Ketika Tuhan Memakai Orang Biasa untuk Hal Luar Biasa

Religi, ELrolumNews

“Kisah ini terinspirasi dari pergumulan nyata banyak orang percaya yang merasa biasa dan tidak layak dipakai oleh Tuhan. Nama dan detail disamarkan untuk menjaga privasi, tetapi kebenaran Firman di dalamnya nyata dan hidup.”


“Seorang petani sederhana yang merasa tidak punya apa-apa untuk ditawarkan menemukan bahwa Tuhan justru memakai orang-orang biasa untuk melakukan hal-hal luar biasa — karena kemuliaan bukan berasal dari manusia, tetapi dari Tuhan.”

Aku Hanya Orang Biasa

Aku tidak pernah menganggap diriku istimewa.

Aku lahir di desa kecil. Ayahku petani. Ibuku membantu di sawah. Aku tidak punya pendidikan tinggi. Tidak punya bakat khusus. Tidak punya karisma atau kemampuan berbicara di depan umum. Aku hanyalah seorang pria biasa yang menjalani hidup biasa.

Tapi Tuhan memiliki rencana yang tidak biasa.

Semuanya dimulai ketika seorang pendeta datang ke desa kami. Ia membawa kabar baik — Injil. Aku mendengarkan dengan saksama, dan untuk pertama kalinya, aku merasa ada sesuatu yang bergerak di dalam hatiku. Aku menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatku.

Aku mulai bersekutu dengan orang-orang percaya di desa. Aku belajar membaca Alkitab — meskipun aku harus belajar membaca dari awal. Aku menghadiri kebaktian setiap minggu. Aku mulai melayani dalam hal-hal kecil — membersihkan gereja, mengatur kursi, membantu orang tua.

Tapi suatu hari, pendeta itu memanggilku.

“Aku merasa Tuhan memanggilmu untuk melayani lebih dari ini,” katanya. “Aku ingin kau memimpin kelompok doa di desa sebelah.”

Aku terkejut. “Aku? Tapi aku tidak bisa bicara di depan umum. Aku tidak punya pendidikan. Aku hanya orang biasa.”

Pendeta itu tersenyum.

“Tuhan sering memakai orang biasa,” katanya. “Lihatlah Musa — ia tidak bisa bicara dengan baik. Lihatlah Yeremia — ia masih muda dan takut. Tapi Tuhan memakai mereka. Bukan karena mereka hebat, tetapi karena Tuhan yang hebat.”

Aku menunduk. Aku tidak yakin. Tapi ada sesuatu di dalam hatiku yang berkata: “Cobalah.”

Aku Seperti Yeremia

Aku mulai membaca kisah Yeremia.

Yeremia adalah seorang nabi yang dipanggil Tuhan ketika ia masih muda. Ketika Tuhan memanggilnya, ia merespons dengan ketakutan:

“Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda.” (Yeremia 1:6)

Aku merasakan hal yang sama. Aku tidak pandai berbicara. Aku tidak punya pendidikan teologi. Aku hanya petani sederhana yang baru belajar membaca.

Tapi Tuhan menjawab Yeremia:

“Jangan katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapa pun Aku mengutus engkau, haruslah engkau pergi, dan apa pun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah engkau sampaikan. Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau.” (Yeremia 1:7-8)

Aku berhenti di sana.

“Aku menyertai engkau.”

Itulah jawabannya. Bukan kemampuan Yeremia. Bukan pendidikannya. Bukan bakatnya. Tapi kehadiran Tuhan yang menyertainya.

Aku mulai mengerti: panggilan Tuhan tidak tergantung pada kemampuanku. Panggilan Tuhan tergantung pada kuasa-Nya yang bekerja melalui aku.

Aku Seperti Musa

Aku juga membaca kisah Musa.

