Corrie ten Boom: Wanita yang Mengampuni Para Pembunuhnya

Religi, ELrolumNews, –

“Kisah nyata Corrie ten Boom, seorang pembuat jam dari Belanda yang menyembunyikan ratusan orang Yahudi dari Nazi. Ia selamat dari kamp kematian, tetapi kehilangan hampir seluruh keluarganya. Yang paling luar biasa: ia mengampuni orang yang telah membunuh saudarinya.”

Cornelia “Corrie” ten Boom lahir pada tanggal 15 April 1892 di Amsterdam, Belanda . Ia dibesarkan di kota Haarlem, di mana keluarganya memiliki toko jam yang terkenal. Sebelum Perang Dunia II, Corrie adalah salah satu dari sedikit pembuat jam wanita berlisensi di Belanda .

Keluarga ten Boom adalah keluarga Kristen yang taat. Mereka anggota Gereja Reformed Belanda dan dikenal karena kegiatan amal mereka . Kakek Corrie telah mendukung upaya memperbaiki hubungan Kristen-Yahudi pada abad ke-19. Kakaknya, Willem, adalah seorang pendeta Reformed yang melayani orang-orang Yahudi dan menjalankan panti jompo bagi orang dari semua agama .

Ketika Nazi Jerman menginvasi Belanda pada Mei 1940, kehidupan keluarga ten Boom berubah selamanya. Orang-orang Yahudi mulai menghilang. Dan keluarga ten Boom memutuskan untuk bertindak .

Rumah di Barteljorisstraat

Toko jam dan rumah keluarga ten Boom di Barteljorisstraat menjadi titik pertemuan bagi anggota perlawanan di pusat kota Haarlem . Menggunakan pekerjaannya sebagai pembuat jam sebagai kedok, Corrie membangun kontak dengan pekerja perlawanan. Ia menghubungkan orang-orang Yahudi dengan orang-orang yang bersedia menyembunyikan mereka .

Pada tahun 1943, Corrie, ayahnya Casper, dan saudarinya Betsie memutuskan untuk mengambil risiko tambahan: menyembunyikan orang-orang Yahudi secara penuh waktu di rumah keluarga . Mereka membangun ruang rahasia di balik dinding palsu di kamar tidur Corrie — cukup untuk menyembunyikan hingga enam orang .

Di jendela rumah mereka, tergantung tanda kecil berbentuk segitiga yang mengiklankan jam Tissot dari Swiss. Ketika tanda itu dipajang, aman bagi orang-orang Yahudi untuk masuk. Ketika tanda itu hilang, itu adalah tanda bahwa mereka harus kembali di lain waktu .

Keluarga ten Boom dipercaya telah membantu menyelamatkan ratusan orang Yahudi .

Pengkhianatan dan Penangkapan

Pada awal tahun 1944, keluarga ten Boom dikhianati.

Seorang informan Belanda melaporkan tempat persembunyian itu kepada Gestapo . Pada tanggal 28 Februari 1944, otoritas Nazi menyerbu rumah mereka . Enam orang — di antaranya orang Yahudi dan anggota perlawanan Belanda — bersembunyi di ruang rahasia selama penggerebekan. Mereka tidak ditemukan. Beberapa hari setelah penggerebekan, anggota perlawanan memindahkan mereka ke lokasi lain .

Tetapi Gestapo menangkap Corrie yang berusia 51 tahun, ayahnya, saudaranya Willem, dua saudarinya, dan keponakannya Peter van Woerden . Otoritas juga menangkap beberapa pekerja perlawanan yang tanpa sadar memasuki rumah selama penggerebekan, serta banyak kenalan keluarga yang hadir .

Ayah Corrie, Casper, meninggal di Penjara Scheveningen setelah hanya sepuluh hari ditahan . Corrie dan saudarinya Betsie dikirim ke kamp konsentrasi Ravensbrück di Jerman .

Di Ravensbrück: Terang di Tempat yang Gelap

Ravensbrück adalah kamp kematian khusus wanita — terkenal bahkan di Belanda .

