Episode 1: “Empat Pendekar dan Seorang Bocah”
Sastra/Fiksi, ElrolumNews – Di puncak Gunung Kembar yang tersembunyi di balik lautan kabut, di mana burung elang pun enggan terbang karena terlalu tinggi dan dingin, berdirilah sebuah pondok bambu sederhana. Di sanalah empat orang pendekar sakti mengasingkan diri dari hiruk-pikuk dunia persilatan. Mereka bertubuh kurus dan berjubah lusuh, tetapi sinar mata mereka tajam bagai pisau. Di tengah halaman pondok, seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun dengan kucir rambut di atas kepalanya sedang berkeringat deras. Kaki-kaki mungilnya gemetar menahan kuda-kuda yang telah ia tahan sejak matahari terbit. Namanya Han Liong. Ia tidak tahu siapa orang tuanya. Ia tidak tahu mengapa ia berada di sini. Yang ia tahu hanyalah satu hal: keempat kakek ini adalah gurunya, dan mereka tidak pernah memberinya waktu untuk bermain.


“Kaki jangan goyah, Bocah!” bentak suara berat yang menggelegar dari mulut kakek berjubah abu-abu, yang disebut Guru Hwi Seng. Ia adalah ahli jurus tangan kosong aliran Monyet Sakti. “Kuda-kuda adalah akar dari segala ilmu silat! Jika akarmu rapuh, pohonmu akan tumbang!” Han Liong menggigit bibirnya hingga hampir berdarah. Ia ingin berteriak, ingin menangis, ingin bertanya mengapa ia harus menderita seperti ini. Tetapi ia sudah belajar bahwa pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan pernah dijawab. “Tahan!” teriak kakek berjubah hijau, Guru Liem Bu, yang mengajarinya ilmu pedang dasar. “Kau pikir musuhmu akan memberimu waktu untuk istirahat? Musuhmu akan menyerang saat kau paling lemah!” Han Liong menelan ludahnya, dan dalam hati kecilnya, ia bertanya pada angin: “Siapa musuhku? Dan mengapa aku harus berlatih mati-matian untuk melawan seseorang yang bahkan tidak aku kenal?”
Tahun-tahun berlalu bagai air sungai yang mengalir deras. Han Liong kini telah beranjak remaja. Tubuhnya yang dulu mungil kini telah tumbuh menjadi tegap dan kekar, tetapi tidak berlebihan — ia tetap ramping dan lincah seperti kucing hutan. Wajahnya tampan, tetapi ada kerutan kecil di dahinya yang tidak pernah hilang, tanda dari beban pikiran yang selalu ia bawa. Pada suatu malam, ketika bulan purnama bersinar terang dan keempat gurunya sedang bermeditasi, Han Liong memutuskan untuk memberanikan diri. Ia berlutut di hadapan mereka, menundukkan kepalanya hingga menyentuh tanah. “Guru-guru,” katanya dengan suara yang hampir parau, “sudah sepuluh tahun aku berlatih di sini. Sepuluh tahun aku tidak pernah bertanya siapa orang tuaku. Sepuluh tahun aku menahan rasa penasaran yang hampir membunuhku di dalam. Malam ini, aku mohon, beri tahu aku… siapa sebenarnya aku?”
Guru Cu Kang akhirnya berbicara. Suaranya lembut, seperti aliran sungai di musim semi. “Nak, kami tidak menyembunyikan hal itu darimu karena kami tidak percaya padamu. Kami menyembunyikannya karena kebenaran itu terlalu berat untuk kau tanggung saat kau masih kecil. Orang tuamu adalah pendekar besar yang melawan sebuah persekutuan jahat. Mereka gugur di medan perang ketika kau masih berusia dua tahun. Kami — keempat pendekar ini — adalah sahabat sejati ayah dan ibumu. Kami berjanji untuk melindungimu dan mengajarkanmu ilmu yang mereka wariskan.” Han Liong mengangkat kepalanya. Air mata mengalir deras di pipinya, tetapi matanya menyala seperti bara api. “Siapa nama musuh itu?” tanyanya dengan suara bergetar. Guru Cu Kang menggeleng pelan. “Suatu saat nanti, kau akan tahu. Tetapi malam ini, kau harus belajar satu hal: ilmu pedang bukanlah untuk balas dendam. Ilmu pedang adalah untuk melindungi. Jika kau melupakan itu, kau akan menjadi lebih jahat daripada musuh yang kau lawan.”
Han Liong terisak, tetapi ia berusaha menenangkan dirinya. “Aku mengerti, Guru,” katanya dengan suara yang mulai mantap. “Aku akan membawa pedang ini untuk keadilan, bukan untuk dendam.” Keempat gurunya tersenyum bangga. Malam itu, setelah Han Liong tidur, keempat pendekar itu bermusyawarah. Mereka menyepakati bahwa Han Liong telah siap untuk turun gunung. Namun di dalam hati masing-masing, mereka menyimpan kekhawatiran yang sama: Pedang Pusaka Naga Putih (Pek-liong Pokiam) yang akan ia bawa adalah pedang yang sangat sakti. Konon, pedang itu hanya bisa digunakan sepenuhnya oleh seseorang yang hatinya benar-benar suci. Jika digunakan oleh orang yang hatinya gelap, pedang itu akan menjadi bumerang yang menghancurkan pemiliknya.
Keesokan paginya, ketika kabut tipis masih menyelimuti puncak gunung, Han Liong berdiri di hadapan keempat gurunya untuk terakhir kalinya. Ia mengenakan jubah putih sederhana, dan di pinggangnya tersangkut Pedang Pusaka Naga Putih dalam sarungnya yang berukiran naga. Kali ini, ia tidak menangis. Ia berlutut dan mencium tangan keempat gurunya satu per satu. Kepada Guru Hwi Seng, ia berkata, “Terima kasih atas ketangguhan yang kau ajarkan.” Kepada Guru Liem Bu, “Terima kasih atas ketepatan pedang yang kau ajarkan.” Kepada Guru Cu Kang, “Terima kasih atas kebijaksanaan yang kau tanamkan.” Dan kepada guru keempat, Guru Beng Hoat, yang selalu diam dan misterius, ia hanya berkata, “Guru, suatu hari aku akan kembali dan menceritakan semua pengalamanku.” Guru Beng Hoat mengangguk tanpa berkata sepatah kata pun. Han Liong kemudian berbalik dan melangkah menyusuri jalan setapak yang menurun. Di pundaknya, ia membawa tidak hanya pedang pusaka, tetapi juga beban takdir yang belum sepenuhnya ia pahami.