Musa adalah pemimpin besar Israel. Tapi ketika Tuhan memanggilnya dari semak yang menyala, ia juga ragu:

“Tetapi Musa berkata kepada TUHAN: ‘Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu ini pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.'” (Keluaran 4:10)

Aku tersenyum. Musa — pembawa hukum, pemimpin yang membawa umat keluar dari Mesir — juga merasa tidak mampu.

Tuhan menjawab Musa:

“Siapakah yang membuat mulut manusia? Siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, orang melihat atau buta? Bukankah Aku, TUHAN? Karena itu pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau apa yang harus kaukatakan.” (Keluaran 4:11-12)

Tuhan tidak berkata: “Kau bisa melakukannya, Musa!” Tuhan berkata: “Aku akan menyertaimu.”

Aku menyadari: aku tidak perlu menjadi hebat. Aku hanya perlu percaya dan taat. Tuhan yang akan bekerja melalui aku.

Melangkah dalam Iman

Aku memutuskan untuk melangkah.

Aku mulai memimpin kelompok doa di desa sebelah. Awalnya, aku sangat gugup. Tanganku gemetar ketika membuka Alkitab. Suaraku bergetar ketika mulai berbicara. Tapi ada satu hal yang aku tahu: Tuhan menyertaiku.

Perlahan, aku mulai merasa lebih percaya diri. Bukan karena aku menjadi pandai bicara — aku masih biasa saja. Tapi karena aku melihat bagaimana Tuhan bekerja melalui aku.

Orang-orang mulai terbuka. Mereka berbagi pergumulan mereka. Mereka berdoa bersama. Beberapa dari mereka menerima Yesus. Kelompok doa itu tumbuh menjadi lebih dari sekadar kelompok doa — itu menjadi komunitas yang saling menguatkan.

Aku tidak melakukan hal-hal luar biasa. Aku hanya melakukan hal-hal kecil dengan setia. Tapi Tuhan yang memberkati hal-hal kecil itu.

Aku teringat pada perkataan Yesus dalam perumpamaan talenta:

“Hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar.” (Matius 25:21)

Aku tidak perlu memulai dengan hal-hal besar. Aku hanya perlu setia dalam hal-hal kecil. Dan Tuhan yang akan menambahkan berkat-Nya.

Dari Biasa Menjadi Berkat

Sekarang, bertahun-tahun kemudian, aku tidak menjadi pendeta terkenal. Aku tidak menjadi pengkhotbah besar. Aku masih petani sederhana yang tinggal di desa kecil.

Tapi ada satu hal yang berubah: aku percaya bahwa Tuhan bisa memakai orang biasa.

Setiap minggu, aku masih memimpin kelompok doa. Aku masih berbicara dengan sederhana. Aku masih membuat kesalahan. Tapi aku melihat bagaimana Tuhan bekerja melalui kata-kataku yang sederhana — menyentuh hati orang-orang yang datang.

Aku juga mulai melatih orang-orang lain untuk memimpin. Aku berkata kepada mereka seperti yang pendeta itu katakan kepadaku bertahun-tahun lalu:

“Kau mungkin merasa biasa. Kau mungkin merasa tidak layak. Tapi Tuhan memakai orang biasa. Bukan karena kita hebat, tetapi karena Dia hebat.”

Aku teringat pada perkataan Paulus:

“Pikirkanlah apa yang ada padamu, saudara-saudara, ketika kamu dipanggil: tidak banyak orang yang bijak menurut ukuran manusia, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terhormat. Tetapi Allah memilih apa yang bodoh untuk mempermalukan yang bijak, dan Allah memilih apa yang lemah untuk mempermalukan yang kuat.” (1 Korintus 1:26-27)

Aku adalah salah satu dari orang-orang bodoh dan lemah itu. Tapi Tuhan memilih aku. Bukan karena aku layak. Tapi karena anugerah-Nya cukup.

Saya tidak tahu apa yang Anda hadapi hari ini.