Di tengah kengerian kamp, Corrie dan Betsie menjadi terang di tempat yang gelap. Mereka mengadakan kebaktian kecil di barak mereka setiap malam . Alkitab kecil yang mereka selundupkan menjadi pusat hidup mereka .

Betsie terus mendorong Corrie dengan kata-kata: “Tidak ada lubang yang begitu dalam sehingga Dia (Tuhan) tidak lebih dalam lagi.” 

Betsie juga mengajarkan Corrie untuk bersyukur — bahkan untuk kutu di barak. Ternyata, kutu itulah yang membuat para penjaga enggan memasuki barak mereka, sehingga mereka bisa beribadah tanpa pengawasan .

Tetapi kesehatan Betsie semakin memburuk. Pada suatu pagi, Betsie tidak bisa bangun dari tempat tidurnya. Ia meninggal di kamp .

Corrie kehilangan ayahnya, saudarinya, dan keponakannya. Hanya dia yang selamat .

Pembebasan yang Ajaib

Corrie dibebaskan dari Ravensbrück karena kesalahan administrasi — sebuah “clerical error” . Ia dibebaskan satu minggu sebelum semua wanita seusianya dikirim ke kamar gas .

Tuhan telah secara ajaib menyelamatkan hidupnya.

Setelah perang, Corrie kembali ke Belanda dan mendirikan pusat-pusat rehabilitasi. Ia memberikan perumahan gratis kepada ratusan penyintas yang terluka secara fisik atau emosional akibat perang .

Pertemuan yang Mengubah Segalanya

Dua tahun setelah perang, Corrie berada di Munich, Jerman, untuk berbicara tentang pengampunan di sebuah gereja .

Setelah acara selesai, seorang pria mendekatinya dan mengulurkan tangan. Corrie mengenalinya — dia adalah salah satu penjaga dari Ravensbrück .

Pria itu tidak mengenali Corrie. Ia berkata: “Fraulein, saya mendengar Anda menyebut Ravensbrück. Saya adalah penjaga di sana. Tetapi sejak hari-hari itu, saya telah menjadi seorang Kristen. Saya tahu bahwa Tuhan mengampuni saya, tetapi apakah Anda mau mengampuni saya?” 

Corrie menulis dalam bukunya, The Hiding Place:

“Saya berdiri di sana terpaku. Pria ini adalah monster. Dia telah membunuh keluarga saya, dan dia telah membunuh saudari saya.” 

Kenangan-kenangan mengerikan melintas di benaknya. Ia menyadari bahwa ia tidak mampu mengampuni .

“Saya mencoba tersenyum, saya berjuang untuk mengangkat tangan saya. Saya tidak bisa. Saya tidak merasakan apa-apa, tidak ada percikan kehangatan atau kasih sedikit pun. Dan sekali lagi saya mengucapkan doa dalam hati. Yesus, saya tidak bisa mengampuninya. Berikanlah pengampunan-Mu.” 

“Saya kemudian mengambil tangannya dan hal yang paling luar biasa terjadi. Dari bahu saya di sepanjang lengan dan melalui tangan saya, sepertinya ada arus yang mengalir dari saya kepadanya, sementara ke dalam hati saya muncul kasih untuk orang asing ini yang hampir membanjiri saya.” 

Corrie berkata: “Saya mengampuni Anda, saudara! Dengan segenap hati saya!” 

“Dan saya menemukan bahwa bukan pada pengampunan kita atau kebaikan kita bahwa penyembuhan dunia bergantung, tetapi pada-Nya. Ketika Dia menyuruh kita untuk mengasihi musuh-musuh kita, Dia memberikan, bersama dengan perintah itu, kasih itu sendiri.” 

Corrie kemudian berkata: “Hari itu, bukan hanya pria itu yang dibebaskan, tetapi saya juga dibebaskan.” 

Warisan Pengampunan

Corrie ten Boom melanjutkan pelayanannya selama lebih dari 30 tahun. Ia berkeliling dunia, berbicara di gereja-gereja, penjara, bahkan koloni penderita kusta. Ia menulis banyak buku, termasuk The Hiding Place (1971) yang menjadi film pada tahun 1975 .

