Earth, ElrolumNews – Di tengah hutan Jawa yang selama ini dianggap telah banyak dipelajari, ternyata masih ada satwa yang menunggu untuk dikenali dengan benar.
Seekor cecak jari lengkung dari Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur, baru saja mendapatkan identitas ilmiahnya sendiri.
Namanya Cyrtodactylus merubetiriensis.
Spesies baru ini dideskripsikan dalam jurnal Zootaxa pada 25 September 2026 oleh tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Indonesia, dan Balai Taman Nasional Meru Betiri. Penelitian menunjukkan bahwa cecak tersebut memiliki perbedaan morfologi dan genetik yang cukup jelas dari kerabatnya di Jawa.
Penemuan ini menarik bukan hanya karena bertambahnya satu nama dalam daftar fauna Indonesia.
Lebih dari itu, Cyrtodactylus merubetiriensis memperlihatkan bahwa bahkan di Pulau Jawa yang memiliki sejarah panjang penelitian biodiversitas, keanekaragaman tersembunyi masih dapat ditemukan di antara hutan yang tersisa.
Bukan Sekadar Cecak yang Belum Diberi Nama
Pada pandangan pertama, cecak mungkin terlihat seperti salah satu hewan kecil yang biasa ditemukan di lingkungan tropis.
Namun, taksonomi bekerja lebih dalam daripada sekadar mengenali bentuk luar.
Peneliti menemukan bahwa populasi cecak dari Meru Betiri memiliki kombinasi karakter morfologi dan perbedaan genetik yang membedakannya dari spesies lain dalam kelompok Cyrtodactylus di Jawa.
Secara khusus, penelitian menunjukkan jarak genetik berdasarkan gen mitokondria ND2 sekitar 11,6–14,6 persen dibandingkan kerabat Jawa lainnya yang dibandingkan dalam penelitian tersebut.
Artinya, apa yang sebelumnya dapat terlihat seperti variasi biasa ternyata menyimpan perbedaan evolusioner yang lebih dalam.
Inilah salah satu alasan mengapa sebuah spesies baru tidak selalu berarti “hewan yang sebelumnya tidak pernah dilihat manusia”.
Kadang-kadang, yang baru adalah pemahaman ilmiah kita mengenai identitas hewan tersebut.
Sebelumnya Sempat Dikira Cyrtodactylus marmoratus
Kisah cecak Meru Betiri menjadi semakin menarik karena identitas awalnya ternyata tidak tepat.
Balai Taman Nasional Meru Betiri menyebut bahwa hewan ini sebelumnya sempat diidentifikasi sebagai Cyrtodactylus marmoratus. Penelitian berikutnya menggunakan pendekatan taksonomi integratif—menggabungkan karakter morfologi dan analisis molekuler—menunjukkan bahwa populasi tersebut memiliki ciri yang cukup berbeda untuk dikenali sebagai spesies tersendiri.
Perubahan seperti ini merupakan hal biasa dalam ilmu taksonomi.
Nama ilmiah bukan sekadar label.
Ia adalah hasil dari proses membandingkan bukti dan menguji apakah suatu populasi benar-benar berbeda dari kelompok yang sudah dikenal.
Dengan demikian, penemuan Cyrtodactylus merubetiriensis juga merupakan cerita tentang bagaimana ilmu pengetahuan memperbaiki pemahaman kita terhadap alam.
Cecak Penghuni Malam dari Meru Betiri
Cyrtodactylus merubetiriensis merupakan cecak jari lengkung berukuran sedang.
Dalam deskripsi ilmiahnya, panjang tubuh jantan dewasa dapat mencapai sekitar 73,1 milimeter, sementara betina mencapai sekitar 71,6 milimeter. Spesies ini memiliki sejumlah karakter sisik dan tuberkel yang digunakan untuk membedakannya dari kerabat dekatnya.
Balai Taman Nasional Meru Betiri menyebut spesies ini sebagai cecak nokturnal.
Penelitian lapangan dilakukan pada Oktober hingga November 2025, dengan catatan keberadaan spesies pada rentang ketinggian sekitar 20 hingga 680 meter di atas permukaan laut di kawasan taman nasional.
Keterangan tersebut memberi gambaran bahwa habitat penting bagi spesies ini tidak hanya berada di hutan pegunungan tinggi.
Ia ditemukan dalam bentang hutan dengan variasi ketinggian yang cukup luas di kawasan Meru Betiri.
Mengapa DNA Diperlukan untuk Mengenal Cecak?
Inilah bagian yang sering luput dari pemberitaan tentang spesies baru.
Hewan yang berbeda tidak selalu terlihat sangat berbeda.
Pada kelompok tertentu, beberapa spesies dapat memiliki bentuk tubuh yang sangat mirip sehingga pengamatan visual saja tidak cukup untuk memastikan identitasnya.
Karena itu, penelitian Cyrtodactylus merubetiriensis menggunakan pendekatan taksonomi integratif.
Morfologi memberikan informasi mengenai bentuk dan struktur tubuh, sementara data molekuler memberikan petunjuk mengenai hubungan genetik.
Dalam penelitian ini, perbedaan pada gen mitokondria ND2 membantu memperlihatkan bahwa cecak dari Meru Betiri memiliki perbedaan genetik yang besar dibandingkan spesies kerabatnya di Jawa.
Dengan menggabungkan berbagai jenis bukti, ilmuwan memiliki dasar yang lebih kuat untuk menetapkan batas suatu spesies.
Meru Betiri dan “Keanekaragaman Tersembunyi”
Ada pesan yang lebih besar di balik penemuan ini.
Judul penelitian sendiri menggunakan istilah “hidden diversity” atau keanekaragaman tersembunyi pada kelompok cecak jari lengkung Jawa.
