Earth, ELrolumNews —
Seekor harimau, beruang madu, rusa sambar, atau mamalia hutan lainnya tidak mengenal batas administrasi ketika bergerak mencari makanan.
Bagi mereka, yang penting bukan apakah sebuah kawasan disebut hutan lindung, hutan desa, kawasan perhutanan sosial, atau lahan produksi.
Yang penting adalah apakah masih tersedia habitat yang cukup baik dan terhubung.
Sebuah penelitian terbaru di Sumatra menunjukkan bahwa hutan yang dikelola masyarakat dapat menampung keragaman mamalia yang cukup tinggi. Namun, hasilnya juga memberikan peringatan penting: manfaat tersebut sangat bergantung pada kondisi lanskap, terutama seberapa baik hutan tetap terhubung satu sama lain.
Dengan kata lain, mempertahankan hutan saja belum tentu cukup.
Hutan juga perlu tetap tersambung.
Ketika hutan tidak lagi berdiri sendiri
Bayangkan sebuah hamparan hutan luas yang perlahan terpecah menjadi bagian-bagian kecil.
Di antara bagian hutan tersebut muncul kebun, perkebunan, jalan, permukiman, atau lahan produksi lainnya.
Dari udara, mungkin masih terlihat cukup banyak pepohonan.
Namun bagi satwa liar, situasinya sudah berubah.
Sebuah hutan kecil yang terisolasi tidak sama dengan hutan yang terhubung dengan kawasan hutan lainnya.
Satwa mungkin harus menyeberangi area terbuka untuk berpindah.
Sebagian spesies enggan melakukannya.
Sebagian lainnya menghadapi risiko lebih besar ketika bergerak.
Akibatnya, habitat yang secara visual masih tampak “hijau” belum tentu memiliki fungsi ekologis yang sama dengan hutan yang saling terhubung.
Penelitian terbaru di Sumatra menunjukkan bahwa konektivitas struktural hutan merupakan faktor lingkungan terkuat yang berkaitan dengan kemunculan mamalia di lanskap yang diteliti.
Penelitian dilakukan di dua lanskap Sumatra
Liam J. Hughes dan rekan-rekannya melakukan penelitian pada dua konteks perhutanan sosial yang berbeda di Sumatra.
Yang pertama merupakan lanskap yang masih didominasi hutan dan pengelolaannya menekankan pemertahanan tutupan hutan.
Yang kedua merupakan lanskap berbentuk mosaik agroforestri, dengan kombinasi hutan, sistem produksi, dan sisa-sisa kawasan hutan.
Para peneliti menggunakan perangkap kamera untuk memantau komunitas mamalia.
Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan model okupansi multi-spesies untuk memperkirakan keberadaan berbagai jenis mamalia sekaligus melihat bagaimana kondisi lingkungan dan tekanan manusia memengaruhi pola kemunculan mereka.
Pendekatan tersebut penting karena kamera tidak hanya menunjukkan “satwa apa yang tertangkap”.
Data dapat digunakan untuk mempelajari pola keberadaan satwa pada kondisi habitat yang berbeda.
Ada kabar baik dari hutan yang dikelola masyarakat
Hasil penelitian tidak sepenuhnya negatif.
Secara keseluruhan, kekayaan spesies dan okupansi komunitas mamalia di kawasan yang dikelola masyarakat dapat sebanding dengan hutan perlindungan pada kedua lanskap yang diteliti.
Ini menunjukkan bahwa hutan yang berada dalam sistem pengelolaan masyarakat tidak otomatis kehilangan nilai konservasinya.
Bahkan, pada lanskap yang masih didominasi hutan, keberadaan satwa spesialis hutan dan kelompok satwa terancam tetap terjaga.
Spesies generalis—satwa yang relatif lebih mampu hidup pada kondisi lingkungan yang beragam—justru memiliki okupansi lebih tinggi di kawasan perhutanan sosial tersebut.
Temuan ini memberikan pesan penting:
Konservasi tidak selalu hanya terjadi di dalam kawasan yang secara formal diberi label sebagai kawasan lindung.
Kawasan yang dikelola masyarakat juga dapat memiliki fungsi penting bagi biodiversitas.
Tetapi ada batasnya
Di sinilah penelitian tersebut menjadi lebih menarik.
Ketika para peneliti membandingkan dua lanskap tadi, hasilnya tidak sama.
Pada lanskap yang masih didominasi hutan, satwa spesialis dan kelompok terancam relatif tetap terjaga.