Pada tanggal 12 Desember 1967, Yad Vashem — otoritas Holocaust Israel — mengakuinya sebagai “Righteous Among the Nations” — orang non-Yahudi yang berani menyelamatkan orang Yahudi selama Holocaust .

Corrie ten Boom meninggal pada tanggal 15 April 1983 — tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-91 — di California .

Pelajaran dari Corrie ten Boom

Dari kehidupan Corrie ten Boom, kita belajar banyak hal:

Pertama, pengampunan adalah tindakan kehendak, bukan perasaan. Corrie tidak merasa ingin mengampuni penjaga itu. Ia bahkan tidak mampu. Tetapi ia memilih untuk mengampuni, dan Tuhan memberikan perasaan itu. Corrie berkata: “Pengampunan adalah tindakan kehendak, dan kehendak dapat berfungsi terlepas dari suhu hati.” 

Kedua, Tuhan memberikan kasih bersama dengan perintah. Ketika Yesus memerintahkan kita untuk mengasihi musuh, Dia tidak hanya memberikan perintah — Dia memberikan kasih itu sendiri. Corrie mengalami ini secara nyata: ia tidak mampu mengampuni dengan kekuatannya sendiri, tetapi Tuhan memberinya kemampuan .

Ketiga, penderitaan tidak harus menghasilkan kepahitan. Corrie bisa saja membenci orang Jerman seumur hidupnya. Ia kehilangan ayah, saudari, dan keponakannya. Tetapi ia memilih untuk mengampuni. Dan dalam pengampunan itu, ia menemukan kebebasan .

Keempat, Tuhan menyertai umat-Nya bahkan di tempat yang paling gelap. Di Ravensbrück — tempat kematian dan penderitaan — Corrie dan Betsie mengadakan kebaktian, berbagi Alkitab, dan menghibur sesama tahanan. Tuhan tidak meninggalkan mereka.

Saya tidak tahu apa yang Anda hadapi hari ini.

Mungkin Anda sedang bergumul dengan luka yang dalam. Mungkin ada seseorang yang telah menyakiti Anda — begitu dalam sehingga Anda merasa tidak mungkin untuk mengampuni.

Ingatlah Corrie ten Boom.

Ia kehilangan hampir seluruh keluarganya. Ia disiksa dan hampir mati. Tetapi ia memilih untuk mengampuni. Bukan karena ia kuat — tetapi karena Tuhan yang memberinya kekuatan.

Pengampunan bukanlah perasaan. Pengampunan adalah keputusan. Dan ketika kita memilih untuk mengampuni, Tuhan memberikan kasih yang kita butuhkan.

“Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” — Matius 5:44

KESIMPULAN

Tiga Pelajaran dari Corrie ten Boom

1. Pengampunan Adalah Tindakan Kehendak

Corrie tidak merasa ingin mengampuni. Ia bahkan tidak mampu. Tetapi ia memilih untuk mengampuni, dan Tuhan memberikan perasaan itu. Pengampunan bukanlah emosi — pengampunan adalah keputusan.

“Pengampunan adalah tindakan kehendak, dan kehendak dapat berfungsi terlepas dari suhu hati.” — Corrie ten Boom 

2. Tuhan Memberikan Kasih Bersama dengan Perintah

Ketika Yesus memerintahkan kita untuk mengasihi musuh, Dia tidak hanya memberikan perintah — Dia memberikan kasih itu sendiri. Corrie mengalami ini: ia tidak mampu mengampuni dengan kekuatannya sendiri, tetapi Tuhan memberinya kemampuan.

“Ketika Dia menyuruh kita untuk mengasihi musuh-musuh kita, Dia memberikan, bersama dengan perintah itu, kasih itu sendiri.” — Corrie ten Boom 

3. Pengampunan Membebaskan yang Memberi dan yang Menerima

Corrie berkata: “Hari itu, bukan hanya pria itu yang dibebaskan, tetapi saya juga dibebaskan.”  Pengampunan tidak mengubah masa lalu — tetapi mengubah masa depan kita.

