New York, Elrolumnews — Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyatakan kesiapan Rusia untuk berdialog guna membangun perdamaian jangka panjang dengan Ukraina. Pernyataan ini disampaikan dalam pidatonya di sidang Dewan Keamanan PBB di New York, Rabu (23/9/2026).
“Kami siap bernegosiasi untuk membangun perdamaian yang langgeng, tetapi kami tidak akan menghentikan operasi militer selama proses negosiasi dengan cara apa pun,” tegas Lavrov.
Ia beralasan bahwa penghentian operasi militer dapat memberi Ukraina waktu tambahan untuk memperkuat sumber daya militernya. Menurutnya, Rusia tidak ingin memberikan keuntungan strategis kepada pihak lawan di tengah upaya diplomasi.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada 23 September menyatakan bahwa Rusia dan Ukraina sama-sama tertarik pada gencatan senjata terbatas yang mencakup sektor energi, biji-bijian, dan Laut Hitam. Gencatan senjata parsial ini diharapkan dapat membuka jalan baru menuju perundingan damai yang lebih komprehensif.
“Kami melihat adanya ketertarikan dari kedua belah pihak untuk mencapai gencatan senjata terbatas di sektor energi, biji-bijian, dan Laut Hitam. Ini bisa menjadi langkah awal menuju perdamaian yang lebih luas,” ujar Rubio.
Dalam pidatonya yang berlangsung sekitar 20 menit, Lavrov juga menyoroti sejumlah isu global, termasuk ketegangan di Timur Tengah dan peran PBB dalam menjaga perdamaian dunia. Ia menegaskan bahwa Rusia akan terus memperjuangkan kepentingan nasionalnya di panggung internasional.
“Rusia adalah negara yang cinta damai, tetapi kami tidak akan pernah mengorbankan kedaulatan dan keamanan kami,” tegasnya.
Lavrov dijadwalkan bertemu dengan Rubio di sela-sela Sidang Umum PBB pada 23 September. Pertemuan ini menjadi yang pertama antara kedua diplomat sejak pembicaraan damai yang dimediasi AS pada Agustus lalu.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, mengonfirmasi pertemuan tersebut. “Pertemuan antara Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio akan berlangsung pada 23 September di New York,” ujarnya.
Upaya perdamaian yang dimediasi AS pada Agustus lalu sempat menciptakan momentum. Utusan khusus Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, mengunjungi Moskow dan Kyiv untuk membahas proposal perdamaian. Namun, hingga saat ini belum ada kesepakatan konkret yang dicapai.
Rusia terus melanjutkan serangan terhadap infrastruktur Ukraina, sementara Ukraina juga melancarkan serangan balasan terhadap target-target di Rusia. Konflik yang telah berlangsung lebih dari empat tahun ini masih jauh dari penyelesaian.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sebelumnya menyatakan bahwa Ukraina siap melakukan gencatan senjata energi timbal balik jika Rusia menghentikan serangan terhadap infrastruktur listrik dan utilitas.
“Kami siap untuk gencatan senjata energi timbal balik. Jika Rusia menghentikan serangan terhadap infrastruktur listrik dan utilitas kami, kami juga akan menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi mereka,” ujar Zelenskyy dalam pertemuannya dengan Trump di PBB.
(fvs)





