Earth, ElrolumNews – Selama lebih dari satu abad, Bulbophyllum alsiosum dikenal sebagai anggrek yang berasal dari Filipina.
Kini, peta persebarannya berubah.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Reinwardtia pada 2026 melaporkan keberadaan spesies tersebut untuk pertama kalinya di Indonesia, setelah ditemukan di hutan pegunungan Sulawesi. Temuan itu sekaligus menambah catatan keanekaragaman anggrek Indonesia dan memperluas pemahaman tentang persebaran tumbuhan di kawasan Wallacea.
Yang membuat penemuan ini menarik adalah lokasinya.
Tumbuhan tersebut tidak ditemukan di kawasan perkotaan atau habitat yang telah banyak berubah, melainkan di hutan pegunungan yang relatif tidak terganggu, pada ketinggian sekitar 1.500 hingga hampir 2.000 meter di atas permukaan laut.
Dengan kata lain, sebuah anggrek yang selama ini diketahui dari Filipina ternyata memiliki populasi yang jauh lebih dekat dengan Indonesia daripada yang sebelumnya tercatat.
Bukan spesies baru, tetapi penemuan yang penting
Ada perbedaan antara spesies baru dan catatan baru suatu spesies.
Bulbophyllum alsiosum bukan spesies yang baru diberi nama pada 2026.
Spesies ini pertama kali dideskripsikan pada 1912 oleh ahli botani Oakes Ames. Sebelum penelitian terbaru, Kew juga mencatat persebaran alaminya di Filipina, termasuk Leyte dan Negros.
Yang baru adalah bukti bahwa spesies tersebut juga tumbuh secara alami di Sulawesi.
Dalam dunia botani, penemuan semacam ini tetap sangat penting.
Sebuah catatan persebaran baru dapat mengubah pemahaman tentang batas geografis suatu spesies, membantu peneliti memahami sejarah biogeografi, sekaligus memperbaiki informasi yang digunakan untuk konservasi.
Dan bagi Indonesia, temuan ini berarti satu lagi komponen flora yang sebelumnya belum tercatat dalam daftar nasional.
Tiga lokasi di pegunungan Sulawesi
Peneliti menemukan B. alsiosum di tiga lokasi.
Dua di antaranya berada di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, pada ketinggian sekitar 1.930 dan 1.980 meter di atas permukaan laut.
Satu lokasi lainnya berada di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, pada ketinggian sekitar 1.523 meter. Spesimen dari lokasi-lokasi tersebut dikumpulkan pada 2023 dan 2024 sebelum hasil penelitian dipublikasikan pada 2026.
Habitatnya memiliki karakter yang sama: hutan pegunungan hingga hutan pegunungan atas dengan kondisi teduh.
Di habitat seperti itu, B. alsiosum tumbuh sebagai epifit, yaitu tumbuhan yang hidup menempel pada tumbuhan lain tanpa mengambil makanan langsung dari inangnya seperti parasit.
Ini merupakan strategi hidup yang umum ditemukan pada banyak anggrek tropis.
Hidup di atas pohon, tetapi bukan parasit
Istilah “epifit” kadang membuat orang mengira bahwa tumbuhan tersebut merugikan pohon tempat ia menempel.
Tidak demikian.
Epifit menggunakan pohon terutama sebagai tempat berpijak untuk mendapatkan posisi yang sesuai terhadap cahaya, kelembapan, dan lingkungan sekitarnya.
Akar dan struktur tubuhnya mengambil air serta nutrisi dari lingkungan, bukan dengan menyerap makanan dari jaringan pohon seperti tumbuhan parasit.
Dalam kasus Bulbophyllum alsiosum, kehidupan sebagai epifit sangat sesuai dengan kondisi hutan pegunungan yang lembap dan teduh.
Pepohonan menyediakan permukaan tempat tumbuhan kecil tersebut dapat bertahan di atas lantai hutan.
Bunganya tidak sebesar yang dibayangkan
Nama “anggrek” sering membuat orang membayangkan bunga besar dan mencolok.
Padahal keluarga Orchidaceae memiliki bentuk yang luar biasa beragam.
Bulbophyllum alsiosum termasuk kelompok yang memiliki struktur bunga khas genus Bulbophyllum. Penelitian mendokumentasikan bunga dengan kombinasi warna putih, merah, kuning, dan merah muda pada bagian-bagian tertentu.
Salah satu karakter yang menarik adalah perbungaannya yang biasanya terdiri dari satu bunga, tetapi tumbuhan yang ditemukan di Mamasa juga memperlihatkan perbungaan dengan dua bunga.
Temuan tersebut memperluas pengetahuan mengenai variasi morfologi spesies ini.
