Mengapa Kebakaran Gambut Begitu Berbahaya bagi Satwa? Kerusakannya Bisa Bertahan Bertahun-tahun

Earth, ElrolumNews –

Ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pepohonan yang terlihat dari permukaan.

Di bawah kaki kita mungkin terdapat lapisan gambut yang menyimpan air, akar, bahan organik, dan kehidupan yang terbentuk selama waktu yang sangat panjang.

Ketika gambut mengering lalu terbakar, kerusakan dapat berlangsung jauh lebih lama daripada kobaran api yang terlihat.

Bagi satwa liar, persoalannya bukan hanya kematian akibat api.

Habitat dapat berubah.

Sumber makanan berkurang.

Air menjadi tercemar.

Vegetasi berubah.

Dan ketika kebakaran berulang, hutan dapat kehilangan kemampuan untuk kembali seperti semula.

Penelitian terhadap ekosistem gambut tropis Indonesia menunjukkan bahwa kebakaran berintensitas tinggi dapat menyebabkan penurunan besar pada struktur habitat dan keanekaragaman hayati. Dampaknya tidak hanya terjadi segera setelah api padam, tetapi dapat terus terasa dalam proses pemulihan selama bertahun-tahun.

Gambut bukan sekadar tanah basah

Gambut terbentuk dari akumulasi bahan tumbuhan yang mengalami pembusukan secara sangat lambat dalam kondisi jenuh air dan minim oksigen.

Lapisan ini dapat menjadi sangat tebal dan menyimpan sejumlah besar karbon.

Namun, ada karakter penting yang sering terlupakan:

gambut yang sehat membutuhkan air.

Ketika lahan gambut dikeringkan melalui kanal atau perubahan tata guna lahan, kondisi alaminya berubah. Muka air turun, bahan organik menjadi lebih kering, dan risiko kebakaran meningkat.

Penelitian berskala nasional yang diterbitkan pada 2026 menunjukkan bahwa gambut yang masih utuh memiliki respons berbeda terhadap kebakaran dibandingkan gambut yang telah dimodifikasi manusia. Gambut utuh dengan hidrologi yang masih baik cenderung mempertahankan tutupan pohon lebih baik karena muka air yang tinggi membantu meredam intensitas api.

Dengan kata lain, air adalah salah satu pertahanan alami gambut terhadap api.

Mengapa api di gambut bisa begitu sulit dikendalikan?

Pada ekosistem biasa, api sering terlihat menjalar di permukaan.

Pada gambut yang kering, persoalannya dapat lebih rumit.

Api dapat masuk ke lapisan organik di bawah permukaan dan membara perlahan. Karena itu, api gambut tidak selalu terlihat sebagai kobaran besar, tetapi dapat terus membakar material organik di bawah tanah dan muncul kembali ketika kondisi mendukung.

Kondisi tersebut membuat pemadaman dan pemulihan menjadi jauh lebih sulit.

Penelitian mengenai indikator keberhasilan restorasi gambut Indonesia pada 2026 mencatat bahwa ketika muka air cukup rendah dan kelembapan gambut turun melewati ambang tertentu, kebakaran dapat masuk ke lapisan tanah gambut.

Inilah salah satu alasan mengapa membasahi permukaan saja tidak selalu menyelesaikan persoalan.

Kondisi hidrologi seluruh ekosistem harus diperhatikan.

Satwa kehilangan lebih dari sekadar tempat tinggal

Bagi satwa liar, habitat bukan hanya “rumah”.

Habitat adalah keseluruhan sistem yang menyediakan makanan, tempat berlindung, air, tempat berkembang biak, dan jalur pergerakan.

Ketika hutan gambut terbakar, semua komponen tersebut dapat berubah sekaligus.

Pohon besar dapat mati.

Tajuk hutan terbuka.

Suhu permukaan meningkat.

Semak dan tumbuhan pionir menggantikan vegetasi hutan.

Serangga yang bergantung pada kondisi hutan tertentu dapat menghilang.

Satwa yang memakan tumbuhan atau serangga tersebut kemudian menghadapi masalah yang sama.

Penelitian jangka panjang di sebuah hutan gambut tropis Indonesia menemukan bahwa kawasan terbakar mengalami perubahan besar pada struktur habitat dan kondisi mikroklimat. Kepadatan pohon, tutupan tajuk, serta sejumlah indikator biodiversitas mengalami penurunan. Dampak paling nyata ditemukan pada kelompok seperti pohon, capung jarum, kupu-kupu, dan spesies yang bergantung pada hutan.

