Science, ELrolumnews – Bayangkan seekor mamalia kecil berjalan di lereng gunung pada ketinggian lebih dari 6.700 meter di atas permukaan laut.
Udara di sana sangat tipis. Suhu dapat turun jauh di bawah titik beku. Oksigen jauh lebih sedikit dibandingkan di dataran rendah, sementara makanan dan tempat berlindung juga terbatas.
Bagi sebagian besar mamalia, lingkungan seperti itu berada jauh di luar batas kehidupan normal.
Namun seekor tikus kecil di Pegunungan Andes justru menjadikannya habitat.
Namanya Andean leaf-eared mouse (Phyllotis vaccarum).
Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Science mengungkap bagaimana mamalia ini mampu bertahan pada kondisi ekstrem tersebut. Lebih mengejutkan lagi, spesies ini tidak hanya hidup di puncak gunung.
Ia memiliki rentang ketinggian luar biasa, dari permukaan laut hingga lebih dari 6.700 meter.
Temuan tersebut membuatnya menjadi mamalia dengan rentang elevasi terluas yang diketahui sekaligus mamalia yang hidup pada elevasi tertinggi di dunia.
Tikus yang Menembus Batas Ketinggian Mamalia
Penemuan mengenai tikus Andes ini sebenarnya berawal dari penelitian lapangan yang dilakukan beberapa tahun sebelumnya.
Para ilmuwan melakukan survei mamalia di Pegunungan Andes dengan menjelajahi wilayah yang memiliki perbedaan ketinggian lebih dari 6.700 meter—mulai dari kawasan gurun di pesisir utara Chile hingga puncak gunung berapi tertinggi.
Survei tersebut menemukan beberapa spesies tikus yang mampu hidup jauh lebih tinggi daripada perkiraan sebelumnya. Identitas spesies kemudian dikonfirmasi menggunakan data molekuler dan genom.
Penelitian lanjutan yang diterbitkan pada 2026 kemudian mencoba menjawab pertanyaan yang jauh lebih sulit:
Bagaimana satu spesies dapat bertahan dari lingkungan hampir setara permukaan laut hingga kondisi ekstrem di puncak Andes?
Jawabannya ternyata bukan satu adaptasi.
Tubuh tikus ini mengalami serangkaian penyesuaian fisiologis dan genetik yang memungkinkan populasi di dataran tinggi menghadapi tekanan lingkungan yang sangat berbeda.
Masalah Terbesar: Oksigen yang Menipis
Semakin tinggi seseorang atau seekor hewan mendaki gunung, semakin rendah tekanan atmosfer.
Akibatnya, setiap tarikan napas membawa lebih sedikit oksigen dibandingkan di permukaan laut.
Kondisi kekurangan oksigen ini disebut hipoksia.
Bagi mamalia, hipoksia merupakan masalah serius karena hampir seluruh aktivitas sel membutuhkan oksigen. Jantung harus bekerja untuk mengedarkan darah, paru-paru harus memasukkan oksigen, dan jaringan harus tetap menghasilkan energi.
Namun tikus Andes memiliki strategi khusus.
Populasi yang hidup di ketinggian ekstrem telah berevolusi dengan kapasitas menghasilkan panas yang lebih tinggi dalam kondisi hipoksia dibandingkan kerabatnya yang hidup di dataran rendah.
Kemampuan tersebut berkaitan dengan perubahan pada kapasitas respirasi mitokondria di otot rangka.
Dengan kata lain, otot tikus dataran tinggi mampu mempertahankan sistem produksi energi dalam kondisi oksigen yang sangat terbatas.
Bukan Sekadar Membawa Lebih Banyak Oksigen
Ada satu hal menarik dari penelitian ini.
Ketika ilmuwan mempelajari bagaimana tikus tersebut beradaptasi, mereka tidak menemukan cerita sederhana seperti “darahnya membawa lebih banyak oksigen”.
Adaptasi tikus ini justru banyak berkaitan dengan bagaimana jaringan tubuh menggunakan oksigen yang tersedia.
