Gunting yang Memisahkan Benua

History, ElrolumNews – Sebuah gunting. Benda yang kita gunakan untuk memotong kertas, kain, atau rambut. Tapi di atas meja para diplomat dan kartografer, gunting memiliki kekuatan yang jauh lebih besar: ia dapat memotong peta—dan memisahkan benua.

Sepanjang sejarah, gunting telah digunakan untuk memotong peta dunia, membagi wilayah, dan menciptakan perbatasan yang menentukan nasib jutaan orang. Dari Konferensi Berlin yang membagi Afrika hingga partisi India dan Pakistan, dari pemotongan Timur Tengah hingga pemisahan Korea—gunting adalah alat yang memisahkan benua, memecah bangsa, dan memicu perang.

Tahun 1884-1885. Para diplomat Eropa berkumpul di Berlin untuk membagi-bagi Afrika. Tidak ada satu pun orang Afrika yang diundang ke konferensi itu. Dengan penggaris, pensil, dan gunting, mereka memotong peta Afrika seperti memotong kue .

44 persen perbatasan Afrika yang kita kenal hari ini adalah garis lurus—bukti bahwa mereka digambar oleh orang-orang yang tidak memahami medan, suku, atau budaya masyarakat setempat . Gunting-gunting itu memotong melalui wilayah suku, memisahkan keluarga, dan menciptakan negara-negara yang tidak pernah ada sebelumnya.

Akibatnya, konflik antar-etnis yang meletus puluhan tahun kemudian—di Rwanda, Sudan, Nigeria, dan banyak tempat lainnya—dapat dilacak hingga gunting yang memotong peta di Berlin.

Tahun 1947. India akan merdeka dari Inggris. Tapi ada masalah besar: bagaimana membagi wilayah antara Hindu dan Muslim?

Tugas itu jatuh ke tangan Sir Cyril Radcliffe—seorang pengacara Inggris yang belum pernah mengunjungi India . Ia diberi waktu hanya lima minggu untuk menggambar perbatasan antara India dan Pakistan yang baru dibentuk. Radcliffe menggunakan peta usang, tanpa data sensus yang akurat, dan tanpa pengetahuan tentang medan, sungai, atau komunitas lokal.

Ia menggambar garis dengan pensil—Garis Radcliffe—yang membelah Punjab dan Bengal. Lalu, gunting memotong peta itu. Hasilnya adalah bencana: 14 juta orang mengungsi, dan hingga 2 juta orang tewas dalam kekerasan yang terjadi setelah partisi .

Radcliffe sendiri meninggalkan India segera setelah menyelesaikan tugasnya, dan membakar semua kertas kerjanya. Ia tidak pernah membicarakan partisi itu lagi .

Tahun 1916. Perang Dunia I masih berkecamuk. Di tengah rahasia, dua diplomat—Mark Sykes dari Inggris dan François Georges-Picot dari Perancis—duduk bersama di sebuah ruangan di London . Mereka membawa peta Timur Tengah dan gunting.

Dengan persetujuan Rusia, mereka membagi wilayah Kesultanan Utsmaniyah yang saat itu masih berkuasa. Garis yang mereka gambar menentukan zona pengaruh Inggris dan Perancis: Suriah dan Lebanon untuk Perancis, Irak dan Palestina untuk Inggris .

Masalahnya? Mereka tidak mempertimbangkan suku, agama, atau sejarah lokal. Gunting-gunting itu memotong melalui wilayah Kurdi, Sunni, Syiah, dan puluhan kelompok etnis dan agama lainnya. Perjanjian Sykes-Picot menjadi dasar perbatasan modern Timur Tengah—dan sumber konflik yang masih berlangsung hingga hari ini.

Tahun 1945. Perang Dunia II berakhir. Jepang menyerah. Korea—yang telah dijajah Jepang selama 35 tahun—akhirnya merdeka. Tapi kemerdekaan itu tidak bertahan lama. Dua perwira Amerika—Dean Rusk dan Charles Bonesteel—ditugaskan untuk membagi Korea menjadi dua zona pendudukan: utara untuk Soviet, selatan untuk Amerika .

Mereka menggunakan peta National Geographic dan gunting. Mereka memotong Korea di Garis Paralel ke-38—garis lintang yang membelah semenanjung menjadi dua . Mereka tidak mempertimbangkan sejarah, budaya, atau ekonomi Korea. Mereka hanya butuh garis yang mudah dijelaskan.

