Kawah Baru Muncul di Bulan: Tumbukan Langka Mengubah Permukaan Sejauh 7 Kilometer

Science, ElrolumNews — Bulan selama ini terlihat seperti dunia yang nyaris tidak berubah. Permukaannya dipenuhi kawah-kawah tua yang menjadi saksi tumbukan selama miliaran tahun. Namun, pengamatan terbaru menunjukkan bahwa Bulan sebenarnya masih terus mengalami perubahan.

Para ilmuwan menemukan sebuah kawah baru berdiameter sekitar 222 meter yang terbentuk setelah sebuah benda langit menghantam permukaan Bulan pada musim semi 2024. Kawah tersebut kemudian diberi nama McGetchin, untuk menghormati ilmuwan Bulan dan planet Thomas McGetchin.

Yang membuat penemuan ini istimewa adalah kesempatan langka bagi para ilmuwan untuk mempelajari sebuah kawah yang masih sangat muda dalam skala waktu geologi.

Ditemukan dari perbandingan gambar lama dan baru

Kawah McGetchin tidak langsung diketahui ketika tumbukan terjadi.

Penemuan bermula dari pekerjaan Robert Wagner, spesialis pengolahan citra yang bekerja dengan data kamera Lunar Reconnaissance Orbiter Camera atau LROC milik NASA. Dengan membandingkan gambar-gambar permukaan Bulan yang diambil pada waktu berbeda, ia menemukan perubahan mencolok pada salah satu wilayah permukaan Bulan.

Pemeriksaan lanjutan menggunakan kamera beresolusi lebih tinggi memastikan bahwa perubahan tersebut merupakan kawah baru.

Para peneliti memperkirakan tumbukan terjadi antara 11 April dan 22 Mei 2024.

Objek yang menghantam Bulan diperkirakan merupakan fragmen asteroid atau komet. Ukurannya diperkirakan berada pada skala beberapa puluh meter—cukup besar untuk menghasilkan kawah dengan diameter lebih dari dua ratus meter.

Besarnya seperti dua lapangan sepak bola

Kawah McGetchin memiliki diameter sekitar 222 meter dan kedalaman rata-rata sekitar 43 meter.

Skala tersebut membuatnya kira-kira sepanjang dua lapangan sepak bola jika dibandingkan secara visual.

Namun, ukuran kawah bukan satu-satunya hal yang menarik perhatian peneliti.

Material yang terlontar akibat tumbukan—disebut ejecta—menyebar ke area di sekitar kawah. Material ini merupakan campuran debu dan batuan yang terlempar keluar ketika benda langit menghantam permukaan dengan kecepatan sangat tinggi.

Karena Bulan hampir tidak memiliki atmosfer, benda-benda kecil dari luar angkasa dapat mencapai permukaannya tanpa mengalami perlambatan seperti yang terjadi di atmosfer Bumi.

Akibatnya, tumbukan semacam ini terus membentuk kembali permukaan Bulan.

Tumbukan ternyata mengubah area yang jauh lebih luas

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances mengungkap sesuatu yang lebih menarik.

Para ilmuwan menggunakan data dari instrumen Diviner, sebuah radiometer termal yang berada di Lunar Reconnaissance Orbiter, untuk melihat perubahan suhu permukaan setelah tumbukan.

Hasilnya menunjukkan adanya wilayah dingin dengan diameter sekitar 7 kilometer di sekitar kawah.

Pada malam hari, wilayah tersebut tercatat sekitar 8–9 Kelvin lebih dingin daripada lingkungan di sekitarnya.

Jika dikonversikan, perbedaannya sekitar 14–16 derajat Fahrenheit.

Mengapa sebuah tumbukan menghasilkan wilayah dingin yang jauh lebih luas daripada ukuran kawahnya?

Jawabannya berkaitan dengan material permukaan Bulan yang disebut regolit.

“Tanah” Bulan mengalami perubahan struktur

Permukaan Bulan tertutup lapisan regolit—campuran debu, pecahan batuan, dan material hasil tumbukan selama miliaran tahun.

Ketika benda langit menghantam Bulan, energi yang sangat besar tidak hanya menggali lubang. Material di sekitar lokasi tumbukan juga terguncang, terlempar, dan mengalami perubahan struktur.

Para peneliti memperkirakan proses tersebut membuat sebagian regolit menjadi lebih renggang atau kurang padat.

Struktur yang lebih renggang memiliki kemampuan berbeda dalam menyimpan dan melepaskan panas. Akibatnya, perubahan fisik tersebut dapat terdeteksi melalui pengukuran suhu pada malam hari.

Penelitian kedua yang juga diterbitkan di Science Advances menemukan bahwa fenomena seperti ini bukan hanya terjadi pada McGetchin. Analisis terhadap kawah-kawah baru lainnya menunjukkan bahwa kawah berukuran lebih dari sekitar 30 meter dapat menghasilkan jejak termal yang dapat dideteksi.

Artinya, tumbukan kecil yang terjadi berulang kali mungkin ikut memainkan peran penting dalam membentuk dan mengubah lapisan permukaan Bulan.

