Optimasi Tidur, ElrolumNews – Berjalan saat tidur. Berbicara dalam tidur. Terbangun dengan jantung berdebar tanpa tahu mengapa. Mengalami mimpi buruk yang sangat nyata hingga sulit membedakan dari kenyataan. Ini adalah beberapa contoh parasomnia, kelompok gangguan tidur yang melibatkan perilaku, emosi, atau pengalaman tidak biasa saat tidur. Parasomnia bukan sekadar kebiasaan aneh. Dalam beberapa kasus, kondisi ini dapat membahayakan orang yang mengalaminya atau orang di sekitarnya.
American Academy of Sleep Medicine (AASM) mengklasifikasikan parasomnia sebagai salah satu dari enam kategori utama gangguan tidur, bersama insomnia, gangguan pernapasan terkait tidur, gangguan ritme sirkadian, gangguan kantuk berlebihan, dan gangguan gerakan terkait tidur. Memahami parasomnia penting karena banyak orang tidak menyadari bahwa perilaku yang mereka alami saat tidur adalah kondisi medis yang bisa dievaluasi dan ditangani.
Apa Itu Parasomnia
Parasomnia adalah kelompok gangguan tidur yang melibatkan perilaku atau pengalaman tidak normal selama tidur atau selama transisi antara tidur dan bangun. Ini bisa terjadi selama tidur REM, tidur non-REM, atau saat transisi antara tahap tidur.
National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI) menjelaskan bahwa parasomnia dapat memengaruhi siapa saja, tetapi lebih umum pada anak-anak. Sebagian besar parasomnia pada anak-anak hilang seiring bertambahnya usia. Pada orang dewasa, parasomnia bisa menetap atau muncul kembali.
Parasomnia berbeda dari gangguan tidur lainnya. Jika insomnia adalah masalah memulai atau mempertahankan tidur, dan sleep apnea adalah masalah pernapasan saat tidur, parasomnia adalah masalah perilaku atau pengalaman yang terjadi saat tidur.
Jenis-Jenis Parasomnia
Parasomnia mencakup berbagai kondisi yang berbeda. Berikut yang paling umum:
Somnambulism (sleepwalking).
Berjalan saat tidur. Terjadi selama tidur non-REM, biasanya pada paruh pertama malam. Orang yang berjalan saat tidur bisa melakukan aktivitas kompleks, seperti berjalan ke ruangan lain, membuka pintu, atau bahkan keluar rumah. Mereka biasanya tidak mengingat kejadian tersebut ketika bangun.Somniloquy (sleep talking).
Berbicara saat tidur. Bisa terjadi selama tidur REM atau non-REM. Ucapan bisa berupa gumaman, kata-kata yang tidak jelas, atau kalimat yang koheren. Sleep talking umumnya tidak berbahaya.Night terror.
Episode ketakutan intens yang terjadi selama tidur non-REM. Orang yang mengalami night terror bisa berteriak, duduk tegak, atau melompat dari tempat tidur dengan ekspresi ketakutan. Mereka biasanya tidak responsif terhadap upaya menenangkan, dan tidak mengingat kejadian tersebut ketika bangun. Night terror lebih umum pada anak-anak.Nightmare.
Mimpi buruk yang vivid dan mengganggu yang membangunkan seseorang dari tidur REM. Berbeda dari night terror, orang yang mengalami nightmare biasanya mengingat mimpi tersebut dan merasa takut setelah bangun.REM sleep behavior disorder (RBD).
Kondisi di mana seseorang bertindak sesuai mimpi selama tidur REM. Normalnya, otot-otot tubuh lumpuh selama tidur REM untuk mencegah tindakan. Pada RBD, kelumpuhan ini tidak terjadi, sehingga seseorang bisa menendang, memukul, atau melompat dari tempat tidur. RBD lebih umum pada orang dewasa, terutama pria di atas 50 tahun.Sleep paralysis.
Kondisi di mana seseorang terbangun tetapi tidak bisa bergerak atau berbicara selama beberapa detik hingga beberapa menit. Ini terjadi saat transisi antara tidur dan bangun. Sleep paralysis bisa disertai halusinasi.Sleep-related eating disorder.
