Episode 7: “Kembalinya Bayangan”
Sastra/FIksi, ElrolumNews – Tiga bulan telah berlalu sejak kekalahan Naga Hitam. Dunia persilatan perlahan-lahan pulih dari kekacauan yang ditimbulkan oleh persekutuan iblis. Han Liong dan Pauw Lian tinggal di Kota Naga, membantu Guru Beng Hoat dan Kyai Dharma membangun kembali kuil-kuil yang rusak dan mengajari para pemuda desa tentang pentingnya keadilan dan pengampunan. Arya Putra, yang kini telah bertobat, bekerja keras menebus kesalahannya dengan membantu penduduk desa dan mengawal para pedagang dari serangan perampok. Putri Lian dan Ken Arok memutuskan untuk menetap di Kota Naga dan membuka sebuah perguruan silat yang mengajarkan ilmu bela diri untuk membela kebenaran. Kedamaian akhirnya terasa nyata.
Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Pada suatu malam, ketika bulan purnama bersinar terang, Han Liong terbangun dari tidurnya karena merasakan getaran aneh di udara. Ia menoleh ke arah pedang putihnya yang tergantung di dinding — pedang itu bergetar hebat, seolah-olah merasakan kehadiran sesuatu yang gelap dan mengancam. Pauw Lian juga terbangun, memegang pedang hitamnya yang juga bergetar. “Han Liong… apa yang terjadi?” tanya Pauw Lian dengan suara cemas. Han Liong menggeleng, “Aku tidak tahu. Tapi ini tidak terasa baik.” Mereka berdua bergegas keluar, dan di langit malam, mereka melihat sesuatu yang mengerikan — awan hitam raksasa berkumpul di atas Gunung Naga Hitam, membentuk wajah yang tersenyum sinis. Wajah itu… adalah wajah Bayangan.
Han Liong dan Pauw Lian segera membangunkan yang lain. Guru Beng Hoat, Kyai Dharma, Arya Putra, Putri Lian, dan Ken Arok berkumpul di aula utama kuil. “Bayangan… ia belum benar-benar mati,” kata Guru Beng Hoat dengan wajah pucat. “Ketika kita mengalahkannya di Kuil Bayangan dulu, ia berhasil memindahkan sebagian kesadarannya ke dalam kegelapan abadi. Kini, ia telah kembali — dan ia lebih kuat dari sebelumnya.” Kyai Dharma mengangguk, “Aku merasakan kekuatannya. Ia telah menyerap semua energi kegelapan yang tersisa di dunia ini. Ia bukan lagi sekadar iblis — ia telah menjadi sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang hampir seperti dewa kegelapan.” Han Liong mengepalkan tangannya, “Kita harus menghentikannya sebelum ia menghancurkan semuanya.”
Mereka berangkat keesokan paginya menuju Gunung Naga Hitam, tempat di mana Bayangan berkumpul kembali. Perjalanan mereka kali ini berbeda — mereka tidak lagi sebagai sekelompok kecil pendekar, tetapi sebagai pasukan kecil yang terdiri dari para pendekar terkuat di dunia persilatan. Di sepanjang jalan, mereka bertemu dengan para pendekar dari berbagai aliran yang ingin bergabung — mereka telah mendengar tentang kebangkitan Bayangan dan ingin membantu. Ada pendekar pedang dari aliran utara, ahli silat tangan kosong dari selatan, dan bahkan beberapa mantan prajurit Naga Hitam yang ingin menebus kesalahan mereka. Han Liong menerima mereka semua dengan tangan terbuka. “Kita akan menghadapi ini bersama-sama,” katanya.
Ketika mereka tiba di kaki Gunung Naga Hitam, mereka disambut oleh pemandangan yang mengerikan. Langit di atas gunung berwarna merah darah, dan tanah di sekitar mereka telah berubah menjadi lahan tandus yang retak-retak, mengeluarkan asap belerang. Di puncak gunung, sebuah pusaran energi hitam raksasa berputar-putar, dan di tengahnya, sosok Bayangan telah berevolusi menjadi makhluk yang jauh lebih besar dan lebih menakutkan — tubuhnya menjulang tinggi seperti menara, dengan kulit sehitam malam, mata merah menyala, dan suara yang bergema seperti gemuruh gunung. “HAN LIONG!” suaranya menggelegar di seluruh lembah. “KAU DATANG LAGI! TAPI KALI INI, KAU TIDAK AKAN PERNAH BISA MENGALAHKANKU!”
Han Liong melangkah maju, diikuti oleh Pauw Lian, Arya Putra, Putri Lian, Ken Arok, Guru Beng Hoat, dan Kyai Dharma. Para pendekar yang bergabung juga mengambil posisi di belakang mereka. “Bayangan!” teriak Han Liong lantang. “Kau telah menghancurkan terlalu banyak nyawa! Kau telah menyebarkan terlalu banyak penderitaan! Hari ini, kita akan mengakhiri semuanya!” Bayangan tertawa — tawa yang mengguncang bumi. “Kau pikir kalian bisa mengalahkanku? Aku telah menyerap kekuatan dari ribuan tahun kegelapan! Aku telah melampaui kematian! Aku adalah KEKAL!” Ia mengangkat tangannya, dan dari langit, ribuan meteor hitam mulai berjatuhan menghantam pasukan Han Liong.