Mungkin Anda merasa tidak layak dipakai Tuhan. Mungkin Anda merasa tidak memiliki bakat atau kemampuan. Mungkin Anda berpikir: “Tuhan tidak bisa memakai orang seperti aku.”

Tapi saya ingin mengingatkan Anda: Tuhan memakai orang biasa.

Musa tidak bisa bicara dengan baik. Yeremia masih muda dan takut. Daud adalah anak bungsu yang diabaikan. Petrus adalah nelayan kasar yang sering salah. Paulus adalah penganiaya gereja.

Tapi Tuhan memakai mereka semua. Bukan karena mereka hebat, tetapi karena Tuhan yang hebat bekerja melalui mereka.

Jadi, jika Anda merasa biasa — bagus. Itu berarti Anda adalah kandidat yang sempurna untuk dipakai oleh Tuhan. Karena kuasa-Nya menjadi sempurna dalam kelemahan kita.

“Dan Ia berkata kepadaku: ‘Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.'” — 2 Korintus 12:9


“Pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau apa yang harus kaukatakan.” — Keluaran 4:12

KESIMPULAN

Tiga Kebenaran tentang Panggilan Tuhan

Firman Tuhan mengajarkan bahwa panggilan Tuhan tidak tergantung pada kemampuan kita, tetapi pada kuasa-Nya yang bekerja melalui kita.

1. Tuhan Memakai Orang yang Rendah Hati

Tuhan tidak mencari orang yang hebat. Tuhan mencari orang yang rendah hati dan mau dipakai. Musa dan Yeremia merasa tidak mampu. Tapi justru kerendahan hati mereka membuat mereka layak dipakai.

“Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” (Yakobus 4:6)

2. Kuasa Tuhan Sempurna dalam Kelemahan

Paulus belajar bahwa kelemahannya adalah kesempatan bagi kuasa Tuhan untuk dinyatakan. Semakin kita mengakui kelemahan kita, semakin kita membuka jalan bagi kuasa Tuhan.

“Sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” (2 Korintus 12:9)

3. Panggilan Tuhan Disertai dengan Penyertaan-Nya

Tuhan tidak pernah memanggil tanpa menyertai. Musa diberi janji: “Aku akan menyertai lidahmu.” Yeremia diberi janji: “Aku menyertai engkau.”

“Aku menyertai engkau, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan melepaskan engkau.” (Yeremia 1:19)

Untuk Renungan:

  • Bacalah Keluaran 3-4 — panggilan Musa.

  • Bacalah Yeremia 1 — panggilan Yeremia.

  • Apakah ada panggilan Tuhan yang selama ini kamu hindari karena merasa tidak mampu?

  • Apa yang menghalangimu untuk melangkah dalam iman?

Kabar baiknya: Tuhan tidak memanggil orang yang mampu. Dia memampukan orang yang dipanggil.

(el)

Share:

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

More like this

Ketika Kehilangan Mengajarkanku Arti Syukur

Ketika Kehilangan Mengajarkanku Arti Syukur

Religi, ELrolumNews -"Kisah ini terinspirasi dari pergumulan nyata banyak orang percaya yang pernah kehilangan dan belajar bersyukur...
"Seseorang berdiri di depan pintu kayu tertutup dengan cahaya keemasan dari balik pintu, melambangkan harapan dan awal baru di tengah ketidakpastian."

Ketika Tuhan Menutup Satu Pintu, Dia Membuka yang Lain

Religi, ElrolumNews -"Kisah ini terinspirasi dari pergumulan nyata banyak orang percaya yang pernah mengalami kekecewaan karena pintu...
Ketika Tuhan Menulis Ulang Naskah Hidupku

Ketika Tuhan Menulis Ulang Naskah Hidupku

Religi, ElrolumNews - "Kisah ini terinspirasi dari pergumulan nyata banyak orang percaya yang pernah bergumul dengan doa yang...

More

Recomended

Read More