Episode 1: “Turun Gunung”
Sastra/Fiksi, ElrolumNews –
Di puncak Pegunungan Salju Abadi, tempat yang konon menjadi atap dunia, hiduplah sebuah suku pendekar yang telah berabad-abad mengasingkan diri dari hiruk-pikuk dunia persilatan. Mereka adalah Suku Rajawali Putih — suku yang terkenal dengan ilmu silat angin dan salju, serta kesetiaan mereka pada kehormatan. Desa mereka tersembunyi di balik tebing-tebing curam, dikelilingi oleh hutan pinus yang tertutup salju abadi. Di desa itu, hiduplah seorang pemuda bernama Lin Bima. Ia berusia dua puluh tahun, dengan rambut hitam panjang yang diikat tinggi, rahang tegas, dan mata yang tajam seperti mata rajawali. Ia adalah pemuda paling berbakat di sukunya — calon penerus pemimpin suku.
Setiap pagi, sebelum matahari terbit, Lin Bima sudah berada di tepi tebing, berlatih ilmu silat Rajawali Putih. Gerakannya lincah dan kuat, seperti rajawali yang menari di udara. Ia menebas angin dengan pedang peraknya, menciptakan pusaran salju yang berputar-putar di sekelilingnya. “Bagus, Bima,” kata seorang kakek tua berjanggut panjang yang berdiri di kejauhan. Itu adalah Guru Tua, pemimpin Suku Rajawali Putih. “Kau telah menguasai jurus ‘Rajawali Menari’ dengan sempurna.” Lin Bima menundukkan kepalanya. “Terima kasih, Guru. Aku masih harus belajar banyak.”
Namun, kedamaian di puncak gunung itu tidak berlangsung lama. Suatu pagi, Guru Tua jatuh sakit parah. Tubuhnya lemah, dan ia tidak bisa bangun dari tempat tidurnya. Tabib suku itu memeriksa dan menggelengkan kepalanya. “Penyakit ini bukan penyakit biasa. Ia disebabkan oleh racun kuno yang hanya bisa disembuhkan dengan Bunga Salju Abadi — bunga yang tumbuh di Lembah Ular, di kaki gunung.” Lin Bima terkejut. “Lembah Ular? Itu tempat yang berbahaya!” Tabib itu mengangguk. “Ya. Tetapi jika tidak ada yang mengambil bunga itu, Guru Tua akan meninggal dalam tujuh hari.”
Lin Bima melangkah maju. “Aku akan pergi. Aku akan mengambil Bunga Salju Abadi.” Guru Tua membuka matanya, tersenyum lemah. “Bima… kau adalah harapan suku ini. Tetapi ingatlah… dunia di bawah sana berbeda. Kau harus berhati-hati. Tidak semua orang bisa dipercaya.” Lin Bima menundukkan kepalanya. “Aku akan berhati-hati, Guru. Aku berjanji akan kembali dengan obat itu.” Ia kemudian berpamitan dengan penduduk suku, yang mendoakan keselamatannya. Dengan pedang perak di punggungnya dan bekal di tasnya, ia mulai menuruni gunung.
Perjalanan menuruni gunung tidak mudah. Jalannya terjal dan licin, dengan tebing-tebing curam dan jurang yang dalam. Angin bertiup kencang, membawa serpihan salju yang menusuk kulit. Namun Lin Bima tidak mengeluh. Ia terus melangkah, mengingat wajah Guru Tua yang terbaring lemah. “Aku harus cepat,” bisiknya. “Aku harus menyelamatkan Guru Tua.” Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seekor rajawali putih yang terbang di atasnya, seolah-olah mengawalnya. “Apakah kau teman?” tanya Lin Bima sambil tersenyum. Rajawali itu melingkar di udara, lalu terbang ke arah bawah. Lin Bima mengikuti arah terbangnya.
Akhirnya, Lin Bima tiba di kaki gunung. Ia menginjakkan kakinya di tanah yang tidak tertutup salju untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Dunia di bawah sana terasa… berbeda. Udara lebih hangat, pepohonan lebih hijau, dan suara burung-burung terdengar riang. Namun, ia juga merasakan sesuatu yang aneh — seolah-olah ada mata yang mengawasinya. Ia menoleh, tetapi tidak melihat siapa pun. “Mungkin hanya perasaanku,” bisiknya. Ia melanjutkan perjalanan menuju kota terdekat — Kota Chang’an.