Namun pada lanskap yang telah menjadi mosaik agroforestri dengan hutan yang lebih terfragmentasi, keberadaan satwa spesialis hutan dan kelompok terancam mengalami penurunan.
Peneliti mengaitkannya terutama dengan kualitas hutan yang lebih rendah dan konektivitas struktural yang berkurang.
Jadi, tidak cukup mengatakan:
“Ini hutan masyarakat, berarti satwa pasti aman.”
Kesimpulannya jauh lebih hati-hati.
Hutan masyarakat dapat memberikan manfaat konservasi, tetapi hasilnya sangat bergantung pada bagaimana lanskap tersebut dikelola dan seberapa baik habitat tetap tersambung.
Mengapa konektivitas begitu penting?
Bagi manusia, dua kawasan hutan yang terpisah beberapa kilometer mungkin masih terlihat dekat.
Bagi satwa tertentu, jarak tersebut dapat menjadi penghalang besar.
Satwa yang sangat bergantung pada hutan membutuhkan jalur yang memungkinkan mereka bergerak dari satu bagian habitat ke bagian lainnya.
Konektivitas memungkinkan:
- mencari makanan,
- mencari pasangan,
- berpindah mengikuti perubahan kondisi habitat,
- memperluas wilayah jelajah,
- dan menjaga hubungan antarpopulasi.
Jika hutan terpecah terlalu jauh, populasi satwa dapat semakin terisolasi.
Dalam penelitian di Sumatra tersebut, lokasi dengan konektivitas hutan yang lebih baik cenderung memiliki tingkat okupansi satwa yang lebih tinggi, sedangkan kawasan yang konektivitasnya rendah mengalami penurunan lebih besar pada spesies yang bergantung kuat pada hutan.
Karena itu, koridor dan hubungan antarkawasan hutan dapat sama pentingnya dengan luas hutan itu sendiri.
Hutan yang terlihat hijau belum tentu memiliki fungsi yang sama
Ini salah satu pelajaran paling penting dari penelitian tersebut.
Selama ini, tutupan pohon sering menjadi ukuran sederhana untuk menggambarkan kondisi hutan.
Namun, dua kawasan yang sama-sama terlihat hijau belum tentu memiliki nilai ekologis yang sama.
Satu kawasan mungkin berupa hutan yang masih relatif utuh.
Kawasan lainnya bisa berupa petak-petak pepohonan yang terisolasi di tengah lahan produksi.
Dari citra satelit, keduanya sama-sama berwarna hijau.
Bagi satwa hutan, perbedaannya bisa sangat besar.
Penelitian ini bahkan menemukan bahwa konektivitas struktural menjadi prediktor yang lebih kuat terhadap kemunculan mamalia dibandingkan tutupan hutan semata dalam analisis mereka.
Ini mengubah cara kita memandang konservasi.
Bukan hanya:
“Berapa banyak hutan yang tersisa?”
Tetapi juga:
“Bagaimana hutan-hutan yang tersisa itu tersusun dan apakah masih saling terhubung?”
Harimau dan beruang tidak membutuhkan sekadar pohon
Satwa besar menjadi contoh yang mudah untuk memahami persoalan ini.
Dalam penelitian tersebut, spesies seperti harimau Sumatra, beruang madu, dan rusa sambar menunjukkan kecenderungan keberadaan yang lebih tinggi di lokasi yang lebih terpencil pada lanskap yang didominasi hutan.
Temuan tersebut tidak berarti semua harimau atau beruang hanya dapat hidup di lokasi terpencil.
Yang ditunjukkan penelitian adalah bahwa keterpencilan—sebagai salah satu indikator tekanan aktivitas manusia—ikut memengaruhi pola keberadaan beberapa spesies spesialis hutan.
Ini masuk akal secara ekologis.
Satwa yang membutuhkan kawasan hutan relatif utuh menghadapi kondisi berbeda ketika semakin dekat dengan aktivitas manusia.
Risiko perburuan, gangguan, perubahan habitat, dan konflik dapat meningkat.
Karena itu, bagi satwa besar, keberadaan pohon saja tidak cukup.
Yang dibutuhkan adalah ruang ekologis yang berfungsi.
Perhutanan sosial bukan pengganti kawasan lindung
Ada kecenderungan untuk menarik kesimpulan terlalu jauh dari penelitian ini.
Jika hutan masyarakat bisa mendukung biodiversitas, apakah berarti kawasan lindung tidak lagi penting?
Jawabannya: tidak.
Penelitian tersebut secara eksplisit menunjukkan bahwa perhutanan sosial tidak dapat menggantikan kawasan perlindungan yang dikelola secara efektif.