Bulan ternyata bukan dunia yang benar-benar diam

Dari Bumi, perubahan permukaan Bulan sulit terlihat.

Tidak ada sungai yang mengikis lembah seperti di Bumi. Tidak ada angin yang menggerakkan pasir dalam skala yang sama. Tidak ada hujan yang mengubah bentuk batuan.

Namun, Bulan bukan berarti benar-benar berhenti berubah.

Tanpa atmosfer tebal yang melindunginya, Bulan terus menerima hantaman meteoroid dan benda-benda kecil dari luar angkasa.

Sebagian besar tumbukan terlalu kecil untuk terlihat dari orbit. Tetapi tumbukan yang lebih besar meninggalkan perubahan yang dapat bertahan lama.

Penemuan McGetchin memberikan kesempatan yang sangat berharga karena para ilmuwan mengetahui kira-kira kapan tumbukan tersebut terjadi.

Dalam penelitian planet, informasi seperti ini sangat penting.

Para ilmuwan biasanya melihat kawah yang terbentuk jutaan atau bahkan miliaran tahun lalu. Mereka kemudian mencoba merekonstruksi proses yang terjadi berdasarkan bentuk dan kondisi permukaan yang tersisa.

McGetchin berbeda.

Ilmuwan dapat mempelajari sebuah kawah yang baru berusia sekitar dua tahun sejak terbentuk.

Mengapa penemuan ini penting untuk misi manusia?

Penelitian terhadap kawah baru bukan sekadar upaya memahami sejarah Bulan.

Permukaan Bulan menjadi semakin penting dalam rencana eksplorasi manusia dan robotik.

NASA dan berbagai lembaga antariksa sedang mengembangkan teknologi untuk melakukan aktivitas jangka panjang di Bulan. Dalam kondisi tersebut, memahami bagaimana permukaan Bulan berubah menjadi persoalan praktis.

Debu dan regolit dapat memengaruhi roda rover, peralatan, habitat, serta infrastruktur yang ditempatkan di permukaan.

Tumbukan benda langit juga menjadi salah satu risiko lingkungan yang harus dipahami untuk fasilitas yang direncanakan bertahan dalam jangka panjang.

Dengan mempelajari McGetchin, ilmuwan mendapatkan semacam “rekaman langsung” tentang bagaimana sebuah tumbukan mengubah lingkungan sekitarnya.

Data tersebut dapat membantu memperbaiki model tentang proses tumbukan dan perubahan regolit di Bulan.

Sebuah pengingat bahwa Bulan masih hidup secara geologis

McGetchin mungkin terlihat seperti satu lubang kecil jika dibandingkan dengan kawah-kawah raksasa di Bulan.

Tetapi secara ilmiah, kawah tersebut memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga: kesempatan untuk menyaksikan perubahan permukaan Bulan dalam skala waktu yang sangat dekat dengan manusia.

Selama miliaran tahun, tumbukan telah membentuk wajah Bulan.

Kini para ilmuwan memiliki kesempatan untuk melihat salah satu proses tersebut hampir dari awal.

Bagi manusia di Bumi, Bulan mungkin tampak sebagai benda langit yang sama dari malam ke malam.

Namun di permukaannya, perubahan tetap berlangsung.

Perlahan, sunyi, dan tanpa suara—tetapi tidak pernah benar-benar berhenti.


Sumber
  1. NASA Science, “NASA’s Moon Orbiter Spots New, ‘Once-in-Century’ Moon Crater,” 16 September 2026.
  2. Science Advances, Mark S. Robinson et al., “A new 222-m diameter lunar crater,” 16 September 2026.
  3. Science Advances, Tyler M. Powell et al., “New lunar crater reveals extensive distal regolith modification,” 16 September 2026.
  4. Associated Press (AP), “NASA spacecraft discovers a huge new crater on the moon,” 16 September 2026.
  5. UCLA Newsroom, “Rare new lunar crater shows how impacts remodel the moon’s surface,” September 2026.
  6. Lunar and Planetary Institute / USRA, “NASA’s Lunar Reconnaissance Orbiter Discovers a New 222-m Diameter Lunar Crater,” 16 September 2026.

Share:

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terkait
Katai cokelat perlahan mentransfer materi kepada bintang kecil dalam orbit 87 menit

Bintang Kecil Ini Sedang Memakan Tetangganya: Katai Cokelat Mengorbit...

Science, ElrolumNews - Sekitar 300 tahun cahaya dari Bumi, dua benda langit sedang menjalani hubungan kosmik yang...
Ketika cahaya kota mengubah malam, ekosistem ikut merespons

Ketika Malam Tidak Lagi Gelap: Cahaya Kota Diam-Diam Mengubah...

Science, ElrolumNews - Malam bagi manusia mungkin hanya berarti waktu untuk menyalakan lampu. Bagi alam, malam adalah bagian...
Fosil 620–610 juta tahun mengungkap kehidupan laut setelah zaman es ekstrem.

Fosil 620 Juta Tahun Mengungkap Kehidupan Bangkit Setelah Zaman...

Science, ElrolumNews - Jauh sebelum manusia muncul, Bumi pernah melewati salah satu episode iklim paling ekstrem dalam...

Lainnya

Popular