Sementara itu, Pendeta Bayangan membawa Lian Ying ke Lembah Bayangan, sebuah tempat yang gelap dan sunyi, di mana matahari hampir tidak pernah menembus kabut tebal. Di sana, ia melatih bayi itu dengan disiplin yang keras. “Kau harus kuat,” katanya suatu hari, saat Lian Ying kecil menangis karena kelelahan. “Kelemahan adalah kematian. Hanya yang kuat yang bisa bertahan.” Lian Ying kecil belajar dengan cepat. Ia tumbuh menjadi anak yang kuat, cepat, dan penuh semangat. Namun di dalam hatinya, selalu ada pertanyaan yang tidak pernah ia tanyakan: “Siapa orang tuaku? Dan mengapa aku berada di sini?”
Tahun-tahun berlalu. Lian Hua tumbuh menjadi gadis yang tenang dan bijaksana. Ia belajar ilmu pedang dari Guru Lin dengan penuh kesabaran. Setiap pagi, ia berlatih di tepi tebing, menebas angin dengan pedang putihnya. Setiap malam, ia bermeditasi di bawah sinar bulan, merenungkan arti kehidupan. Guru Lin mengajarinya tentang keseimbangan — bahwa kekuatan sejati bukanlah tentang menyerang, tetapi tentang memahami. “Pedangmu bukanlah untuk membunuh,” kata Guru Lin. “Pedangmu adalah untuk melindungi.” Lian Hua mengangguk, dan ia berjanji dalam hati untuk menjadi pendekar yang melindungi yang lemah.
Sementara itu, Lian Ying tumbuh menjadi pemuda yang berani dan temperamental. Ia belajar ilmu pedang dari Pendeta Bayangan dengan penuh semangat. Setiap pagi, ia berlatih di dalam gua, menebas bayangan dengan pedang hitamnya. Setiap malam, ia bertarung dengan murid-murid sekte lainnya, mengasah kemampuannya. Pendeta Bayangan mengajarinya tentang kekuatan — bahwa hanya yang kuat yang bisa bertahan di dunia ini. “Pedangmu adalah untuk membalas dendam,” kata Pendeta Bayangan. “Balas dendam pada aliran Terang yang telah menghancurkan keluargamu.” Lian Ying mengangguk, dan ia berjanji dalam hati untuk membalas dendam pada mereka yang telah menyakitinya.
Suatu malam, ketika bulan purnama bersinar terang, Lian Hua duduk di tepi tebing Puncak Bulan, memandang langit. Ia merasakan sesuatu yang aneh — sebuah getaran di dalam dadanya, seolah-olah ada sesuatu yang memanggilnya. Ia menoleh ke arah pedang putihnya yang tergeletak di sampingnya. Pedang itu bergetar pelan, dan cahayanya berkedip-kedip seperti bintang. “Ada apa denganmu?” bisik Lian Hua. Ia meraih pedang itu, dan tiba-tiba, ia melihat sebuah penglihatan — seorang anak laki-laki dengan rambut sehitam malam, berdiri di tempat yang gelap dan sunyi, memegang pedang hitam yang sama-sama bergetar. Lian Hua tersentak. “Siapa itu?” bisiknya. Namun penglihatan itu lenyap secepat datangnya.
Di Lembah Bayangan, Lian Ying juga merasakan hal yang sama. Ia sedang berlatih di dalam gua ketika pedang hitamnya tiba-tiba bergetar hebat. Cahaya hitam keunguan memancar dari bilahnya, dan ia melihat sebuah penglihatan — seorang gadis dengan rambut seputih salju, berdiri di tempat yang terang dan damai, memegang pedang putih yang bergetar. Lian Ying terkejut. “Siapa itu?” bisiknya. Namun penglihatan itu lenyap. Ia menatap pedangnya dengan bingung. “Apa yang terjadi denganmu?” Namun pedang itu tidak menjawab. Ia hanya terus bergetar, seolah-olah merindukan sesuatu yang telah lama hilang.
Keesokan paginya, Lian Hua menceritakan penglihatannya kepada Guru Lin. Guru Lin terdiam lama, wajahnya menunjukkan ekspresi yang sulit diartikan. “Guru, apa artinya ini?” tanya Lian Hua. Guru Lin menghela napas panjang. “Lian Hua… ada sesuatu yang harus aku ceritakan kepadamu. Sesuatu yang telah aku sembunyikan selama ini.” Ia duduk di samping Lian Hua dan menatapnya dengan mata yang penuh kasih. “Kau tidak sendiri di dunia ini. Kau memiliki seorang saudara kembar — seorang saudara laki-laki. Namanya Lian Ying.” Lian Hua terkejut. “Aku… aku punya saudara?” Guru Lin mengangguk. “Ya. Dan ia berada di tempat yang sangat jauh… di tempat yang penuh kegelapan.”
Di Lembah Bayangan, Lian Ying juga menceritakan penglihatannya kepada Pendeta Bayangan. Pendeta Bayangan terdiam, lalu berkata dengan suara yang dingin. “Kau memiliki seorang saudara perempuan. Namanya Lian Hua. Ia berada di pihak musuh — aliran Terang.” Lian Ying terkejut. “Aku… aku punya saudara perempuan? Mengapa kau tidak pernah memberitahuku?” Pendeta Bayangan menatapnya dengan mata tajam. “Karena itu tidak penting. Yang penting adalah kau harus kuat. Dan suatu hari nanti, kau harus bertarung melawan saudara perempuanmu. Karena hanya satu dari kalian yang bisa memiliki Pedang Bulan Kembar.” Lian Ying terdiam, hatinya dipenuhi kebingungan dan amarah.
Malam itu, Lian Hua duduk di tepi tebing, memandang bulan. Ia memikirkan kata-kata Guru Lin — tentang saudara kembarnya yang berada di tempat gelap. “Lian Ying…” bisiknya. “Aku ingin bertemu denganmu. Aku ingin mengenalmu.” Ia menggenggam pedang putihnya erat-erat. “Aku berjanji… aku akan mencarimu. Apa pun yang terjadi.” Di kejauhan, angin malam berdesir, membawa aroma bunga sakura. Dan di langit, bulan purnama bersinar terang, seolah-olah merestui tekadnya.