Sebaliknya, hutan yang dikelola masyarakat dapat melengkapi jaringan konservasi yang lebih luas.
Ini merupakan perbedaan yang sangat penting.
Kawasan konservasi formal tetap memiliki fungsi utama dalam melindungi habitat dan spesies.
Sementara kawasan yang dikelola masyarakat dapat membantu mempertahankan konektivitas, menyediakan habitat tambahan, serta menjadi bagian dari lanskap yang lebih luas.
Dengan cara tersebut, konservasi tidak berdiri sebagai pulau-pulau terpisah.
Dari hutan masyarakat menuju jaringan habitat
Bayangkan sebuah lanskap seperti rangkaian pulau.
Ada satu kawasan hutan besar di sebelah kiri.
Ada kawasan hutan lain di sebelah kanan.
Di antara keduanya terdapat kebun, hutan sekunder, dan lahan masyarakat.
Jika hubungan ekologis masih memungkinkan, kawasan-kawasan tersebut dapat berfungsi sebagai bagian dari satu jaringan habitat.
Tetapi jika hubungan tersebut semakin hilang, hutan berubah menjadi pulau-pulau habitat yang terisolasi.
Konsep inilah yang membuat konektivitas sangat penting.
Penelitian Hughes dan koleganya menunjukkan bahwa bahkan perbaikan konektivitas yang relatif kecil dapat memiliki nilai ekologis pada lanskap perhutanan sosial.
Karena itu, strategi konservasi tidak selalu harus berupa pembentukan kawasan baru yang luas.
Dalam beberapa kondisi, menjaga atau memulihkan hubungan antara habitat yang sudah ada juga dapat menjadi langkah penting.
Masyarakat bukan hanya bagian dari masalah
Ada satu pesan sosial yang juga penting dari penelitian ini.
Hutan masyarakat tidak boleh dipandang hanya sebagai ancaman terhadap biodiversitas.
Masyarakat lokal juga dapat menjadi bagian dari sistem pengelolaan hutan.
Perhutanan sosial sendiri dirancang untuk memberikan hak pengelolaan tertentu kepada masyarakat dan menggabungkan tujuan sosial-ekonomi dengan pengelolaan sumber daya hutan.
Ketika pengelolaan tersebut mampu mempertahankan tutupan hutan, membatasi tekanan, dan menjaga konektivitas habitat, manfaatnya dapat dirasakan oleh manusia sekaligus satwa.
Karena itu, tantangannya bukan memilih:
manusia atau hutan.
Tantangannya adalah menemukan bentuk pengelolaan yang memungkinkan manusia dan ekosistem tetap memiliki ruang untuk bertahan.
Dua lanskap, dua hasil
Penelitian ini juga memberikan pelajaran bahwa tidak ada satu resep konservasi yang otomatis berhasil di semua tempat.
Di lanskap yang masih kaya hutan, perhutanan sosial dengan penekanan pada pemertahanan hutan dapat memberikan manfaat konservasi yang kuat.
Sebaliknya, pada lanskap yang telah mengalami modifikasi lebih besar, diperlukan restorasi yang terarah dan upaya memperbaiki konektivitas habitat agar spesies prioritas tetap dapat bertahan.
Artinya, kebijakan konservasi perlu memperhatikan konteks.
Apa yang berhasil di satu lanskap belum tentu menghasilkan dampak yang sama di lanskap lainnya.
Jalan, kebun, dan hutan tidak harus selalu menjadi musuh
Kenyataan di lapangan jauh lebih kompleks daripada sekadar membagi dunia menjadi “hutan” dan “bukan hutan”.
Indonesia memiliki jutaan hektare lanskap yang digunakan untuk berbagai kebutuhan manusia.
Di dalamnya terdapat hutan, kebun, ladang, permukiman, sungai, jalan, dan kawasan konservasi.
Pertanyaan pentingnya bukan apakah semua aktivitas manusia dapat dihapus.
Pertanyaannya adalah:
bagaimana aktivitas tersebut ditata agar tidak memutus fungsi ekologis yang sangat penting?
Di sinilah konsep konektivitas menjadi sangat relevan.
Sebuah kawasan hutan yang dikelola masyarakat dapat menjadi bagian penting dari jaringan habitat jika masih terhubung dengan kawasan hutan lainnya.
Sebaliknya, kawasan yang terisolasi dan mengalami penurunan kualitas habitat dapat kehilangan sebagian nilai konservasinya meskipun masih memiliki pepohonan.
Hutan yang tersambung adalah jalan bagi kehidupan
Kita sering menganggap hutan sebagai tempat.