Istilah tersebut penting karena Pulau Jawa sering dipersepsikan sebagai wilayah yang telah sangat lama dihuni, diteliti, dan mengalami perubahan penggunaan lahan.
Tetapi kehidupan liar tidak selalu mengikuti batas yang terlihat oleh manusia.
Di balik pepohonan, batu, celah batang, dan lantai hutan, terdapat komunitas kecil yang mungkin belum sepenuhnya dipahami.
Satu spesies baru dapat menjadi petunjuk bahwa masih ada spesies lain yang belum dikenali.
Dalam konteks ini, Meru Betiri bukan hanya sebuah kawasan hutan.
Ia merupakan arsip kehidupan yang masih menyimpan informasi tentang evolusi dan keanekaragaman hayati Jawa.
Spesies Ketujuh Cyrtodactylus di Jawa
Balai Taman Nasional Meru Betiri menyebut Cyrtodactylus merubetiriensis sebagai spesies Cyrtodactylus ketujuh yang tercatat di Pulau Jawa.
Angka ini membuat penemuan tersebut semakin menarik.
Satu spesies tambahan mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan keseluruhan keanekaragaman hayati Indonesia.
Namun dalam taksonomi, satu spesies dapat mengubah pemahaman mengenai persebaran, evolusi, dan hubungan antarspesies.
Apalagi jika spesies tersebut ternyata sebelumnya tersembunyi di dalam kelompok yang sudah dikenal.
Penemuan Spesies Tidak Sama dengan Status Terancam
Ada satu hal yang perlu dijaga agar pemberitaan tidak berlebihan.
Spesies baru tidak otomatis berarti spesies tersebut terancam punah.
Publikasi taksonomi ini terutama bertujuan menetapkan identitas dan membedakan Cyrtodactylus merubetiriensis dari kerabatnya.
Itu berbeda dengan penilaian status konservasi berdasarkan ukuran populasi, luas persebaran, tren populasi, dan berbagai ancaman.
Karena itu, ELrolumNews tidak menyebut spesies ini sebagai “terancam punah” hanya berdasarkan penemuan tersebut.
Justru penelitian berikutnya menjadi penting untuk mengetahui seberapa luas persebarannya dan bagaimana kondisi populasinya.
Hutan yang Masih Menyimpan Cerita
Meru Betiri memiliki arti penting bukan hanya bagi cecak ini.
Situs resmi Taman Nasional Meru Betiri menempatkan penemuan tersebut dalam konteks biodiversitas kawasan yang juga menjadi habitat satwa penting lainnya, termasuk banteng, elang Jawa, dan Rafflesia zollingeriana.
Penemuan Cyrtodactylus merubetiriensis menambah satu alasan lagi mengapa kawasan hutan yang tersisa perlu dipahami secara lebih mendalam.
Kita sering mengukur nilai hutan dari sesuatu yang mudah terlihat:
pohon besar, mamalia besar, burung yang indah, atau bunga langka.
Padahal, ekosistem juga dibangun oleh makhluk-makhluk kecil yang sering tidak diperhatikan.
Cecak mungkin tidak memiliki daya tarik seperti harimau atau badak.
Tetapi keberadaannya dapat menyimpan informasi penting tentang sejarah ekologis dan evolusi sebuah kawasan.
Pelajaran dari Seekor Cecak
Penemuan ini memberikan pelajaran sederhana tetapi penting:
alam tidak menjadi kurang beragam hanya karena kita sudah lama mengenalnya.
Pulau Jawa telah mengalami perubahan besar selama berabad-abad.
Namun di tempat-tempat yang masih memiliki habitat alami, kehidupan terus menyimpan kejutan.
Cyrtodactylus merubetiriensis mengajarkan bahwa konservasi tidak hanya berarti menjaga spesies yang sudah terkenal.
Konservasi juga berarti menjaga tempat-tempat yang memungkinkan kita menemukan dan memahami spesies yang belum kita kenal.
Sebab sebelum sebuah spesies dapat dilindungi secara khusus, kita terlebih dahulu harus mengetahui bahwa ia ada.
Cyrtodactylus merubetiriensis adalah spesies cecak jari lengkung baru yang dideskripsikan dari Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur, pada September 2026.
Penelitian menunjukkan bahwa spesies ini berbeda secara morfologi dan genetik dari kerabat dekatnya di Jawa. Sebelumnya, cecak tersebut sempat diidentifikasi sebagai Cyrtodactylus marmoratus.
Penemuan ini menjadi pengingat bahwa biodiversitas tidak selalu hadir dalam bentuk yang mudah kita lihat.
Di dalam hutan yang tampak familiar, masih mungkin terdapat kehidupan yang belum sepenuhnya kita pahami.
Dan mungkin itulah salah satu pesan paling penting dari Meru Betiri:
semakin kita mengenal alam, semakin kita menyadari bahwa masih banyak yang belum kita kenal.
Sumber yang digunakan
Fauzi, M. A., Widodo, W., Efendi, K., dkk. (2026). A new species of Cyrtodactylus (Squamata: Gekkonidae) from Meru Betiri National Park highlights hidden diversity of Javan bent-toed geckos. Zootaxa 5884(1): 48–72. DOI 10.11646/zootaxa.5884.1.2.
Taman Nasional Meru Betiri, Kementerian Kehutanan RI — informasi resmi mengenai penemuan Cyrtodactylus merubetiriensis dan penelitian lapangan.
Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi berdasarkan publikasi ilmiah serta sumber institusi terkait. Informasi mengenai persebaran, populasi, ekologi, dan status konservasi Cyrtodactylus merubetiriensis dapat berkembang seiring penelitian berikutnya.




