Science, ElrolumNews – Gurita dikenal sebagai salah satu hewan paling aneh sekaligus cerdas di lautan. Tubuhnya lentur, memiliki tiga jantung, sistem saraf yang tersebar hingga ke lengannya, dan kemampuan mengubah warna serta tekstur tubuh.
Namun para ilmuwan baru menemukan sesuatu yang membuat biologi gurita semakin luar biasa.
Lengan khusus yang digunakan gurita jantan untuk kawin ternyata juga berfungsi sebagai organ sensorik.
Lengan tersebut bukan sekadar alat untuk mengantarkan sperma. Ia dapat mendeteksi sinyal kimia yang berkaitan dengan reproduksi betina dan membantu gurita jantan mengenali pasangan.
Temuan itu dipublikasikan dalam jurnal Science pada 2 April 2026 melalui penelitian yang melibatkan ilmuwan dari Harvard University, University of California San Diego, Okinawa Institute of Science and Technology, serta sejumlah institusi di Swedia.
Para peneliti menyebut mekanisme ini sebagai “taste by touch”—kurang lebih dapat diterjemahkan sebagai “mencicipi melalui sentuhan”.
Bukan berarti lengan gurita memiliki lidah.
Yang ditemukan adalah sistem sensorik kimia yang memungkinkan lengan tersebut mengenali molekul tertentu ketika terjadi kontak.
Satu Lengan Memiliki Dua Fungsi
Gurita jantan memiliki lengan khusus yang disebut hectocotylus.
Fungsinya telah lama diketahui: lengan tersebut digunakan untuk mentransfer spermatofor, yaitu paket yang berisi sperma, ke sistem reproduksi betina.
Tetapi pertanyaan yang belum terjawab adalah bagaimana lengan tersebut mengetahui bahwa ia berada di dekat pasangan yang tepat dan bagaimana ia menemukan lokasi reproduksi betina.
Penelitian terbaru memberikan sebagian jawabannya.
Hectocotylus ternyata merupakan organ reproduksi sekaligus organ sensorik.
Pada lengan tersebut terdapat sel dan reseptor yang mampu mendeteksi senyawa kimia tertentu. Salah satu sinyal terpenting yang ditemukan adalah progesteron, hormon reproduksi yang juga dikenal pada banyak hewan lain.
Dengan demikian, lengan yang sama dapat melakukan dua pekerjaan yang sangat berbeda: mengenali sinyal kimia pasangan dan menjalankan fungsi reproduksi.
Ini merupakan kombinasi fungsi yang tidak biasa dalam satu organ.
Bagaimana Gurita Jantan Menemukan Pasangannya?
Gurita pada dasarnya bukan hewan sosial.
Banyak spesies menjalani kehidupan soliter dan hanya bertemu individu lain pada situasi tertentu, termasuk ketika mencari pasangan.
Dalam kondisi seperti itu, kemampuan mengenali calon pasangan menjadi sangat penting.
Para peneliti menggunakan gurita dua-bintik California (Octopus bimaculoides) dalam sejumlah eksperimen.
Dalam salah satu percobaan, gurita jantan dan betina ditempatkan dalam wadah yang dipisahkan penghalang. Penghalang tersebut memiliki celah yang memungkinkan lengan gurita mencapai sisi lainnya.
Yang terjadi cukup mengejutkan.
Gurita jantan menggunakan lengan kawinnya untuk menjangkau betina dan bahkan berhasil melakukan perilaku kawin melalui penghalang tersebut.
Eksperimen juga dilakukan dalam kondisi gelap. Hasilnya menunjukkan bahwa pengenalan pasangan tidak harus bergantung pada penglihatan.
Ini memberikan petunjuk bahwa sinyal kimia memainkan peranan penting.
Progesteron Menjadi “Petunjuk” Kimia
Para peneliti kemudian mencari molekul apa yang sebenarnya dikenali oleh sistem sensorik tersebut.
Mereka menemukan bahwa progesteron merupakan salah satu pemicu penting.