Episode makan saat tidur tanpa kesadaran penuh. Orang yang mengalami kondisi ini bisa makan dalam jumlah besar atau mengonsumsi makanan yang tidak biasa.Confusional arousals.
Kebingungan saat terbangun dari tidur, terutama tidur non-REM. Seseorang bisa tampak bingung, tidak responsif, atau berbicara tidak koheren.
Mengapa Parasomnia Terjadi
Penyebab parasomnia bervariasi tergantung jenisnya, tetapi ada beberapa faktor umum yang dapat memicunya:
Kurang tidur.
Kurang tidur adalah pemicu umum parasomnia. Ketika tubuh sangat lelah, tidur menjadi lebih dalam, dan transisi antar tahap tidur menjadi lebih sulit.Stres dan kecemasan.
Stres dapat memicu atau memperburuk parasomnia, terutama night terror dan sleepwalking.Alkohol dan obat-obatan.
Alkohol, sedatif, dan beberapa obat dapat memicu atau memperburuk parasomnia.Gangguan tidur lain.
Sleep apnea, restless legs syndrome, dan gangguan tidur lainnya dapat memicu parasomnia.Genetika.
Beberapa jenis parasomnia, terutama sleepwalking dan night terror, cenderung menurun dalam keluarga.Kondisi medis.
Beberapa kondisi medis, termasuk gangguan neurologis, dapat berhubungan dengan parasomnia.Usia.
Parasomnia tertentu, seperti sleepwalking dan night terror, lebih umum pada anak-anak. Yang lain, seperti RBD, lebih umum pada orang dewasa.
Dampak Parasomnia
Parasomnia bukan hanya mengganggu. Dalam beberapa kasus, kondisi ini dapat berdampak signifikan:
Cedera.
Orang yang berjalan saat tidur atau mengalami RBD dapat cedera, misalnya terjatuh, menabrak benda, atau dalam kasus RBD, memukul pasangan.Gangguan tidur.
Parasomnia dapat mengganggu kualitas tidur, menyebabkan kantuk berlebihan di siang hari.Gangguan psikologis.
Nightmare dan night terror dapat menyebabkan kecemasan dan ketakutan sebelum tidur.Gangguan hubungan.
Parasomnia dapat mengganggu tidur pasangan dan memengaruhi kualitas hubungan.Diagnosis yang terlewat.
Beberapa parasomnia, terutama RBD, dapat menjadi tanda awal kondisi neurologis seperti Parkinson. Diagnosis yang tepat penting untuk penanganan yang tepat.
Parasomnia pada Anak vs Dewasa
Parasomnia pada anak-anak umumnya berbeda dari orang dewasa:
Pada anak-anak:
Sleepwalking dan night terror lebih umum
Biasanya terjadi selama tidur non-REM
Sering hilang seiring bertambahnya usia
Biasanya tidak memerlukan pengobatan, kecuali jika berbahaya
Pada orang dewasa:
RBD lebih umum
Sleepwalking dan night terror bisa menetap atau muncul kembali
Dapat berhubungan dengan kondisi medis atau neurologis
Memerlukan evaluasi medis yang lebih teliti
National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI) mencatat bahwa sebagian besar parasomnia pada anak-anak hilang seiring bertambahnya usia, tetapi pada orang dewasa, kondisi ini perlu evaluasi lebih lanjut.
Cara Mengatasi Parasomnia
Penanganan parasomnia bergantung pada jenis dan keparahannya:
Perbaiki kebiasaan tidur.
Sleep hygiene yang baik dapat membantu mengurangi frekuensi parasomnia. Lihat artikel kami tentang Sleep Hygiene.Kelola stres.
Stres adalah pemicu umum parasomnia. Lihat artikel kami tentang Kortisol dan Mindfulness untuk Pemula.Hindari alkohol dan obat-obatan yang memicu.
Alkohol dan beberapa obat dapat memperburuk parasomnia.Ciptakan lingkungan tidur yang aman.
Jika Anda mengalami sleepwalking atau RBD, pastikan lingkungan tidur aman. Kunci pintu dan jendela, singkirkan benda tajam, dan pertimbangkan untuk tidur di lantai jika perlu.Jadwalkan tidur yang cukup.