Karena itu, satu kebakaran dapat memengaruhi banyak tingkat kehidupan sekaligus.

Dampaknya bisa menjalar sampai ke sungai

Kebakaran hutan juga tidak berhenti pada batas daratan.

Ketika vegetasi dan struktur tanah berubah, kualitas air dapat ikut terdampak.

Penelitian selama 16 tahun pada ekosistem gambut Indonesia menemukan bahwa kebakaran dapat memengaruhi kualitas air dan dalam beberapa kasus berkaitan dengan penurunan populasi ikan setelah kejadian kebakaran.

Hal ini menunjukkan bahwa ekosistem gambut harus dipandang sebagai satu kesatuan.

Hutan, tanah, air, tumbuhan, serangga, ikan, burung, dan mamalia tidak berdiri sendiri.

Ketika salah satu bagian berubah secara drastis, bagian lain dapat ikut menerima dampaknya.

Kebakaran berulang adalah persoalan yang lebih serius

Satu kali kebakaran sudah dapat merusak ekosistem.

Namun, kebakaran berulang dapat membuat persoalannya jauh lebih sulit.

Penelitian di gambut Kalimantan Tengah yang diterbitkan pada 2026 menemukan bahwa lokasi yang mengalami kebakaran dengan tingkat keparahan sedang hingga tinggi memiliki kekayaan dan keragaman spesies yang lebih rendah. Vegetasi juga semakin didominasi jenis pionir yang lebih tahan terhadap gangguan.

Dalam kondisi seperti itu, hutan tidak hanya kehilangan pohon.

Komposisi ekosistemnya berubah.

Spesies yang sebelumnya mendominasi dapat menghilang atau berkurang, sementara tumbuhan yang lebih tahan terhadap gangguan mengambil tempat.

Jika kebakaran kembali terjadi sebelum ekosistem pulih, proses regenerasi dapat semakin sulit.

Tidak semua gambut memiliki risiko yang sama

Ini bagian penting yang sering hilang dalam pemberitaan mengenai kebakaran gambut.

Gambut yang masih utuh tidak selalu merespons kebakaran dengan cara yang sama seperti gambut yang sudah dikeringkan dan dimodifikasi.

Penelitian nasional yang menggunakan data kebakaran selama dua dekade menunjukkan bahwa gambut yang masih memiliki integritas hidrologis lebih mampu mempertahankan tutupan pohon dibandingkan gambut yang telah mengalami modifikasi.

Ini berarti menjaga gambut tetap basah bukan hanya persoalan mempertahankan air.

Ini juga merupakan bagian dari strategi mempertahankan hutan dan biodiversitas.

Ketika kanal mengeringkan gambut, manusia secara tidak langsung dapat menghilangkan salah satu mekanisme perlindungan alami ekosistem tersebut.

Restorasi ternyata bisa mengurangi risiko kebakaran

Ada kabar baik di balik persoalan tersebut.

Restorasi gambut bukan sekadar kegiatan menanam pohon.

Salah satu pendekatan penting adalah memulihkan kondisi hidrologi.

Penelitian 2026 yang diterbitkan di Geophysical Research Letters menemukan bahwa restorasi gambut melalui pembangunan sekat kanal dan penggunaan sumur dalam untuk pembasahan kembali berkaitan dengan penurunan kepadatan hotspot pada periode tertentu. Dalam kawasan restorasi yang dianalisis untuk periode 2015–2019, kedua metode tersebut secara bersama-sama berkontribusi terhadap sekitar 38 persen penurunan hotspot yang diamati.

Namun, para peneliti juga menemukan bahwa efektivitas restorasi tidak selalu sama dalam setiap kondisi iklim dan tahun.

Artinya, restorasi bukan tombol ajaib.

Keberhasilannya dipengaruhi kondisi ekosistem, cuaca, bentuk intervensi, dan pengelolaan kawasan.

Pohon dapat tumbuh kembali, tetapi hutan belum tentu langsung pulih

Salah satu kesalahpahaman tentang pemulihan hutan adalah menganggap bahwa ketika tanaman hijau mulai muncul, ekosistem sudah kembali seperti sebelumnya.