Gunting itu memotong Korea menjadi dua. Perang Korea meletus pada 1950. Hingga hari ini, Korea Utara dan Korea Selatan masih terpisah—dan Garis Paralel ke-38 masih menjadi salah satu perbatasan paling tegang di dunia.

Gunting adalah benda sederhana. Tapi di tangan para diplomat dan kartografer, ia menjadi alat yang mengubah peta dunia. Gunting-gunting itu:

  • Memotong Afrika menjadi negara-negara yang tidak pernah ada.

  • Memisahkan India dan Pakistan—dan memicu salah satu migrasi terbesar dalam sejarah.

  • Membagi Timur Tengah—dan menciptakan konflik yang masih berlangsung.

  • Memisahkan Korea—dan memecah satu bangsa menjadi dua.

Gunting adalah pengingat bahwa keputusan yang tampak sepele—memotong peta—dapat memiliki konsekuensi yang berlangsung selama beberapa generasi. Dan yang paling menyedihkan: gunting-gunting itu sering digunakan oleh orang-orang yang tidak memahami medan, budaya, atau sejarah masyarakat yang mereka bagi.

Gunting menjadi simbol dari kekuasaan yang sewenang-wenang—keputusan yang diambil di ruang rapat, jauh dari medan yang sebenarnya, oleh orang-orang yang tidak memahami konsekuensinya. Konferensi Berlin, Garis Radcliffe, Sykes-Picot, dan Paralel ke-38 adalah contoh bagaimana gunting di atas peta dapat memicu konflik yang berlangsung selama beberapa generasi.

Namun, perlu dicatat bahwa gunting hanyalah alat. Yang menentukan adalah tangan yang memegangnya—dan pikiran yang membuat keputusan. Gunting tidak bisa disalahkan atas perang. Tapi gunting adalah pengingat bahwa keputusan yang tampak sepele dapat memiliki konsekuensi yang tak terbayangkan.

Dan pertanyaan kecil tetap bergema: Bagaimana jika gunting itu tidak pernah memotong peta? Berapa banyak konflik yang bisa dihindari?

Artikel ini adalah bagian dari seri “Momen Sepele yang Mengubah Dunia”. Pantau terus rubrik sejarah kami untuk edisi-edisi berikutnya.

(el)

SUMBER DAN RUJUKAN
  1. National Geographic Indonesia (2024) – Konferensi Berlin 1884-1885 dan pembagian Afrika oleh kekuatan kolonial Eropa .
  2. Kompas.com (2023) – Kisah Sir Cyril Radcliffe dan Garis Radcliffe yang memecah India dan Pakistan .
  3. History.com (2022) – Perjanjian Sykes-Picot dan dampaknya terhadap perbatasan modern Timur Tengah .
  4. BBC News (2021) – Pembagian Korea di Paralel ke-38 dan peran Dean Rusk serta Charles Bonesteel .
  5. The Guardian (2020) – Analisis tentang dampak jangka panjang dari perbatasan kolonial di Afrika dan Asia .
  6. Encyclopaedia Britannica – Sejarah partisi India dan peran Radcliffe dalam menggambar perbatasan .

 

Share:

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

More like this

Lilin—benda sederhana yang mengubah malam manusia dan membuka jalan bagi peradaban setelah gelap

Lilin yang Mengubah Malam Manusia

History, ELrolumnews - Bayangkan dunia tanpa cahaya buatan. Saat matahari terbenam, aktivitas manusia berhenti. Tidak ada membaca,...
Blewah berjamur—buah sederhana yang menyelamatkan jutaan nyawa dengan penisilin

Ketika Roti Terbuang Menyelamatkan Pasukan

History, Elrolumnews - Tahun 1943. Di sebuah laboratorium di Peoria, Illinois, Amerika Serikat, seorang ilmuwan sedang bekerja...
Paku besi—benda kecil yang menyatukan kapal Columbus dan membuka jalan menuju Dunia Baru

Paku yang Menyatukan Kapal Columbus

History, ELrolumNews, - Tahun 1492. Tiga kapal—Santa Maria, Pinta, dan Niña—berlayar dari pelabuhan Palos, Spanyol, menuju tempat...

More

Popular

Read More