Hal-hal kecil semacam itu penting dalam botani karena karakter bunga dan struktur vegetatif digunakan untuk membedakan suatu spesies dari kerabatnya.
Dari Filipina ke Wallacea
Di sinilah cerita B. alsiosum menjadi lebih besar.
Sulawesi merupakan bagian dari kawasan Wallacea, wilayah biogeografi yang berada di antara kawasan Asia dan Australia.
Wilayah ini memiliki sejarah geologi dan biogeografi yang kompleks.
Karena itu, persebaran tumbuhan dan hewan di Sulawesi sering memberikan petunjuk mengenai bagaimana organisme berpindah, terisolasi, dan berkembang di kepulauan tropis.
Penemuan B. alsiosum di Sulawesi tidak dengan sendirinya menjawab sejarah tersebut.
Namun, ia menambah satu potongan data yang sebelumnya tidak tersedia.
Dan semakin banyak data yang dikumpulkan, semakin baik pula ilmuwan dapat memahami hubungan antara flora Filipina dan kepulauan Indonesia.
Sulawesi kini memiliki sembilan jenis dalam kelompoknya
Penemuan tersebut juga berdampak langsung pada catatan keanekaragaman genus Bulbophyllum di Sulawesi.
Penelitian menyebutkan bahwa temuan B. alsiosum membuat jumlah spesies dalam Bulbophyllum section Beccariana yang diketahui dari Sulawesi menjadi sembilan spesies.
Ini mungkin terdengar seperti angka kecil.
Tetapi bagi ahli botani, perubahan satu angka dalam daftar keanekaragaman dapat memiliki arti besar.
Daftar spesies bukan sekadar katalog.
Ia menjadi dasar untuk penelitian ekologi, biogeografi, konservasi, dan pemantauan perubahan biodiversitas.
Jika suatu spesies tidak tercatat dari suatu wilayah, ilmuwan mungkin menganggap wilayah tersebut berada di luar persebarannya.
Ketika bukti baru muncul, pemahaman itu harus diperbarui.
Mengapa baru ditemukan sekarang?
Pertanyaan yang wajar kemudian muncul:
Jika anggrek ini memang hidup di Sulawesi, mengapa baru tercatat sekarang?
Jawabannya mungkin justru menggambarkan salah satu tantangan terbesar penelitian biodiversitas Indonesia.
Sulawesi memiliki medan yang luas, bergunung-gunung, dan tidak seluruh wilayahnya mudah diakses.
Penelitian tersebut mencatat bahwa flora Sulawesi masih relatif kurang terdokumentasi dibandingkan sejumlah pulau besar Indonesia lainnya. Kesenjangan pengumpulan spesimen dan penelitian botani dapat menyebabkan persebaran suatu tumbuhan belum diketahui secara lengkap.
Jadi, “baru ditemukan” tidak selalu berarti organisme tersebut baru muncul.
Dalam banyak kasus, organisme itu sudah lama ada di sana—manusia saja yang baru memiliki bukti ilmiahnya.
Hutan pegunungan menyimpan lebih banyak daripada yang terlihat
Hutan pegunungan sering terlihat kurang spektakuler dibandingkan hutan tropis dataran rendah.
Pepohonan bisa lebih pendek.
Suhu lebih rendah.
Kabut lebih sering muncul.
Tetapi lingkungan tersebut memiliki komunitas organisme yang sangat khas.
Bagi epifit seperti anggrek, kelembapan, suhu, intensitas cahaya, dan keberadaan pohon inang menjadi bagian penting dari habitat.
Karena itu, ketika hutan pegunungan mengalami perubahan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pohon-pohon besar.
Tumbuhan kecil yang hidup di antara batang dan cabang juga dapat terkena dampaknya.
Bagaimana status konservasinya?
Penelitian memberikan penilaian konservasi awal terhadap Bulbophyllum alsiosum.
Jika dilihat dari area of occupancy atau AOO, spesies ini memenuhi ambang yang dapat mengarah pada kategori Endangered. Namun, setelah mempertimbangkan keseluruhan persebaran dan tingkat ancaman yang diketahui, penulis menilai spesies tersebut lebih tepat ditempatkan dalam kategori Near Threatened (NT) secara preliminary.
Penting untuk dicatat bahwa ini adalah penilaian awal dalam penelitian, bukan pernyataan bahwa status tersebut merupakan listing resmi IUCN Red List.
Ada pula kabar yang relatif positif.
Para peneliti mencatat bahwa populasi di beberapa wilayah tampaknya relatif aman, sementara spesies ini belum menjadi target utama pengoleksian anggrek di lokasi Sulawesi yang mereka amati.
Namun, itu bukan alasan untuk menganggap habitatnya tidak perlu diperhatikan.