Tidak sesederhana itu.

Penelitian di gambut Indonesia menemukan adanya tanda-tanda pemulihan vegetasi dalam periode hingga 12 tahun setelah kebakaran. Namun, kawasan yang terbakar tetap dapat mengalami perubahan struktur dan fungsi ekosistem dalam jangka panjang, terutama ketika kebakaran kembali terjadi.

Bayangkan sebuah hutan yang sebelumnya memiliki pohon-pohon besar, tajuk rapat, kelembapan tinggi, serta berbagai jenis satwa.

Beberapa tahun setelah terbakar, mungkin sudah terlihat banyak tumbuhan hijau.

Tetapi belum tentu terdapat struktur hutan yang sama.

Belum tentu pohon tua kembali.

Belum tentu serangga hutan kembali.

Belum tentu burung yang membutuhkan tajuk tinggi kembali.

Dan belum tentu populasi satwa yang sebelumnya hidup di sana telah pulih.

Hijau kembali tidak selalu berarti pulih kembali.

Satwa yang selamat dari api tetap menghadapi masalah

Satwa liar yang berhasil melarikan diri dari kebakaran belum tentu aman.

Mereka mungkin kehilangan wilayah jelajah.

Mereka dapat dipaksa masuk ke habitat lain.

Persaingan mendapatkan makanan bisa meningkat.

Risiko konflik dengan manusia juga dapat bertambah.

Kementerian Kehutanan mencatat bahwa perlindungan satwa liar menjadi bagian dari penanganan dampak bencana alam dan melaporkan 254 individu satwa dalam keseluruhan penanganan dampak bencana alam sepanjang 2026 hingga akhir September.

Di Kalimantan Selatan, misalnya, otoritas konservasi melaporkan bahwa kebakaran hutan dan lahan menjadi ancaman serius bagi satwa liar. Data yang dikutip KSDAE mencatat ribuan kejadian karhutla di provinsi tersebut hanya dalam periode 1–14 September 2026.

Ini menunjukkan bahwa dampak kebakaran bukan hanya persoalan luas lahan yang terbakar.

Yang juga penting adalah apa yang terjadi pada kehidupan yang bergantung pada lahan tersebut.

Mengapa mencegah kebakaran lebih penting daripada sekadar memadamkannya?

Karena biaya ekologis kebakaran bisa jauh lebih panjang daripada masa hidup apinya.

Memadamkan api menyelesaikan keadaan darurat.

Tetapi mencegah gambut menjadi kering membantu mencegah kondisi yang memungkinkan api muncul dan menyebar.

Penelitian tentang pengelolaan gambut Indonesia menunjukkan bahwa pendekatan yang lebih efektif menggabungkan pembasahan kembali, revegetasi, pengelolaan teknis, pemantauan, serta keterlibatan masyarakat.

Penelitian tentang kawasan konservasi gambut di Sumatra juga menunjukkan bahwa keberadaan kawasan lindung saja tidak selalu cukup. Jarak dari kanal dan jalan serta aktivitas manusia di sekitar kawasan turut memengaruhi pola kebakaran. Karena itu, pengelolaan risiko perlu melihat seluruh lanskap, bukan hanya batas administratif kawasan konservasi.

Hutan gambut adalah rumah yang dibangun sangat lama

Ada alasan mengapa kebakaran gambut begitu penting dalam konteks biodiversitas.

Hutan gambut bukan sekadar kumpulan pohon yang kebetulan tumbuh di tanah basah.

Ia merupakan ekosistem yang terbentuk dari hubungan panjang antara air, tanah, tumbuhan, mikroorganisme, dan satwa.

Ketika sistem tersebut terbakar berulang kali, manusia tidak hanya kehilangan sejumlah pohon.

Kita dapat kehilangan struktur ekologis yang membutuhkan waktu panjang untuk terbentuk kembali.

Dan beberapa bagian mungkin tidak kembali dalam bentuk yang sama.

Dari asap yang terlihat, ada kehidupan yang tidak terlihat

Ketika asap memenuhi udara, perhatian manusia biasanya tertuju pada jarak pandang, kualitas udara, sekolah yang ditutup, atau gangguan kesehatan.

Semua itu penting.

Tetapi di balik asap terdapat cerita lain.

Ada burung yang kehilangan tempat bersarang.

Ada serangga yang kehilangan vegetasi tempat hidupnya.

