Episode 1: “Dua Bayi di Bawah Bulan”
Sastra/FIksi, ElrolumNews – Malam itu, bulan purnama bersinar paling terang di langit. Di puncak Gunung Bulan, tempat yang konon menjadi pertemuan antara langit dan bumi, angin bertiup lembut membawa aroma bunga sakura yang bermekaran di lereng-lereng gunung. Di sebuah pondok kayu sederhana yang berdiri di tepi tebing, seorang wanita muda bernama Nyonya Bulan sedang berjuang antara hidup dan mati. Ia baru saja melahirkan sepasang bayi kembar — dua jiwa mungil yang tangisannya memecah keheningan malam. Namun kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Wajah Nyonya Bulan pucat pasi, dan darah terus mengalir dari tubuhnya. Ia tahu, ajalnya sudah dekat.
Di sampingnya, seorang pendekar tua berjubah abu-abu bernama Guru Lin berdiri dengan mata berkaca-kaca. Ia telah berjanji kepada suami Nyonya Bulan — yang telah gugur dalam pertempuran beberapa bulan sebelumnya — untuk melindungi keluarga ini. “Kau harus bertahan,” bisik Guru Lin. “Anak-anakmu membutuhkanmu.” Namun Nyonya Bulan hanya tersenyum lemah. “Guru Lin… aku tahu waktuku sudah tiba. Aku hanya ingin… melihat mereka sekali lagi.” Ia menatap kedua bayinya — seorang putra dan seorang putri. Sang putra memiliki rambut sehitam malam, dan sang putri memiliki rambut seputih salju. Keduanya menangis dengan suara yang sama, seolah-olah mereka tahu bahwa mereka akan segera dipisahkan.
Dengan tangan gemetar, Nyonya Bulan mengambil dua helai kain — satu putih bersih, satu hitam pekat. Ia membungkus sang putri dengan kain putih, dan sang putra dengan kain hitam. Kemudian ia mengambil sebilah pedang yang tergeletak di sampingnya — Pedang Bulan Kembar, pedang legendaris yang telah menjadi pusaka keluarganya selama turun-temurun. Dengan satu gerakan cepat, ia membelah pedang itu menjadi dua. “Guru Lin,” katanya dengan suara yang semakin lemah, “bawa pedang putih ini dan putriku… didiklah ia di jalan terang. Dan untuk putraku…” Ia menoleh ke arah bayangan yang muncul dari balik pepohonan — sosok tinggi kurus berjubah hitam dengan topeng setengah wajah. “Pendeta Bayangan… aku mempercayakan putraku kepadamu. Didiklah ia di jalan gelap. Biarlah mereka tumbuh… dan suatu hari nanti… mereka akan bertemu. Dan ketika mereka bertemu… semoga mereka menemukan jalan yang benar.”
Guru Lin terkejut. “Nyonya! Kau tidak bisa menyerahkan anakmu kepada Pendeta Bayangan! Dia adalah pemimpin Sekte Bayangan Bulan — musuh dari aliran Terang!” Namun Nyonya Bulan menggeleng lemah. “Kau tidak mengerti, Guru Lin. Pedang Bulan Kembar… tidak bisa dimiliki oleh satu orang. Kekuatannya terlalu besar. Jika kedua pedang itu disatukan… ia akan menghancurkan pemiliknya. Aku memisahkan pedang ini… dan aku memisahkan anak-anakku… agar mereka bisa hidup. Suatu hari nanti, mereka akan bertemu… dan ketika itu terjadi… mereka harus memutuskan sendiri… apakah mereka akan bersatu… atau bertarung.” Ia menatap Guru Lin dengan mata yang penuh air mata. “Tolong… jaga putriku. Dan kau, Pendeta Bayangan… jaga putraku. Aku… mempercayai kalian berdua.”
Pendeta Bayangan melangkah maju dari balik pepohonan. Wajahnya yang setengah tertutup topeng tidak menunjukkan emosi, tetapi matanya yang merah menyala menatap Nyonya Bulan dengan tatapan yang sulit diartikan. “Kau yakin, Nyonya Bulan? Kau mempercayakan putramu kepada musuhmu?” Nyonya Bulan tersenyum tipis. “Kau bukan musuhku, Pendeta. Kau adalah sahabat suamiku… sebelum segalanya berubah. Aku tahu… di dalam hatimu… masih ada cahaya.” Pendeta Bayangan terdiam lama. Kemudian ia mengangguk pelan. “Aku akan menjaganya. Aku berjanji.” Ia menerima bayi yang terbungkus kain hitam itu dengan tangan yang gemetar — tangan yang telah membunuh banyak orang, tetapi kini menerima kehidupan baru.
Nyonya Bulan menatap kedua bayinya untuk terakhir kalinya. “Lian Hua… Lian Ying…” bisiknya, menyebut nama yang telah ia pilih untuk mereka. “Lian Hua… artinya ‘bunga teratai’… semoga kau tumbuh menjadi wanita yang kuat… dan cantik… seperti teratai yang tumbuh di lumpur… tetapi tetap bersih. Dan Lian Ying… artinya ‘bayangan teratai’… semoga kau tumbuh menjadi pria yang kuat… dan bijaksana… seperti bayangan yang selalu mengikuti… tetapi tidak pernah tersesat.” Air mata mengalir di pipinya. “Aku mencintai kalian berdua… selamanya.” Ia menutup matanya, dan napasnya berhenti. Bulan di langit seolah-olah ikut berduka, tertutup awan tipis.
Guru Lin dan Pendeta Bayangan berdiri dalam diam untuk beberapa saat. Dua orang yang selama ini bermusuhan, kini bersatu dalam duka. “Aku akan membawa Lian Hua ke Puncak Bulan,” kata Guru Lin akhirnya. “Di sana, ia akan tumbuh dalam kedamaian dan cahaya.” Pendeta Bayangan mengangguk. “Dan aku akan membawa Lian Ying ke Lembah Bayangan. Di sana, ia akan tumbuh dalam kegelapan dan kekuatan.” Mereka saling berpandangan, dan untuk pertama kalinya, tidak ada kebencian di antara mereka. Hanya kesedihan, dan tekad untuk memenuhi janji terakhir Nyonya Bulan.
Guru Lin membawa Lian Hua yang masih bayi ke Puncak Bulan, sebuah tempat yang tinggi dan sunyi, di mana awan selalu menyelimuti puncaknya. Di sana, ia membangun sebuah pondok kecil dan mulai merawat bayi itu dengan penuh kasih sayang. Setiap malam, ia duduk di samping bayi itu, menceritakan tentang ibunya — tentang keberaniannya, tentang cintanya, dan tentang pengorbanannya. “Ibumu adalah wanita paling berani yang pernah aku kenal,” katanya suatu hari. “Dan kau, Lian Hua, akan tumbuh menjadi wanita yang sama beraninya.” Lian Hua kecil hanya tersenyum, tidak mengerti kata-kata itu, tetapi hatinya merasakan kehangatan.