Ancaman dapat berbeda antarwilayah
Di Filipina, situasinya tidak sepenuhnya sama.
Penelitian mencatat bahwa salah satu populasi di Luzon berada dekat kawasan yang mengalami perkembangan perkotaan cepat, sehingga habitat potensial di dataran rendah menghadapi tekanan konversi. Populasi lainnya dinilai relatif lebih aman.
Ini menunjukkan satu hal penting dalam konservasi:
status sebuah spesies tidak selalu dapat dipahami hanya dari namanya.
Kita harus mengetahui di mana ia hidup, seberapa luas persebarannya, berapa banyak populasi yang ada, dan bagaimana kondisi masing-masing habitat.
Satu anggrek, dua negara, satu ekosistem regional
Penemuan di Sulawesi juga mengingatkan kita bahwa batas negara bukan batas biologis.
Pegunungan, laut, angin, burung, serangga, dan sejarah geologi tidak mengikuti garis administratif.
Sebuah spesies tumbuhan dapat memiliki persebaran yang mencakup beberapa pulau dan negara.
Karena itu, konservasi biodiversitas di Asia Tenggara juga membutuhkan pengetahuan tentang persebaran regional.
Bulbophyllum alsiosum menjadi contoh kecil bagaimana satu spesies dapat menghubungkan Filipina dan Indonesia dalam satu cerita biogeografi.
Penemuan ini juga penting bagi Indonesia
Bagi Indonesia, nilai penemuan ini bukan hanya bertambahnya satu nama anggrek dalam daftar flora.
Ia memperlihatkan bahwa eksplorasi botani di Sulawesi masih memiliki potensi besar.
Setiap survei baru dapat menghasilkan salah satu dari tiga hal:
spesies baru,
catatan baru untuk Indonesia,
atau informasi baru tentang spesies yang sudah dikenal.
Ketiganya sama-sama penting.
Karena tanpa survei, kita tidak tahu apa yang ada.
Dan tanpa mengetahui apa yang ada, kita akan kesulitan menentukan apa yang harus dilindungi.
Dari satu anggrek menuju peta biodiversitas yang lebih lengkap
Bulbophyllum alsiosum bukan bunga yang terkenal seperti anggrek bulan.
Ia juga bukan spesies baru.
Tetapi catatan pertamanya dari Indonesia memiliki nilai ilmiah yang jauh lebih besar daripada sekadar tambahan dalam daftar.
Ia mengubah peta persebaran.
Ia menambah informasi tentang flora Sulawesi.
Ia memperlihatkan pentingnya hutan pegunungan.
Dan ia mengingatkan kita bahwa masih ada banyak tumbuhan Indonesia yang belum sepenuhnya kita kenal.
Barangkali, itulah salah satu pesan paling menarik dari penemuan ini:
Biodiversitas tidak selalu menunggu kita di tempat yang belum pernah dijamah manusia. Kadang ia sudah lama tumbuh di sana—hanya belum pernah tercatat dengan benar.
Bulbophyllum alsiosum merupakan anggrek yang sebelumnya dikenal dari Filipina dan kini tercatat untuk pertama kalinya di Indonesia setelah ditemukan di tiga lokasi hutan pegunungan Sulawesi. Temuan tersebut memperluas persebaran yang diketahui dan menambah jumlah spesies dalam Bulbophyllum section Beccariana di Sulawesi menjadi sembilan.
Penemuan ini juga menunjukkan pentingnya eksplorasi botani di Sulawesi.
Sebuah catatan baru tidak selalu berarti alam baru saja menciptakan sesuatu.
Kadang-kadang, ia berarti kita baru saja memperbaiki peta kehidupan.
Dan semakin lengkap peta tersebut, semakin besar peluang kita memahami apa yang sebenarnya dimiliki hutan Indonesia—serta apa yang perlu dijaga sebelum terlambat.
Sumber yang digunakan
Mustaqim, W. A., Hutabarat, P. W. K., Putera, A. K. S., Bandjolu, K. P., Ahmad, R. P. P., & Yudistira, Y. R. (2026). “Bulbophyllum alsiosum (Orchidaceae): A New Record from Sulawesi, Indonesia.” Reinwardtia 25(1): 41–47. DOI: 10.55981/reinwardtia.2026.631.
Royal Botanic Gardens, Kew — Plants of the World Online, Bulbophyllum alsiosum.
Reinwardtia / BRIN Publishing — Volume 25 No. 1 (2026).
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif. Lokasi populasi liar tidak perlu diperlakukan sebagai informasi untuk pengambilan atau perdagangan tanaman dari alam. Pelestarian habitat merupakan bagian penting dalam menjaga populasi anggrek liar.




