G7 Sepakati Pelepasan 100 Juta Barel Cadangan Minyak, Diesel Jadi Prioritas

BRUSSELS, ElrolumNews — Negara-negara G7 pada Kamis, 2 Oktober 2026, menyetujui pelepasan darurat 100 juta barel minyak dari cadangan strategis mereka melalui koordinasi International Energy Agency (IEA). Keputusan ini diambil dalam konferensi video darurat yang dipimpin Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang saat ini memegang kursi presidensi G7, untuk meredam lonjakan harga bahan bakar yang dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Menurut pernyataan bersama yang dirilis setelah pertemuan, pelepasan akan dimulai segera dan berlangsung selama empat bulan. Sebanyak 50 juta barel diesel akan dilepaskan oleh negara-negara Eropa, sementara 50 juta barel minyak mentah akan dilepaskan oleh 32 negara anggota IEA. Dalam 20 hari pertama, diesel menjadi prioritas utama.

“Kami setuju untuk mengambil tindakan tegas dan terkoordinasi untuk menstabilkan pasokan energi, melindungi rumah tangga dan bisnis dari guncangan harga, serta memperkuat ketahanan jangka panjang sistem energi global,” demikian bunyi pernyataan G7.

Berbeda dari pelepasan cadangan minyak sebelumnya yang umumnya berfokus pada minyak mentah, kesepakatan kali ini memberikan penekanan khusus pada diesel. G7 menyatakan bahwa dalam 20 hari pertama, sejumlah besar diesel akan dilepaskan terlebih dahulu.

Macron menjelaskan bahwa pelepasan mencakup diesel dan minyak mentah, dengan total mencapai 100 juta barel. Menurut proposal yang diajukan Prancis, negara-negara Eropa akan melepaskan 50 juta barel diesel, sementara 32 negara anggota IEA akan melepaskan 50 juta barel minyak mentah.

Pernyataan G7 juga menyebutkan bahwa pertemuan dalam kerangka IEA akan diadakan dalam beberapa hari mendatang untuk membahas kemungkinan pelepasan tambahan diesel.

Langkah ini mencerminkan kekhawatiran khusus terhadap pasar diesel. Diesel adalah bahan bakar utama untuk transportasi barang dan pertanian, sehingga lonjakan harganya berdampak langsung pada biaya pangan dan barang kebutuhan pokok.

Kesepakatan G7 tidak terlepas dari tekanan kuat pemerintahan Trump. Menjelang pertemuan, Presiden AS Donald Trump secara terbuka mempertimbangkan untuk melarang ekspor diesel AS guna menekan harga domestik menjelang pemilihan umum tengah November.

Eropa sangat rentan terhadap langkah ini karena sekitar sepertiga kebutuhan diesel Eropa bergantung pada pasokan dari Amerika Serikat. Larangan ekspor akan memperburuk kekurangan pasokan di Eropa.

Seorang pejabat yang mengetahui masalah ini mengungkapkan bahwa Prancis, Jerman, dan negara-negara Uni Eropa lainnya mengadakan pertemuan darurat pada Kamis pagi untuk membahas respons bersama. Negara-negara Eropa menyatakan bahwa jika mereka setuju untuk melepaskan cadangan tambahan, Amerika Serikat harus berkomitmen untuk tidak secara sepihak melarang ekspor diesel.

Setelah kesepakatan tercapai, Trump menulis di media sosialnya Truth Social: “Eropa telah setuju untuk melepaskan diesel dalam jumlah besar dari cadangan mereka. Proses ini akan dimulai segera.” Namun ia kemudian menyatakan di Gedung Putih bahwa larangan ekspor diesel “sebenarnya tidak pernah dipertimbangkan.”

Pernyataan G7 juga menegaskan kembali komitmen negara-negara anggota untuk menahan diri dari pembatasan ekspor energi dan produk energi di antara mereka, serta menyerukan kepada semua negara produsen untuk tidak memberlakukan tindakan larangan yang dapat memperburuk ketegangan pasar.

Macron menekankan bahwa kesepakatan untuk tidak memberlakukan larangan ekspor adalah kunci, dan “terutama Presiden Trump telah menunjukkan sikap yang sangat jelas dalam hal ini.”

Selain itu, untuk mencegah penghentian simultan kapasitas produksi, G7 akan mengoordinasikan jadwal pemeliharaan kilang minyak antar negara anggota.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyambut baik keputusan G7 “untuk tidak memberlakukan larangan ekspor apa pun kepada sekutu” dalam produk energi. “Warga negara kami membutuhkan dan berhak mendapatkan energi dengan harga yang terjangkau,” tulisnya di platform X.

Kesepakatan pelepasan cadangan awalnya mendorong penurunan harga minyak. Pada hari Kamis, minyak mentah WTI untuk kontrak November turun sekitar 5% di awal perdagangan menjadi sekitar 88 dolar AS per barel. WTI akhirnya ditutup turun 1,90% pada 91,11 dolar AS per barel, sementara Brent turun tipis 0,06% menjadi 102,25 dolar AS per barel.

Namun penurunan tersebut terbatas. Laporan bahwa Arab Saudi berencana melancarkan serangan terhadap pasukan Houthi yang didukung Iran di Yaman, dengan hingga 100.000 tentara dikerahkan, memicu kekhawatiran pasar terhadap risiko pasokan baru, sehingga membatasi penurunan lebih lanjut.

Sebelum keputusan G7, harga minyak telah melonjak tajam pada hari Kamis. Brent naik 4,37% menjadi 102,31 dolar AS per barel, sementara WTI naik 2,71% menjadi 92,87 dolar AS per barel. Pemicunya adalah laporan bahwa AS mengerahkan kelompok tempur kapal induk ketiga ke Timur Tengah, serta China menangguhkan ekspor produk minyak ke luar Hong Kong dan Makau.

Lonjakan harga minyak didorong oleh ketegangan geopolitik yang meningkat di Teluk Persia. Selat Hormuz, jalur pelayaran yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dunia, berada dalam status tegang. Beberapa kapal tanker dilaporkan diserang oleh proyektil yang tidak dikenal, dan AS meningkatkan kehadiran militernya di kawasan tersebut.

G7 menyatakan bahwa mereka akan terus memantau situasi dan siap menyesuaikan tindakan jika diperlukan.

Sumber: Reuters, BBC, Yonhap, Kyodo, Mainichi, AP

Share:

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terkait
Rudal Rusia hantam Kyiv usai utusan AS bertemu Putin, 6 orang luka

Rudal Hantam Kyiv usai Utusan AS Bertemu Putin, 6...

Kyiv, ElrolumNews — Rusia melancarkan serangan rudal balistik terhadap Kyiv pada Rabu malam, 21 Oktober 2026, hanya...
Kim Jong Un muncul di pameran pakaian, rumor kematian terbantahkan

Kim Jong Un Muncul di Pameran Pakaian, Rumor Kematian...

Phongyang, ElrolumNews — Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un muncul di hadapan publik dalam foto-foto yang dirilis...
Kerusuhan di Prancis: penjarahan dan pembakaran saat demo biaya hidup, 1.800 ditangkap

Prancis Rusuh: Demo Biaya Hidup Berujung Penjarahan dan Pembakaran,...

Paris, ElrolumNews — Demonstrasi besar-besaran menentang kenaikan biaya hidup di Prancis berakhir chaos pada Sabtu, 17 Oktober...

Lainnya

Popular