Kurang tidur adalah pemicu utama. Pastikan Anda tidur cukup setiap malam.Obat-obatan.
Untuk kasus tertentu, dokter mungkin meresepkan obat seperti clonazepam atau melatonin.Terapi perilaku.
Untuk nightmare, terapi seperti Imagery Rehearsal Therapy (IRT) dapat membantu.Konsultasi dengan spesialis tidur.
Untuk RBD dan parasomnia kompleks lainnya, konsultasi dengan spesialis tidur sangat dianjurkan.
Mitos tentang Parasomnia
Mitos 1: Berjalan saat tidur berbahaya untuk dibangunkan.
Fakta: Membangunkan seseorang yang berjalan saat tidur tidak berbahaya, tetapi bisa menyebabkan kebingungan. Lebih baik mengarahkan mereka kembali ke tempat tidur dengan lembut.
Mitos 2: Parasomnia hanya terjadi pada anak-anak.
Fakta: Parasomnia bisa terjadi pada segala usia. Beberapa jenis, seperti RBD, lebih umum pada orang dewasa.
Mitos 3: Parasomnia tidak perlu diperiksa.
Fakta: Beberapa parasomnia, terutama RBD, dapat menjadi tanda kondisi neurologis yang lebih serius.
Mitos 4: Semua parasomnia berbahaya.
Fakta: Sebagian besar parasomnia tidak berbahaya, tetapi beberapa dapat menyebabkan cedera.
Mitos 5: Parasomnia tidak bisa diobati.
Fakta: Banyak parasomnia dapat dikelola dengan perubahan gaya hidup, terapi, atau obat-obatan.
Kapan Harus ke Dokter?
Konsultasikan ke dokter atau spesialis tidur jika:
Parasomnia terjadi berulang dan mengganggu tidur Anda atau pasangan
Parasomnia menyebabkan cedera atau berpotensi berbahaya
Anda mengalami RBD, terutama jika Anda berusia di atas 50 tahun
Parasomnia disertai gejala neurologis lain
Parasomnia tidak membaik dengan perubahan gaya hidup
Anda merasa sangat mengantuk di siang hari akibat gangguan tidur
Untuk memahami kapan gangguan tidur perlu dievaluasi secara medis, lihat panduan lengkap kami tentang gangguan tidur.
Catatan: Artikel ini ditujukan untuk memberikan informasi kesehatan umum dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau saran dari tenaga kesehatan. Jika gangguan tidur berlangsung terus-menerus atau mengganggu aktivitas sehari-hari, konsultasikan kondisi Anda kepada tenaga kesehatan.
Referensi
American Academy of Sleep Medicine. (2014). International Classification of Sleep Disorders, Third Edition (ICSD-3). AASM.
National Heart, Lung, and Blood Institute. (2022). Sleep Deprivation and Deficiency. NHLBI, NIH.
Howell, M. J. (2012). Parasomnias: An updated review. Neurotherapeutics, 9(4), 753-775. Springer.
Schenck, C. H., & Mahowald, M. W. (2002). REM sleep behavior disorder: Clinical, developmental, and neuroscience perspectives 16 years after its formal identification in SLEEP. Sleep, 25(2), 120-138. Oxford Academic.
Kotagal, S. (2009). Parasomnias in childhood. Sleep Medicine Reviews, 13(2), 157-168. Elsevier.
Iranzo, A., et al. (2016). Characterization of patients with longstanding idiopathic REM sleep behavior disorder. Neurology, 77(3), 242-248. Wolters Kluwer.
Aurora, R. N., et al. (2010). Best practice guide for the treatment of REM sleep behavior disorder (RBD). Journal of Clinical Sleep Medicine, 6(1), 85-95. AASM.
Krakow, B., & Zadra, A. (2006). Clinical management of chronic nightmares: Imagery rehearsal therapy. Behavioral Sleep Medicine, 4(1), 45-70. Taylor & Francis.
Mahowald, M. W., & Schenck, C. H. (2005). Insights from studying human sleep disorders. Nature, 437(7063), 1279-1285. Nature.
Avidan, A. Y., & Kaplish, N. (2017). Non-rapid eye movement parasomnias. Sleep Medicine Clinics, 12(2), 245-262. Elsevier.