Ada ikan yang menghadapi perubahan kualitas air.

Ada mamalia yang kehilangan wilayah jelajah.

Ada tumbuhan yang gagal beregenerasi.

Dan ada ekosistem yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencoba pulih.

Itulah sebabnya kebakaran gambut bukan hanya peristiwa kebakaran.

Ia adalah peristiwa ekologis.

Kebakaran gambut sangat berbahaya bagi biodiversitas karena dampaknya dapat menjalar jauh melampaui api yang terlihat.

Ketika gambut mengering, risiko kebakaran meningkat. Ketika kebakaran terjadi berulang dan berintensitas tinggi, struktur habitat, komposisi vegetasi, kualitas lingkungan, dan keanekaragaman satwa dapat mengalami perubahan besar.

Namun, penelitian juga memberikan pelajaran penting: gambut yang tetap basah dan memiliki hidrologi yang sehat memiliki ketahanan lebih baik terhadap kebakaran. Restorasi melalui pembasahan kembali juga dapat membantu mengurangi risiko kebakaran dalam kondisi tertentu.

Karena itu, menjaga gambut bukan hanya soal mencegah asap.

Menjaga gambut berarti menjaga rumah bagi banyak kehidupan yang mungkin tidak pernah kita lihat.

Sumber dan rujukan
  1. Diatmiko, E. B. A., Rietkerk, M., & Staal, A. (2026). “Intact peatlands experience smaller fire impact on tree cover than modified peatlands and non-peatlands in Indonesia.” Frontiers in Forests and Global Change.
  2. “The effects of fire severity on peat swamp forest stand composition and its implications for forest restoration.” Environmental Challenges, 2026.
  3. Salmayenti et al. (2026). “Tropical Peatland Restoration Reduces Fire Occurrence.” Geophysical Research Letters.
  4. “Impacts of fire and prospects for recovery in a tropical peat forest ecosystem.” Proceedings of the National Academy of Sciences, 2024.
  5. Alexandra, P. C., Herdiansyah, H., & Yulianto. (2026). “Peat Fires in Indonesia: A Socio-Ecological Synthesis Based on a Literature Review of Management Approaches.” Jurnal Manajemen Hutan Tropika.
  6. Kementerian Kehutanan RI, “Hotspot High Confidence Meningkat, Kemenhut Perkuat Respons Lapangan dan Perlindungan Satwa Liar”, 30 September 2026.
  7. KSDAE, Kementerian Kehutanan RI, “Karhutla Mengancam Kehidupan Satwa Liar di Kalimantan Selatan”, 15 September 2026.

Disclaimer

Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi mengenai ekosistem gambut, kebakaran hutan dan lahan, serta dampaknya terhadap biodiversitas. Data kebakaran dan kondisi ekologis dapat berubah dari waktu ke waktu dan perlu merujuk pada pemantauan resmi terbaru untuk informasi operasional.

Share:

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terkait
Daratan baru di sekitar Gunung Anak Krakatau terbentuk setelah aktivitas erupsi, membuka kemungkinan bagi proses panjang kolonisasi kehidupan dan suksesi ekologis.

Daratan Baru di Anak Krakatau: Saat Alam Memulai Kehidupan...

Earth, ElrolumNews - Sebuah gunung api dapat mengubah peta dalam hitungan jam.Itulah yang kembali terjadi di sekitar...
Clerodendrum ismaili, spesies tumbuhan baru yang dideskripsikan dari hutan Ranu Darungan di lereng selatan Gunung Semeru, Jawa Timur.

Clerodendrum ismaili: Flora Baru dari Lereng Semeru yang Sejauh...

Earth, ElrolumNews - Sebuah tumbuhan berbunga yang tampak sederhana ternyata menyimpan cerita besar tentang keanekaragaman hayati Gunung Semeru. Pada...
Gajah Borneo (Elephas maximus borneensis) membutuhkan habitat yang terhubung agar dapat bergerak, mencari makan, berkembang biak, dan mempertahankan hubungan antarpopulasi.

Gajah Borneo Tak Hanya Kehilangan Hutan, Mereka Juga Kehilangan...

Earth, ElrolumNews - Ada sesuatu yang menarik dari gajah Borneo. Tubuhnya lebih kecil dibandingkan banyak kerabatnya di daratan Asia,...

Lainnya

Popular