KRAMATORSK, ElrolumNews — Rusia melancarkan serangan udara terhadap kota Kramatorsk di Oblast Donetsk, Ukraina timur, pada Kamis pagi, 8 Oktober 2026. Sebuah bom luncur menghantam dua bus penumpang yang sedang beroperasi, memicu kebakaran hebat dan menewaskan sedikitnya 30 orang.
Gubernur Oblast Donetsk, Vadym Filashkin, mengonfirmasi bahwa jumlah korban tewas telah meningkat menjadi 30 orang, dengan 18 lainnya mengalami luka-luka. Kantor Kejaksaan Regional Donetsk menyatakan bus-bus tersebut dihantam bom luncur.
Kepala Administrasi Militer Kota Kramatorsk, Oleksandr Honcharenko, dalam pernyataannya di Facebook mengecam serangan tersebut.
“Rusia kembali menyerang tempat yang sama sekali tidak memiliki target militer. Sebuah bus biasa. Transportasi umum. Orang-orang yang sedang menjalani aktivitas sehari-hari,” tulis Honcharenko.
Menurut informasi awal dari Kantor Kejaksaan Oblast Donetsk, jumlah korban tewas awalnya dilaporkan 12 orang, namun dengan cepat naik menjadi 30 orang. Layanan Darurat Negara Ukraina (SES) kemudian menyatakan sedikitnya 33 orang tewas dan 22 lainnya luka-luka. Perbedaan angka ini disebabkan oleh pembaruan data yang terus berkembang di lapangan.
Filashkin menyatakan bahwa proses identifikasi korban masih berlangsung, dan ia memperingatkan bahwa jumlah korban tewas berpotensi bertambah karena beberapa korban mengalami luka serius.
Kantor Kejaksaan Ukraina telah membuka penyelidikan awal dengan dugaan kejahatan perang.
Kramatorsk merupakan salah satu kota kunci di Oblast Donetsk yang masih berada di bawah kendali Ukraina. Sebelum perang, kota ini berpenduduk sekitar 150 ribu jiwa. Selama konflik berlangsung, Kramatorsk menjadi pusat logistik dan pasokan utama bagi pasukan Ukraina di front timur, serta bagian dari apa yang disebut sebagai sabuk benteng pertahanan.
Setelah serangan, Filashkin mengumumkan bahwa seluruh layanan transportasi umum di Kramatorsk dan kota tetangga, Sloviansk, dihentikan sementara karena situasi keamanan yang memburuk secara drastis. Ia juga meminta warga yang masih berada di wilayah Donetsk untuk mengungsi ke wilayah yang lebih aman di Ukraina.
“Rusia sengaja menyasar warga sipil. Bagi mereka, bus yang penuh penumpang menjadi menarik justru karena satu serangan bisa menewaskan sebanyak mungkin orang,” ujar Filashkin.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam pernyataannya di Telegram menyatakan bahwa serangan ini tidak akan dibiarkan tanpa respons. Ia menuduh Rusia berusaha menghancurkan segala bentuk kehidupan di Donbas dan meminta komunitas internasional memberikan respons tegas.
“Para dokter saat ini sedang berjuang untuk menyelamatkan nyawa. Hingga saat ini, 30 orang dipastikan tewas, dan yang menyedihkan, angka ini bisa bertambah,” tulis Zelenskyy.
Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB, Volker Türk, menyatakan sangat terkejut atas serangan tersebut. Ia mencatat bahwa sejak Senin, sedikitnya 85 warga sipil tewas dan 346 lainnya luka-luka akibat serangan Rusia di berbagai wilayah Ukraina. Türk menegaskan bahwa serangan yang dengan sengaja menyasar warga sipil dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Menteri Luar Negeri Inggris, Ed Miliband, yang sedang berada di Ukraina dan mengunjungi lokasi serangan di Pryluky sehari sebelumnya, menyebut serangan Kramatorsk sebagai sinyal paling jelas dari niat jahat dan strategi Putin.
Serangan terhadap bus ini terjadi di tengah intensifikasi serangan udara Rusia terhadap kota-kota di seluruh Ukraina. Sehari sebelumnya, 7 Oktober 2026, rudal Rusia menghantam sebuah gedung apartemen lima lantai di kota Pryluky, Ukraina utara, menewaskan 22 orang, termasuk lima anak-anak.
Sejak musim panas tahun ini, Rusia secara signifikan meningkatkan serangan jarak jauh, dengan sasaran infrastruktur energi, jaringan transportasi, dan kawasan permukiman. Beberapa jembatan utama di atas Sungai Dnipro di Kyiv menjadi sasaran berulang, menyebabkan gangguan serius pada lalu lintas ibu kota. Beberapa wilayah di Ukraina juga memberlakukan pemadaman listrik darurat.
Angkatan Udara Ukraina melaporkan bahwa dalam serangan malam terbaru, sistem pertahanan udaranya berhasil menembak jatuh 126 dari 142 drone serang yang diluncurkan Rusia.




