Episode 6: “Pertarungan Melawan Naga Hitam”
Sastra/FIksi, ElrolumNews, – Setelah melewati Hutan Kegelapan yang penuh ilusi dan jebakan, Han Liong, Pauw Lian, Putri Lian, dan Ken Arok akhirnya tiba di kaki benteng Naga Hitam. Benteng itu menjulang tinggi di atas tebing curam, terbuat dari batu hitam yang mengkilap seperti kaca, dengan menara-menara yang runcing seperti gigi naga. Di sekeliling benteng, kabut tebal berputar-putar dan kilat menyambar-nyambar di langit yang gelap. “Ini tempat yang mengerikan,” bisik Putri Lian sambil menggenggam permata ungu di dadanya. Ken Arok mengangguk, “Aku pernah mendengar tentang benteng ini. Konon, tidak ada yang pernah keluar dari sini hidup-hidup.” Han Liong menatap benteng itu dengan mata tajam, “Kalau begitu, kita akan menjadi yang pertama.”
Mereka mendaki jalur berbatu menuju gerbang benteng. Di sepanjang jalan, mereka dihadang oleh pasukan Naga Hitam — prajurit-prajurit bertopeng naga dengan pedang beracun dan ilmu silat yang mematikan. Han Liong dan Pauw Lian bertarung bahu-membahu, pedang putih dan hitam mereka menari dalam harmoni yang sempurna. Putri Lian menggunakan kekuatan barunya — energi ungu yang mampu melumpuhkan musuh tanpa membunuh mereka. Ken Arok, dengan ilmu silat bayangannya, bergerak cepat dan tak terlihat. Satu per satu, prajurit Naga Hitam jatuh, dan mereka terus maju menuju gerbang utama benteng.
Gerbang utama benteng terbuka perlahan saat mereka mendekat, seolah-olah menyambut kedatangan mereka. Di dalam, mereka disambut oleh aula besar yang dipenuhi pilar-pilar batu berukir naga hitam. Di ujung aula, di atas singgasana batu yang dikelilingi api, duduk sosok Naga Hitam — seorang pria bertubuh tinggi dengan topeng naga hitam yang menutupi wajahnya, dan zirah hitam yang berkilauan seperti sisik naga. “Selamat datang, Han Liong,” suaranya bergema di seluruh aula, dalam dan mengancam. “Aku sudah menunggumu. Kau dan teman-temanmu telah melalui banyak rintangan untuk sampai ke sini. Aku harap kalian tidak kecewa dengan apa yang kalian temukan.”
Han Liong melangkah maju, pedang putihnya terhunus dan bercahaya terang. “Naga Hitam! Kami datang untuk menghentikanmu. Kau telah menyebarkan ketakutan dan kehancuran di seluruh dunia persilatan. Ini berakhir sekarang!” Naga Hitam tertawa — tawa yang dalam dan getir. “Berakhir? Kau pikir ini tentang kekuasaan, Han Liong? Kau tidak tahu apa-apa.” Ia berdiri dari singgasananya, dan api di sekelilingnya berkobar lebih tinggi. “Aku melakukan ini semua bukan untuk kekuasaan. Aku melakukan ini untuk membalas dendam. Dendam pada dunia yang telah menghancurkan hidupku.” Han Liong mengerutkan kening, “Dendam? Pada siapa?” Naga Hitam menatapnya lama, dan kemudian ia berkata dengan suara yang lebih pelan, “Pada ayahmu.”
Han Liong terkesiap. “Ayahku? Apa hubunganmu dengan ayahku?” Naga Hitam tertawa pahit. “Ayahmu… Arya Seta. Pendekar besar yang semua orang puja. Tapi tidak ada yang tahu sisi gelapnya. Dia meninggalkan ibuku — wanita yang mencintainya dengan sepenuh hati — untuk menikahi ibumu. Ibuku meninggal karena patah hati. Aku tumbuh sebagai yatim piatu, tanpa ayah, tanpa keluarga.” Ia menurunkan topengnya perlahan, memperlihatkan wajah yang mirip dengan Han Liong — hidung yang sama, dagu yang sama, tetapi dengan mata yang penuh kebencian. “Aku adalah kakak tirimu, Han Liong. Putra dari wanita yang ayahmu buang.”