Ini penting.
Memiliki oksigen bukan satu-satunya masalah.
Sel juga harus mampu menggunakan oksigen tersebut secara efisien untuk menghasilkan energi.
Di otot, mitokondria merupakan pusat utama produksi energi aerobik. Penelitian menunjukkan bahwa populasi dataran tinggi memiliki peningkatan kapasitas respirasi mitokondria pada otot rangka yang berhubungan dengan kemampuan termogenesis dalam kondisi hipoksia.
Ini membantu menjelaskan bagaimana hewan kecil tersebut tetap dapat mempertahankan metabolisme dan menghasilkan panas di lingkungan yang sangat dingin dan miskin oksigen.
Adaptasi yang Tidak Diduga: Racun dari Makanan
Namun penelitian ini menemukan sesuatu yang jauh lebih mengejutkan.
Para ilmuwan awalnya tentu memperkirakan bahwa sebagian besar adaptasi pada tikus dataran tinggi akan berkaitan dengan oksigen, suhu, dan metabolisme energi.
Ternyata genomnya menunjukkan petunjuk lain.
Analisis populasi mengidentifikasi tanda seleksi pada jalur biologis yang berkaitan dengan biotransformasi senyawa kimia dari tumbuhan.
Artinya, lingkungan tempat tikus hidup bukan hanya menantang karena ketinggiannya.
Makanan yang tersedia di habitat tersebut juga kemungkinan memberikan tekanan evolusioner.
Tumbuhan menghasilkan berbagai senyawa kimia untuk melindungi diri dari herbivora. Beberapa di antaranya dapat bersifat toksik bagi hewan.
Populasi tikus yang hidup di lingkungan tertentu tampaknya telah mengalami seleksi pada sistem metabolisme yang membantu menangani senyawa-senyawa tersebut.
Temuan ini membuat kisah adaptasi tikus Andes menjadi jauh lebih kompleks.
Ia bukan sekadar hewan yang “tahan oksigen rendah”.
Ia juga tampaknya menyesuaikan diri dengan apa yang dapat dimakannya di lingkungan tersebut.
Evolusi Tidak Hanya Mengikuti Ketinggian
Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa seleksi alam bekerja pada lebih dari satu tekanan lingkungan sekaligus.
Di dataran tinggi, hipoksia dan suhu dingin menjadi masalah besar.
Tetapi makanan, racun tumbuhan, metabolisme energi, dan kebutuhan menghasilkan panas juga ikut membentuk tekanan seleksi.
Karena itu, adaptasi evolusioner tidak selalu bisa dijelaskan hanya dengan satu faktor.
Seekor hewan mungkin hidup di gunung karena mampu menghadapi kekurangan oksigen.
Namun kemampuan tersebut belum tentu cukup untuk membuatnya bertahan.
Ia juga harus mendapatkan makanan, mencerna makanan, mengatasi senyawa berbahaya, mempertahankan suhu tubuh, dan bereproduksi.
Kelangsungan hidup adalah hasil dari seluruh sistem yang bekerja bersama.
Yang Menarik: Populasi Tinggi dan Rendah Masih Satu Spesies
Andean leaf-eared mouse juga memberikan kesempatan langka untuk melihat bagaimana satu spesies menghadapi kondisi lingkungan yang sangat berbeda.
Bayangkan rentang habitatnya.
Di satu ujung terdapat kawasan dekat permukaan laut.
Di ujung lain terdapat lingkungan ekstrem di atas 6.000 meter.
Perbedaannya sangat besar.
Namun populasi-populasi tersebut tetap termasuk dalam spesies yang sama.
Analisis genom membantu para ilmuwan mengidentifikasi perubahan yang terkait dengan kehidupan pada elevasi berbeda dan menunjukkan bahwa adaptasi dapat muncul tanpa harus membentuk spesies baru.
Ini merupakan salah satu aspek paling menarik dalam studi tersebut.
Evolusi tidak selalu berarti munculnya spesies baru.
