PENDEKAR RAJAWALI PUTIH: Turun Gunung yang Mengubah Takdir Seorang Pemuda

Kota Chang’an adalah kota yang ramai dan megah — pusat perdagangan dan intrik di China kuno. Lin Bima berjalan melewati pasar yang penuh dengan pedagang, pendekar, dan pengemis. Ia merasa seperti orang asing di tempat ini. Semua orang tampak sibuk dengan urusan mereka sendiri. Tiba-tiba, ia melihat sekelompok preman sedang memukuli seorang pedagang tua. “Bayar utangmu, atau kami akan menghancurkan kiosmu!” teriak pemimpin preman. Lin Bima tidak bisa tinggal diam. Ia melangkah maju. “Hentikan!” suaranya lantang. Para preman menoleh dan tertawa. “Siapa kau, anak gunung? Pergi sana sebelum kami melukaimu!”

Lin Bima tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya tersenyum tipis dan melangkah maju. Dengan gerakan cepat, ia melumpuhkan para preman itu satu per satu — menggunakan jurus tangan kosong yang ia pelajari dari Suku Rajawali Putih. Dalam hitungan detik, para preman itu terkapar di tanah, mengerang kesakitan. Pedagang tua itu terkejut dan bersyukur. “Terima kasih, Tuan Muda! Kau menyelamatkan hidupku!” Lin Bima tersenyum. “Aku hanya melakukan apa yang benar.” Namun, di kejauhan, seseorang mengawasi — seorang pria tinggi kurus dengan jubah hitam dan mata merah menyala. Panglima Ular. Ia tersenyum sinis. “Pemuda dari gunung… kau akan menjadi masalah.”

Lin Bima melanjutkan perjalanannya menuju Lembah Ular. Ia bertanya kepada pedagang tua itu tentang lokasi lembah tersebut. “Lembah Ular? Itu tempat yang sangat berbahaya, Tuan Muda. Konon, lembah itu dijaga oleh sekte gelap yang disebut Sekte Ular Hitam. Mereka tidak segan membunuh siapa pun yang masuk ke wilayah mereka.” Lin Bima mengangguk. “Aku harus pergi ke sana. Ada obat yang hanya tumbuh di lembah itu.” Pedagang tua itu menghela napas. “Kalau begitu, berhati-hatilah. Dan jangan percaya pada siapa pun.”

Di tengah perjalanan menuju Lembah Ular, Lin Bima bertemu dengan seorang gadis muda yang sedang dikepung oleh sekelompok perampok. Gadis itu cantik dengan rambut hitam panjang tergerai, mata berbinar, dan mengenakan jubah biru yang anggun. Namun, ia bukan gadis biasa — ia melawan dengan lincah menggunakan sepasang belati. “Kalian tidak akan bisa mengambil tasku!” teriaknya. Lin Bima tidak ragu. Ia melompat ke tengah pertarungan dan membantu gadis itu. Bersama-sama, mereka mengalahkan para perampok itu. Gadis itu menatap Lin Bima dengan mata berbinar. “Terima kasih. Namaku Sari. Siapa kau?”

Lin Bima memperkenalkan diri. “Aku Lin Bima. Aku sedang dalam perjalanan menuju Lembah Ular.” Sari terkejut. “Lembah Ular? Itu tempat yang berbahaya! Apa yang kau cari di sana?” Lin Bima menjelaskan tentang Bunga Salju Abadi dan Guru Tua yang sakit. Sari terdiam sejenak, lalu berkata, “Aku tahu jalan menuju Lembah Ular. Aku bisa mengantarmu.” Lin Bima terkejut. “Kau yakin? Itu berbahaya.” Sari tersenyum. “Aku sudah biasa dengan bahaya. Lagipula, aku berhutang nyawa padamu.”

Mereka berdua melanjutkan perjalanan bersama. Di sepanjang jalan, Sari bercerita tentang dirinya — ia adalah seorang pencuri yang mencuri dari orang kaya dan membagikan hasilnya kepada orang miskin. “Aku tahu itu salah,” katanya. “Tetapi aku tidak punya pilihan. Orang tuaku meninggal ketika aku masih kecil, dan aku harus bertahan hidup.” Lin Bima tersenyum. “Aku tidak menghakimimu. Setiap orang memiliki jalan hidupnya sendiri.” Sari menatapnya dengan mata lembut. “Kau… berbeda dari orang lain, Lin Bima.”

Explore additional categories

Explore