Korek Api yang Membakar Perpustakaan Alexandria: Ketika Api Kecil Menghapus Pengetahuan Dunia

History, ElrolumNews – Bayangkan sebuah perpustakaan yang menyimpan seluruh pengetahuan dunia kuno. Ribuan gulungan papirus berisi karya Aristoteles, Plato, Euclid, dan para ilmuwan terbesar sepanjang masa. Di sinilah para cendekiawan dari seluruh dunia berkumpul untuk belajar, meneliti, dan berdiskusi. Inilah Perpustakaan Alexandria—pusat pengetahuan terbesar yang pernah ada .

Tapi pada suatu malam, api berkobar. Ribuan gulungan hangus terbakar. Pengetahuan yang terkumpul selama berabad-abad lenyap dalam hitungan jam. Dan hingga hari ini, tidak ada yang tahu pasti siapa yang bertanggung jawab. Yang pasti: perpustakaan ini tidak pernah pulih.

Perpustakaan Alexandria didirikan sekitar tahun 283 SM oleh Ptolemy I Soter, salah satu jenderal Alexander Agung yang menjadi firaun Mesir . Putranya, Ptolemy II Philadelphus, menyelesaikan proyek ini dan menjadikannya pusat pengetahuan dunia .

Pada puncak kejayaannya, perpustakaan ini diperkirakan menyimpan antara 40.000 hingga 900.000 gulungan papirus . Koleksinya mencakup karya-karya dari Yunani, Persia, Suriah, India, dan Mesir sendiri . Para agen kerajaan dikirim ke seluruh dunia untuk mengumpulkan atau menyalin naskah berharga.

Perpustakaan ini bukan sekadar tempat menyimpan buku. Ia adalah pusat penelitian yang lengkap dengan ruang kuliah, taman, kebun binatang, dan tempat tinggal bagi para ilmuwan . Di sinilah Euclid menulis Elemen, Archimedes menemukan hukum fisika, dan Eratosthenes menghitung keliling bumi dengan akurasi luar biasa.

illustration of the ancient Library of Alexandria in its golden age
illustration of the ancient Library of Alexandria in its golden age

Pada tahun 48 SM, Alexandria terseret dalam perang saudara Mesir. Julius Caesar datang ke kota untuk membela sekutunya, Cleopatra, melawan saudaranya Ptolemy XIV . Dalam upaya memblokir armada Ptolemy yang terkepung di pelabuhan, Caesar memerintahkan anak buahnya untuk membakar kapal-kapal Mesir .

Api menyebar dengan cepat. Banyak bangunan di pantai terbakar—termasuk gudang senjata dan, menurut beberapa sumber, sebagian Perpustakaan Alexandria . Filsuf Seneca kemudian menulis bahwa 40.000 gulungan hilang dalam kebakaran itu . Plutarch, sejarawan Yunani, bahkan mengklaim bahwa seluruh perpustakaan terbakar .

Tapi ada masalah dengan teori ini. Strabo, seorang geografer Yunani yang mengunjungi Alexandria pada 20 SM—sekitar 28 tahun setelah kebakaran—masih menyebutkan keberadaan Mouseion (kompleks tempat perpustakaan berada) . Ia tidak menyebut perpustakaan itu hilang. Ini menyiratkan bahwa perpustakaan selamat dari kebakaran Caesar .

Para ahli modern juga meragukan bahwa api dari pelabuhan bisa mencapai perpustakaan. Lokasi Mouseion diperkirakan berada jauh dari dermaga . Yang terbakar mungkin adalah gudang penyimpanan di pelabuhan, bukan perpustakaan utama .

illustration of Julius Caesar ordering the burning of Egyptian ships in the port of Alexandria
illustration of Julius Caesar ordering the burning of Egyptian ships in the port of Alexandria

Teori kedua menunjuk pada konflik agama pada abad ke-4 Masehi. Pada tahun 391 M, Kaisar Theodosius mengeluarkan dekrit yang melarang praktik paganisme . Patriark Theophilus dari Alexandria memimpin penghancuran kuil-kuil kafir—termasuk Serapeum, kuil yang juga berfungsi sebagai cabang perpustakaan .

