PEK LIONG PO KIAM: Kembalinya Bayangan dan Pertempuran Terakhir yang Menentukan Takdir

Pertempuran pun dimulai. Han Liong dan Pauw Lian memimpin pasukan, pedang putih dan hitam mereka bersinar terang, menghancurkan meteor-meteor yang jatuh. Arya Putra bertarung dengan kekuatan penuh, pedang barunya — yang diberikan oleh Kyai Dharma — menebas setiap makhluk bayangan yang muncul. Putri Lian menggunakan energi ungunya untuk melindungi para pendekar yang lebih lemah, sementara Ken Arok bergerak seperti bayangan, menjatuhkan musuh-musuh yang mencoba menyerang dari belakang. Guru Beng Hoat dan Kyai Dharma, meskipun sudah tua, bertarung dengan kekuatan yang menakjubkan — ilmu silat mereka yang telah diasah selama puluhan tahun membuat mereka mampu menghadapi puluhan musuh sekaligus. Pasukan Bayangan mulai terdesak.

Namun Bayangan bukanlah musuh biasa. Dengan satu gerakan tangannya, ia melepaskan gelombang energi hitam yang menghantam seluruh medan pertempuran, melempar semua pendekar ke belakang. Han Liong dan Pauw Lian berhasil bertahan, tetapi mereka melihat bahwa banyak pendekar yang terluka parah. “Kita tidak bisa terus seperti ini!” teriak Pauw Lian. “Ia terlalu kuat!” Han Liong mengangguk, “Kita harus mencapai jantungnya — pusaran energi di puncak gunung! Jika kita bisa menghancurkannya, kekuatannya akan lenyap!” Ia menatap Pauw Lian, Arya Putra, Putri Lian, dan Ken Arok. “Kalian berlima, ikuti aku. Kita akan menerobos ke puncak.”

Mereka melesat ke depan, menerobos barisan makhluk bayangan yang mencoba menghalangi mereka. Han Liong dan Pauw Lian membuka jalan dengan serangan gabungan yang dahsyat, sementara Arya Putra melindungi dari samping. Putri Lian dan Ken Arok menutup dari belakang. Mereka berlima bergerak seperti satu kesatuan — putih, hitam, ungu, dan bayangan — menuju puncak gunung. Bayangan menyadari niat mereka dan mengirim lebih banyak pasukan untuk menghalangi. “KALIAN TIDAK AKAN PERNAH SAMPAI!” teriaknya. Namun Han Liong tidak peduli. Ia terus maju, pedangnya menebas setiap musuh yang menghalangi jalannya.

Akhirnya, mereka tiba di puncak gunung, di hadapan pusaran energi hitam raksasa. Di tengah pusaran itu, Bayangan berdiri, tubuhnya yang besar dan menakutkan bersinar dengan energi kegelapan. “Kau berhasil sampai di sini,” katanya dengan suara rendah. “Tapi ini adalah akhir dari perjalananmu, Han Liong.” Ia mengangkat tangannya, dan pusaran energi itu mulai menyerap kekuatan dari seluruh gunung. Han Liong menatap Pauw Lian, lalu Arya Putra, Putri Lian, dan Ken Arok. “Kita harus menyerang bersama-sama. Kita harus menyatukan kekuatan kita — putih, hitam, ungu, dan bayangan — menjadi satu serangan yang tidak bisa ia tahan.” Mereka semua mengangguk. “Untuk dunia persilatan,” kata Pauw Lian. “Untuk keluarga,” kata Arya Putra. “Untuk kebebasan,” kata Putri Lian. “Untuk penebusan,” kata Ken Arok.

Mereka menyerang bersama-sama. Han Liong dan Pauw Lian berada di depan, pedang putih dan hitam mereka menyatu dalam serangan gabungan yang dahsyat. Arya Putra menyerang dari samping dengan pedang barunya, Putri Lian melepaskan seluruh energi ungunya dalam satu ledakan, dan Ken Arok muncul dari bayangan di belakang Bayangan. Serangan gabungan itu menghantam pusaran energi hitam, dan untuk sesaat, pusaran itu terbelah. Bayangan menjerit kesakitan. “TIDAK! INI TIDAK MUNGKIN!” Namun sebelum mereka bisa merayakan kemenangan, Bayangan mengumpulkan seluruh kekuatannya dan melancarkan ledakan balasan yang menghantam mereka semua. Han Liong dan Pauw Lian terlempar ke belakang, Arya Putra terjatuh, Putri Lian dan Ken Arok terhempas ke batu.

Han Liong terbaring di tanah, tubuhnya lemah dan darah mengalir dari lukanya. Ia melihat Pauw Lian tergeletak tidak jauh darinya, juga terluka. Arya Putra, Putri Lian, dan Ken Arok juga terjatuh. Bayangan berdiri di tengah pusaran yang kini kembali menyatu, tertawa terbahak-bahak. “Lihat! Inilah akhir dari semuanya! Kalian semua telah berjuang dengan sia-sia!” Ia berjalan menuju Han Liong dengan tangan terangkat. “Selamat tinggal, Pendekar Pedang Putih. Aku akan mengakhiri garis keturunanmu selamanya.” Han Liong menatap kematian di hadapannya, dan dalam detik-detik terakhir, ia teringat pada semua yang telah ia lalui — keempat gurunya, Pauw Lian, perjalanan mereka, cinta mereka, dan semua orang yang telah ia temui. Ia tahu, ia tidak bisa menyerah. Tidak sekarang. Tidak pernah.

Explore additional categories

Explore