ringan dan stabil
Tidak mengganggu kualitas tidur orang yang mendengkur
Mendengkur yang perlu diperiksa:
Terjadi hampir setiap malam, dalam waktu lama
Sangat keras, terdengar dari ruangan lain
Disertai henti napas yang disaksikan pasangan
Disertai terbangun dengan tersedak atau terengah-engah
Disertai kantuk berlebihan di siang hari
Disertai sakit kepala pagi hari
Disertai mulut kering saat bangun
Disertai perubahan mood atau konsentrasi
Disertai tekanan darah tinggi yang sulit dikontrol
American Academy of Sleep Medicine menekankan bahwa dengkuran yang disertai gejala tambahan seperti henti napas atau kantuk berlebihan perlu evaluasi medis.
Mendengkur dan Sleep Apnea
Sleep apnea adalah kondisi di mana pernapasan berhenti dan mulai berulang selama tidur. Ini terjadi ketika saluran napas tersumbat sepenuhnya, biasanya selama 10 detik atau lebih. Otak kemudian membangunkan seseorang untuk membuka saluran napas, dan siklus ini berulang sepanjang malam.
Sebuah tinjauan yang diterbitkan di The Lancet Respiratory Medicine mencatat bahwa sleep apnea memengaruhi sekitar 1 miliar orang dewasa di seluruh dunia, dengan 425 juta kasus sedang hingga berat.
Mendengkur adalah gejala paling umum dari sleep apnea, tetapi tidak semua orang yang mendengkur mengalami sleep apnea. Sebaliknya, tidak semua orang dengan sleep apnea mendengkur. Faktor lain, seperti gejala siang hari dan faktor risiko, penting untuk menilai apakah dengkuran merupakan tanda sleep apnea.
Lihat artikel kami tentang Sleep Apnea untuk penjelasan lengkap.
Faktor Risiko Mendengkur
Beberapa faktor meningkatkan risiko seseorang mendengkur:
Obesitas.
Lemak di leher dan perut meningkatkan tekanan pada saluran napas.Jenis kelamin.
Pria lebih mungkin mendengkur dibandingkan wanita, meskipun risiko wanita meningkat setelah menopause.Usia.
Otot-otot tenggorokan menjadi lebih rileks seiring usia, meningkatkan risiko dengkuran.Anatomi.
Leher pendek dan tebal, rahang kecil, atau amandel yang membesar meningkatkan risiko.Hidung tersumbat.
Alergi, sinusitis, atau kelainan struktur hidung dapat memperburuk dengkuran.Alkohol dan sedatif.
Alkohol dan obat penenang merelaksasi otot tenggorokan, memperburuk dengkuran.Merokok.
Merokok meningkatkan peradangan dan retensi cairan di saluran napas.Riwayat keluarga.
Mendengkur dan sleep apnea cenderung menurun dalam keluarga.
Dampak Mendengkur
Mendengkur bukan hanya mengganggu pasangan. Dalam beberapa kasus, ia dapat berdampak pada kesehatan orang yang mendengkur.
Kualitas tidur.
Mendengkur dapat mengganggu kualitas tidur, bahkan jika orang tersebut tidak terbangun sepenuhnya.Kantuk siang hari.
Mendengkur yang disertai sleep apnea dapat menyebabkan kantuk berlebihan di siang hari.Kesehatan kardiovaskular.
Sleep apnea, yang sering disertai dengkuran, berhubungan dengan hipertensi, penyakit jantung, dan stroke.Kesehatan mental.
Gangguan tidur akibat dengkuran dapat memengaruhi mood dan fungsi kognitif.Hubungan.
Dengkuran dapat mengganggu tidur pasangan, yang dapat memengaruhi kualitas hubungan.
Cara Mengurangi Mendengkur
Jika dengkuran Anda ringan dan tidak disertai gejala serius, ada beberapa langkah yang bisa membantu:
Turunkan berat badan jika perlu.
Penurunan berat badan dapat mengurangi lemak di leher dan memperbaiki aliran udara.Hindari alkohol dan sedatif sebelum tidur.
Keduanya merelaksasi otot tenggorokan dan memperburuk dengkuran.Berhenti merokok.
Merokok meningkatkan peradangan dan retensi cairan di saluran napas.Tidur miring.