Serapeum diperkirakan menyimpan sekitar 10 persen dari koleksi Perpustakaan Alexandria . Dalam amukan itu, banyak dokumen dihancurkan. Serapeum kemudian diubah menjadi gereja Kristen .

Namun sekali lagi, yang dihancurkan adalah cabang perpustakaan, bukan perpustakaan utama yang berada di Mouseion . Perpustakaan pusat mungkin sudah dalam kemunduran jauh sebelum itu.

Pada tahun 415 M, kekerasan berlanjut. Hypatia, seorang filsuf perempuan dan ilmuwan terkemuka, dibunuh secara brutal oleh massa Kristen . Kematiannya sering dianggap sebagai simbol akhir dari era keilmuan Alexandria .

illustration of the Serapeum in flames
illustration of the Serapeum in flames

Teori paling kontroversial muncul dari sebuah kisah yang baru muncul pada abad ke-13—lebih dari 500 tahun setelah penaklukan Arab atas Mesir pada tahun 642 M .

Kisah ini—yang diceritakan oleh sejarawan Arab bernama Ibn al-Qifṭī—mengklaim bahwa Khalifah Umar bin Khattab memerintahkan Jenderal Amr bin al-Ash untuk membakar Perpustakaan Alexandria . Kata-kata yang dikaitkan dengan Umar berbunyi: “Jika isi buku-buku itu sesuai dengan Al-Qur’an, maka kita tidak membutuhkannya. Jika isinya bertentangan dengan Al-Qur’an, maka kita harus menghancurkannya.”

Kisah ini kemudian diulang oleh sejarawan Barat seperti Edward Gibbon dalam bukunya The Decline and Fall of the Roman Empire .

illustration of a medieval Arab historian writing a manuscript
illustration of a medieval Arab historian writing a manuscript

Para sejarawan modern sepakat bahwa kisah ini tidak berdasar. Berikut alasannya:

1. Tidak ada catatan kontemporer

Selama lebih dari lima abad setelah penaklukan Arab, tidak ada satu pun sejarawan—baik dari pihak Arab, Koptik, maupun Bizantium—yang menyebutkan insiden ini . Cerita ini baru muncul secara tiba-tiba pada abad ke-13. Ini adalah indikasi kuat bahwa kisah itu dipalsukan.

2. Perpustakaan sudah tidak ada pada 642 M

Sejarawan Mesir, Dr. Zubaida Atta Allah, mencatat bahwa Perpustakaan Alexandria terakhir kali terbakar pada tahun 391 M—sekitar 250 tahun sebelum penaklukan Arab . Profesor Mustafa El-Abbadi, mantan direktur Bibliotheca Alexandrina, menegaskan bahwa ketika Amr bin al-Ash memasuki Alexandria pada 642 M, perpustakaan itu sudah tidak ada lagi .

3. Konteks Perang Salib

Kisah ini muncul pada masa Perang Salib, ketika propaganda anti-Islam sedang memuncak di Eropa. Sejarawan Mostafa El-Abbadi berpendapat bahwa kisah ini mungkin diciptakan untuk menjelekkan Islam di mata dunia Kristen .

4. Umar bukanlah pembakar perpustakaan

Para sejarawan dari berbagai latar belakang telah membantah tuduhan ini—termasuk sejarawan Barat seperti Edward Gibbon sendiri yang meragukan kisah ini , serta para ahli dari Al-Azhar  dan Universitas Kairo . Mereka menegaskan bahwa tidak ada bukti sejarah yang mendukung klaim ini.

Perpustakaan Alexandria adalah pengingat tentang betapa rapuhnya pengetahuan manusia. Api, perang, dan intoleransi dapat menghapus berabad-abad kebijaksanaan dalam sekejap.

Tapi siapa pun yang bertanggung jawab atas kehancurannya—Caesar, orang Kristen, atau legenda yang dipalsukan—satu hal yang pasti: perpustakaan itu tidak pernah pulih. Dan dunia kehilangan harta yang tak ternilai.