Tetapi bagi satwa, hutan juga merupakan jaringan perjalanan.
Ada jalur mencari makanan.
Ada jalur menuju sumber air.
Ada ruang mencari pasangan.
Ada wilayah jelajah.
Ada tempat berlindung.
Dan ada kemungkinan untuk berpindah ketika kondisi lingkungan berubah.
Jika jaringan tersebut terputus, kehidupan satwa menjadi lebih terbatas.
Itulah mengapa menjaga konektivitas bukan sekadar persoalan tata ruang.
Ia adalah cara mempertahankan kemampuan satwa untuk bergerak dan bertahan.
Pelajaran dari Sumatra
Penelitian terbaru ini tidak memberikan jawaban sederhana bahwa perhutanan sosial selalu baik atau selalu buruk bagi biodiversitas.
Justru sebaliknya.
Ia menunjukkan bahwa hasil konservasi sangat bergantung pada kualitas hutan, konteks lanskap, tekanan manusia, dan terutama konektivitas habitat.
Pada kawasan yang masih didominasi hutan dan dikelola dengan baik, hutan masyarakat dapat menjadi bagian penting dari konservasi.
Pada kawasan yang sudah terfragmentasi, pekerjaan menjadi lebih berat.
Bukan hanya mempertahankan pohon.
Tetapi juga menghubungkan kembali habitat.
Memulihkan bagian yang rusak.
Mengurangi tekanan.
Dan memastikan satwa masih memiliki ruang untuk bergerak.
Kita tidak hanya membutuhkan lebih banyak hutan
Mungkin inilah kesimpulan paling penting dari penelitian tersebut.
Dunia konservasi sering bertanya:
“Berapa banyak hutan yang harus kita selamatkan?”
Pertanyaan itu penting.
Tetapi ada pertanyaan berikutnya yang tidak kalah penting:
“Bagaimana hutan-hutan itu tetap menjadi satu jaringan kehidupan?”
Karena hutan yang terpisah-pisah tidak selalu memiliki fungsi yang sama dengan hutan yang terhubung.
Dan bagi satwa yang hidup di dalamnya, perbedaan tersebut dapat menentukan apakah sebuah populasi masih mampu bergerak, mencari makanan, berkembang biak, dan bertahan.
Hutan bukan hanya kumpulan pohon.
Ia adalah jaringan kehidupan.
Dan ketika jaringan itu tetap tersambung, peluang kehidupan untuk bertahan juga menjadi lebih besar.
Penelitian terbaru di Sumatra menunjukkan bahwa hutan yang dikelola masyarakat dapat mendukung keragaman mamalia yang cukup tinggi dan, dalam konteks tertentu, memiliki tingkat kekayaan spesies serta okupansi yang sebanding dengan hutan perlindungan.
Namun, manfaat tersebut tidak otomatis terjadi di semua tempat.
Pada lanskap yang lebih terfragmentasi dan didominasi agroforestri, satwa spesialis hutan dan kelompok terancam menunjukkan penurunan okupansi yang berkaitan dengan kualitas hutan dan berkurangnya konektivitas. Sebaliknya, konektivitas struktural yang lebih baik membantu menahan kehilangan biodiversitas.
Temuan ini memberi satu pelajaran penting bagi konservasi Indonesia:
menjaga luas hutan memang penting, tetapi menjaga hubungan antarkawasan hutan bisa sama pentingnya.
Sebab bagi satwa liar, sebuah hutan bukan hanya tempat tinggal.
Ia juga merupakan jalan.
Sumber dan rujukan
Hughes, L. J., Deere, N. J., Radinal, et al. (2026). “Habitat connectivity shapes biodiversity outcomes in Indonesia’s community-managed forests.” Journal of Applied Ecology, 63(8), e70518. DOI: 10.1111/1365-2664.70518. Penelitian utama artikel ini menggunakan data perangkap kamera dan pemodelan okupansi multi-spesies di dua lanskap perhutanan sosial di Sumatra.
IUCN Red List of Threatened Species, Version 2025-2, yang digunakan penelitian sebagai salah satu rujukan status kelompok satwa terancam.
Convention on Biological Diversity — Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework, sebagai konteks kebijakan konservasi dan konektivitas habitat yang dirujuk dalam penelitian.
Disclaimer
Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi mengenai biodiversitas, perhutanan sosial, dan konservasi habitat. Temuan penelitian berlaku pada konteks lanskap yang diteliti dan tidak dapat secara otomatis digeneralisasi untuk seluruh kawasan perhutanan sosial di Indonesia.