Kadang-kadang, satu spesies dapat memiliki populasi yang beradaptasi sangat berbeda terhadap lingkungan yang ekstrem di sepanjang wilayah jelajahnya.
Mengapa Tikus Ini Penting bagi Ilmu Pengetahuan?
Tikus kecil sering dianggap tidak menarik dibandingkan predator besar atau mamalia ikonik.
Namun secara ilmiah, justru hewan kecil seperti ini dapat menjadi model yang sangat berharga.
Tubuhnya memperlihatkan bagaimana mamalia dapat mengatasi dua tantangan sekaligus: hipoksia dan suhu rendah.
Mekanisme seperti ini juga menarik bagi fisiologi manusia.
Manusia yang berada di dataran tinggi mengalami masalah serupa ketika kadar oksigen menurun. Namun perlu ditekankan bahwa penelitian pada tikus Andes tidak berarti mekanisme tersebut dapat langsung diterapkan sebagai terapi bagi manusia.
Penelitian ini terutama membantu ilmuwan memahami bagaimana seleksi alam membentuk sistem fisiologis untuk menghadapi kondisi ekstrem.
Dari perspektif evolusi, tubuh hewan ini menjadi semacam laboratorium alami.
Kehidupan di “Atap Dunia”
Ada satu pertanyaan yang muncul dari penelitian ini:
Seberapa tinggi mamalia sebenarnya dapat hidup?
Sebelum survei lapangan di Andes, batas atas kehidupan mamalia diperkirakan lebih rendah daripada yang kini diketahui.
Survei sebelumnya bahkan menemukan beberapa tikus pada elevasi ekstrem yang jauh melampaui batas yang selama ini diasumsikan.
Penemuan tersebut mengubah cara ilmuwan memandang batas fisiologis mamalia.
Gunung yang terlihat hampir tidak ramah bagi kehidupan ternyata masih memiliki penghuni.
Mereka mungkin kecil.
Mereka mungkin tersembunyi di antara batu dan vegetasi.
Namun tubuh mereka membawa sejarah evolusi jutaan tahun yang memungkinkan mereka bertahan di tempat yang bagi sebagian besar mamalia hampir mustahil dihuni.
Tikus yang Mengajarkan Cara Bertahan
Andean leaf-eared mouse menunjukkan bahwa adaptasi terhadap lingkungan ekstrem bukanlah satu trik biologis.
Untuk bertahan di ketinggian lebih dari 6.700 meter, seekor mamalia membutuhkan kombinasi kemampuan: mengatasi kekurangan oksigen, menghasilkan panas, mempertahankan metabolisme energi, dan beradaptasi terhadap sumber makanan.
Dan semuanya terjadi tanpa mengubah hewan tersebut menjadi makhluk yang sama sekali berbeda.
Ia tetap seekor tikus.
Hanya saja, evolusi telah membentuk tubuhnya agar mampu melakukan sesuatu yang hampir tidak terpikirkan:
hidup di tempat di mana udara sangat tipis, suhu sangat rendah, dan sebagian besar mamalia tidak mampu bertahan.
Di Pegunungan Andes, batas kehidupan ternyata bukan garis yang kaku.
Ia lebih seperti pintu yang perlahan dapat didorong oleh evolusi.
Dan tikus kecil ini telah mendorongnya jauh lebih tinggi daripada yang pernah kita bayangkan.
Sumber Berita
Liphardt, S. et al. (2026). “Adaptation across an extreme elevational gradient in Andean leaf-eared mice, the world’s highest-dwelling mammal.” Science, 393(6807), eaec8347. DOI: 10.1126/science.aec8347.
Storz, J. F. et al. (2024). “Extreme High-Elevation Mammal Surveys Reveal Unexpectedly High Upper Range Limits of Andean Mice.” The American Naturalist, 203(6), 726–735.
University of Nebraska–Lincoln, Storz Lab — daftar publikasi dan penelitian adaptasi fisiologis mamalia dataran tinggi.