Tidur telentang membuat lidah dan langit-langit lunak jatuh ke belakang, mempersempit saluran napas. Tidur miring dapat mengurangi dengkuran.Tinggikan kepala tempat tidur.
Meninggikan kepala tempat tidur sekitar 10-15 cm dapat membantu menjaga saluran napas tetap terbuka.Jaga hidung tetap bersih.
Jika Anda memiliki alergi atau hidung tersumbat, mengobatinya dapat membantu.Gunakan nasal strips atau oral appliances.
Produk seperti nasal strips dapat membantu membuka saluran napas. Oral appliances, yang dipakai di mulut, dapat memajukan rahang bawah dan menjaga saluran napas tetap terbuka.
Mitos tentang Mendengkur
Mitos 1: Mendengkur itu normal.
Fakta: Mendengkur sesekali mungkin normal, tetapi dengkuran yang sering dan keras bisa menjadi tanda sleep apnea.
Mitos 2: Mendengkur hanya terjadi pada orang gemuk.
Fakta: Meskipun obesitas adalah faktor risiko utama, mendengkur juga terjadi pada orang kurus, terutama karena faktor anatomi.
Mitos 3: Mendengkur tidak berbahaya.
Fakta: Mendengkur yang disertai sleep apnea berhubungan dengan penyakit jantung, stroke, dan diabetes.
Mitos 4: Mendengkur tidak bisa diatasi.
Fakta: Banyak kasus dengkuran dapat dikurangi dengan perubahan gaya hidup atau alat bantu.
Mitos 5: Mendengkur hanya mengganggu pasangan.
Fakta: Mendengkur juga dapat mengganggu kualitas tidur orang yang mendengkur, dan dalam kasus sleep apnea, berdampak pada kesehatan secara keseluruhan.
Kapan Harus ke Dokter?
Konsultasikan ke dokter atau spesialis tidur jika:
Anda mendengkur hampir setiap malam
Dengkuran Anda sangat keras, terdengar dari ruangan lain
Pasangan Anda menyaksikan Anda berhenti bernapas saat tidur
Anda terbangun dengan tersedak atau terengah-engah
Anda merasa kantuk berlebihan di siang hari
Anda mengalami sakit kepala pagi hari
Anda memiliki tekanan darah tinggi yang sulit dikontrol
Anda memiliki riwayat sleep apnea dalam keluarga
Untuk memahami kapan gangguan tidur perlu dievaluasi secara medis, lihat panduan lengkap kami tentang gangguan tidur.
Catatan: Artikel ini ditujukan untuk memberikan informasi kesehatan umum dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran dari tenaga kesehatan. Jika gangguan tidur berlangsung terus-menerus atau mengganggu aktivitas sehari-hari, konsultasikan kondisi Anda kepada tenaga kesehatan.
Referensi
American Academy of Sleep Medicine. (2014). International Classification of Sleep Disorders, Third Edition (ICSD-3). AASM.
Benjafield, A. V., et al. (2019). Estimation of the global prevalence and burden of obstructive sleep apnoea: A literature-based analysis. The Lancet Respiratory Medicine, 7(8), 687-698. Elsevier.
Young, T., et al. (2002). Epidemiology of obstructive sleep apnea: A population health perspective. American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine, 165(9), 1217-1239.
Hoffstein, V. (2002). Snoring. Chest, 122(5), 1727-1731. Elsevier.
Pevernagie, D., et al. (2010). The acoustics of snoring. Sleep Medicine Reviews, 14(2), 131-144. Elsevier.
Deary, V., et al. (2014). Simple snoring: A systematic review of the literature on the prevalence, risk factors, and consequences. Sleep Medicine Reviews, 18(6), 509-519. Elsevier.
Stradling, J. R., & Crosby, J. H. (1991). Predictors and prevalence of obstructive sleep apnoea and snoring in 1001 middle aged men. Thorax, 46(2), 85-90. BMJ.
Young, T., et al. (1993). The occurrence of sleep-disordered breathing among middle-aged adults. New England Journal of Medicine, 328(17), 1230-1235.
Peppard, P. E., et al. (2000). Longitudinal study of moderate weight change and sleep-disordered breathing. JAMA, 284(23), 3015-3021. American Medical Association.
Nakano, H., et al. (2003). Effects of body position on snoring and sleep apnea. Sleep, 26(4), 461-464. Oxford Academic.