Progesteron dikenal luas sebagai hormon yang berperan dalam sistem reproduksi vertebrata. Namun dalam penelitian ini, molekul tersebut juga berfungsi sebagai sinyal kimia yang dapat dikenali oleh sistem sensorik pada lengan gurita jantan.
Ketika diberikan paparan terhadap progesteron, gurita jantan menunjukkan respons yang berkaitan dengan perilaku kawin.
Bahkan, dalam eksperimen tertentu, lengan hectocotylus yang telah dipisahkan dari tubuh masih menunjukkan respons terhadap progesteron.
Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa kemampuan mendeteksi sinyal reproduksi memang berada pada jaringan sensorik lengan itu sendiri, bukan semata-mata dikendalikan oleh otak melalui penglihatan atau penciuman biasa.
Bukan Sekadar “Mencium”
Di sinilah istilah “mencicipi” perlu dipahami dengan tepat.
Gurita memang memiliki sistem chemosensation, tetapi mekanisme yang ditemukan dalam penelitian ini berbeda dari cara manusia mencium aroma dari udara.
Sistem tersebut bersifat contact-dependent.
Artinya, reseptor pada lengan mendeteksi molekul kimia melalui kontak dengan lingkungan atau permukaan yang mengandung senyawa tersebut.
Karena itu, istilah “lengan gurita bisa mencicipi pasangan” menarik secara jurnalistik, tetapi secara ilmiah lebih tepat mengatakan bahwa lengan tersebut mendeteksi sinyal kimia melalui sentuhan.
Penjelasan ini penting agar penemuan tidak berubah menjadi klaim bahwa gurita dapat “mencium pasangan dari jarak jauh”.
Reseptornya Juga Sangat Menarik
Penelitian tersebut tidak berhenti pada pengamatan perilaku.
Para ilmuwan juga mengidentifikasi reseptor kimia yang disebut chemotactile receptor 1 atau CRT1.
Reseptor ini dapat berikatan dengan progesteron.
Yang menarik, CRT1 bukan sepenuhnya sistem baru yang muncul hanya untuk perkawinan.
Para peneliti menemukan hubungan evolusioner antara reseptor tersebut dan kelompok reseptor neurotransmiter leluhur. Pada cephalopoda, sistem tersebut kemudian mengalami perubahan dan diversifikasi sehingga dapat digunakan untuk mendeteksi molekul-molekul tertentu di lingkungan.
Struktur molekul reseptor CRT1 yang berikatan dengan progesteron juga berhasil dipelajari secara rinci menggunakan metode struktural. Data struktur tersebut telah disimpan dalam Protein Data Bank dengan kode 9YI4.
Temuan ini memberi gambaran bahwa evolusi tidak selalu harus menciptakan organ baru dari nol.
Kadang-kadang, sistem yang sudah ada dapat diubah, disesuaikan, dan diberi fungsi baru.
Mengapa Sistem Seperti Ini Dibutuhkan?
Bagi manusia, mencari pasangan biasanya melibatkan kombinasi penglihatan, suara, bau, perilaku, dan berbagai sinyal sosial.
Gurita hidup dalam kondisi yang sangat berbeda.
Tubuhnya lunak, lingkungannya kompleks, dan banyak spesies hidup soliter. Pertemuan dengan individu lain dapat berlangsung singkat.
Dalam situasi seperti itu, sebuah lengan yang mampu melakukan dua pekerjaan sekaligus menjadi solusi biologis yang sangat efisien.
Lengan tersebut dapat menyentuh calon pasangan.
Kemudian sistem sensoriknya dapat memeriksa sinyal kimia.
Jika sinyal yang tepat terdeteksi, lengan itu sudah berada di posisi yang diperlukan untuk melanjutkan proses reproduksi.
Dengan kata lain, gurita tidak perlu memiliki sistem terpisah untuk “mencari” pasangan dan kemudian sistem lain untuk melakukan perkawinan.
Satu lengan dapat melakukan keduanya.
Ada Hubungannya dengan Evolusi Spesies
Temuan ini juga memiliki arti lebih besar daripada sekadar keunikan perilaku kawin gurita.
Kemampuan mengenali pasangan merupakan salah satu mekanisme penting dalam mempertahankan batas antarspesies.