“Ketika Anda mengampuni, Anda tidak mengubah masa lalu, tetapi Anda mengubah masa depan Anda sendiri.” 

Untuk Renungan

  • Apakah ada seseorang yang sulit Anda ampuni saat ini?

  • Apakah Anda percaya bahwa Tuhan dapat memberikan kasih yang Anda butuhkan untuk mengampuni?

  • Bacalah Matius 18:21-35 — perumpamaan tentang pengampunan.

  • Bacalah Efesus 4:32 — “Hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”

  • Doakan orang yang telah menyakiti Anda. Mintalah Tuhan memberikan kasih-Nya.

Kabar baiknya: Tuhan tidak meminta kita untuk mengampuni dengan kekuatan kita sendiri. Dia memberikan kasih itu bersama dengan perintah-Nya. Dan ketika kita mengampuni, kita menemukan kebebasan yang sejati.

(el)

Sumber Utama
  1. United States Holocaust Memorial Museum. “Corrie ten Boom”. Holocaust Encyclopedia. Sumber resmi yang mendokumentasikan kehidupan Corrie ten Boom, termasuk kelahirannya (15 April 1892), latar belakang keluarganya, kegiatan perlawanan, penangkapan, dan pengakuannya sebagai Righteous Among the Nations (12 Desember 1967) .
  2. Ten Boom, Corrie. The Hiding Place. Buku otobiografi yang menceritakan pengalaman Corrie selama perang, termasuk pertemuannya dengan penjaga Ravensbrück dan pengampunannya .
  3. Loftis, Larry. The Watchmaker’s Daughter: The True Story of World War II Heroine Corrie ten Boom. William Morrow, 2023. Biografi komprehensif pertama dalam bahasa Inggris tentang Corrie ten Boom .
  4. Florida Center for Instructional Technology. “Corrie ten Boom Photograph Gallery”. Sumber yang mendokumentasikan nasib keluarga ten Boom setelah penangkapan .
  5. BBC – h2g2. “‘The Hiding Place’ and Corrie ten Boom” (2001). Sumber yang mengupas perjalanan Corrie dan Betsie dari penjara ke kamp konsentrasi Ravensbrück .
  6. OCLC – Papers of Corrie Ten Boom, 1902-1983. Arsip yang berisi surat-surat, foto, dan materi lain tentang kehidupan dan pelayanan Corrie ten Boom .
  7. Yad Vashem. Righteous Among the Nations Database. Sumber resmi yang mencatat pengakuan Corrie ten Boom sebagai “Righteous Among the Nations” pada tahun 1967 .

Catatan: Corrie ten Boom meninggal pada 15 April 1983 — tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-91 — di California . Ia dikenang sebagai salah satu evangelis paling berpengaruh di abad ke-20.

 

 

Share:

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

More like this

"Gladys Aylward memimpin seratus anak yatim berjalan melintasi pegunungan yang berbahaya dengan obor di tangan, melambangkan keberanian dan penyertaan Tuhan di tengah ancaman maut."

Wanita Sederhana yang Mengubah Tiongkok: Kisah Gladys Aylward

Religi, ElrolumNews -"Kisah nyata Gladys Aylward, seorang wanita biasa dari Inggris yang tidak diterima di sekolah misi,...
Ketika Tuhan Memakai Orang Biasa untuk Hal Luar Biasa

Ketika Tuhan Memakai Orang Biasa untuk Hal Luar Biasa

Religi, ELrolumNews -"Kisah ini terinspirasi dari pergumulan nyata banyak orang percaya yang merasa biasa dan tidak layak...
Ketika Kehilangan Mengajarkanku Arti Syukur

Ketika Kehilangan Mengajarkanku Arti Syukur

Religi, ELrolumNews -"Kisah ini terinspirasi dari pergumulan nyata banyak orang percaya yang pernah kehilangan dan belajar bersyukur...

More

Popular

Read More