Hari ini, di situs yang sama, berdiri Bibliotheca Alexandrina—perpustakaan modern yang dibangun sebagai penghormatan pada pendahulunya yang hilang . Ini adalah pengingat bahwa meskipun api dapat membakar gulungan, api pengetahuan tidak pernah benar-benar padam.

Dan pertanyaan kecil tetap bergema: Berapa banyak pengetahuan yang hilang selamanya karena api yang tidak terkendali? Berapa banyak lagi yang akan hilang jika kita tidak menjaga warisan kita?

Kehancuran Perpustakaan Alexandria adalah salah satu misteri terbesar dalam sejarah. Tidak ada satu peristiwa tunggal yang menghancurkannya—ia mengalami serangkaian kemunduran selama berabad-abad . Yang paling penting untuk dicatat: kisah tentang Khalifah Umar yang membakar perpustakaan adalah rekayasa abad ke-13 yang muncul pada masa Perang Salib . Para sejarawan modern dari berbagai latar belakang sepakat bahwa perpustakaan sudah tidak ada lagi ketika pasukan Arab memasuki Alexandria pada tahun 642 M.

Artikel ini adalah bagian dari seri “Momen Sepele yang Mengubah Dunia”. Pantau terus rubrik sejarah kami untuk edisi-edisi berikutnya.

(el)

SUMBER DAN RUJUKAN
  1. National Geographic Indonesia (2021) – Tiga teori tentang siapa yang bertanggung jawab atas hilangnya Perpustakaan Alexandria, termasuk peran Julius Caesar pada 48 SM dan penghancuran Serapeum pada 391 M .
  2. National Geographic Indonesia (2026) – Sejarah pembangunan perpustakaan pada masa Dinasti Ptolemaik dan misteri kebakaran yang menghancurkannya .
  3. Encyclopedia Britannica – Analisis Mustafa El-Abbadi tentang kisah pembakaran oleh Amr bin al-Ash yang terbukti sebagai rekayasa abad ke-13 .
  4. National Geographic (2025) – Teori-teori tentang kehancuran perpustakaan, termasuk peran Julius Caesar dan konflik agama abad ke-4 .
  5. Portal Al-Azhar (2019) – Pembantahan tuduhan terhadap Khalifah Umar dan penegasan bahwa perpustakaan sudah tidak ada saat penaklukan Arab .
  6. RRI.co.id (2026) – Ringkasan tiga peristiwa yang merusak Perpustakaan Alexandria: kebakaran Caesar, penghancuran Serapeum, dan kemunduran di bawah Romawi .
  7. Brill (2010) – Analisis arkeologis Jean-Yves Empereur tentang lokasi perpustakaan dan teori yang mungkin .
  8. National Geographic Newsletter (2026) – Wawancara dengan Roger Bagnall tentang ukuran, lokasi, dan kehancuran perpustakaan .
  9. OSU eHistory – Tiga tersangka utama: Julius Caesar, Theophilus, dan Khalifah Umar .
  10. Al-Youm Al-Sabaa (2014) – Pernyataan sejarawan Mesir bahwa perpustakaan terakhir terbakar pada 391 M, 250 tahun sebelum penaklukan Arab .
  11. The Daily Beast (2018) – Analisis bahwa perpustakaan hancur secara bertahap akibat konflik dan perubahan rezim, bukan satu peristiwa besar .

 

Share:

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

More like this

Ilustrasi

Kesalahan Hitung yang Menghancurkan Perusahaan: Ketika Angka Salah Mengubah...

History, ElrolumNews - Bayangkan ini: seorang pegawai di sebuah perusahaan sekuritas Korea Selatan sedang memasukkan data untuk...
Illustrasi

Kertas Toilet yang Mengubah Peradaban: Ketika Lembaran Tipis Menjadi...

History, ElrolumNews - Bayangkan dunia tanpa kertas toilet. Sulit, bukan? Tapi selama ribuan tahun, manusia hidup tanpa...
Ilustrasi

Bola Lampu yang Menghabiskan Hidup Penemunya: Ketika Terang Mengalahkan...

History, ElrolumNews - 11 Februari 1847. Seorang anak lahir di Milan, Ohio, Amerika Serikat. Namanya Thomas Alva...

More

Recomended

Read More