Jika suatu hewan hanya tertarik pada sinyal tertentu dari individu yang tepat, sistem sensorik tersebut dapat membantu mencegah perkawinan yang tidak sesuai.
Karena itu, perubahan pada sistem sensorik reproduksi dapat berpengaruh terhadap proses evolusi dan diversifikasi spesies.
Penulis penelitian menyatakan bahwa inovasi sensorik seperti ini dapat membantu menjelaskan bagaimana perilaku reproduksi berkembang dan bagaimana perbedaan antargaris keturunan dapat dipertahankan.
Namun, ada batas penting yang perlu ditegaskan.
Penelitian ini belum membuktikan bahwa sistem tersebut secara langsung menyebabkan terbentuknya spesies baru.
Yang ditunjukkan adalah adanya mekanisme sensorik yang berpotensi berperan dalam pengenalan pasangan dan, secara evolusioner, dapat memengaruhi reproduksi serta batas antarspesies.
Laut Mengajarkan Bahwa Indra Tidak Selalu Berada di Kepala
Penemuan ini juga memperlihatkan sesuatu yang lebih mendasar tentang cara hewan berevolusi.
Pada manusia, kita cenderung menganggap otak sebagai pusat segala sesuatu.
Mata melihat.
Hidung mencium.
Lidah mengecap.
Telinga mendengar.
Semuanya kemudian dikirim ke otak untuk diproses.
Gurita menawarkan gambaran yang jauh lebih terdesentralisasi.
Sebagian besar sistem sarafnya tersebar ke seluruh tubuh, terutama pada lengannya. Setiap lengan memiliki jaringan saraf yang kompleks dan mampu melakukan pemrosesan informasi lokal.
Kini para ilmuwan menemukan bahwa lengan khusus untuk kawin tersebut juga memiliki sistem sensorik kimia yang sangat spesifik.
Dengan demikian, lengan gurita bukan sekadar “alat gerak”.
Ia juga merupakan sensor lingkungan, organ manipulasi, dan organ reproduksi sekaligus.
Satu Lengan, Banyak Informasi
Penemuan ini membuat satu hal menjadi semakin jelas: evolusi sering kali bekerja dengan cara yang tidak terduga.
Sebuah struktur yang awalnya digunakan untuk satu fungsi dapat mengalami modifikasi sehingga memiliki fungsi tambahan.
Pada gurita, lengan kawin tidak hanya membawa sperma.
Ia dapat mendeteksi molekul.
Ia dapat membantu mengenali pasangan.
Ia dapat menemukan bagian tubuh betina yang relevan untuk reproduksi.
Dan semuanya berlangsung melalui jaringan sensorik yang berada di lengan itu sendiri.
Mungkin itulah alasan gurita terus menjadi salah satu hewan favorit para ilmuwan.
Semakin dalam dipelajari, semakin banyak asumsi sederhana tentang bagaimana tubuh hewan seharusnya bekerja yang justru harus dipertanyakan.
Di dasar laut, evolusi telah menemukan sebuah solusi yang terdengar seperti fiksi:
sebuah lengan yang bukan hanya digunakan untuk kawin, tetapi juga dapat “mencicipi” sinyal kimia dari calon pasangan.
Dan bagi ilmu pengetahuan, mungkin bagian paling menariknya bukan keanehan itu sendiri.
Melainkan pertanyaan berikutnya:
berapa banyak kemampuan sensorik hewan yang selama ini belum kita ketahui hanya karena kita mencarinya di tempat yang salah?
Sumber Berita
Villar, P. S. et al. (2026). “A sensory system for mating in octopus.” Science, 392(6793), 96–101. DOI: 10.1126/science.aec9652.
Okinawa Institute of Science and Technology (OIST), 3 April 2026. “These arms are made for loving.”
Harvard Faculty of Arts and Sciences, 2 April 2026. “Research reveals octopuses as sensitive, long-distance lovers.”
RCSB Protein Data Bank — Structure 9YI4: Octopus sensory receptor CRT1 bound to Progesterone.




