Di kaki gunung, Han Liong memasuki sebuah desa kecil yang tenang. Namun baru beberapa langkah ia melangkah di jalanan berbatu, telinganya menangkap suara jeritan dan tangisan dari arah sungai. Ia berlari dan mendapati pemandangan yang memicu amarahnya: sekelompok bajak sungai — sekitar dua belas orang — sedang merampok perahu-perahu nelayan. Mereka merampas hasil tangkapan ikan, menghancurkan perahu, dan mengancam akan membunuh siapa pun yang melawan. Seorang nelayan tua yang berani menentang sudah terkapar di tanah dengan wajah memar dan berlumuran darah, sementara seorang gadis kecil menangis di sampingnya. Han Liong merasakan amarah yang membara di dadanya. Tangan kanannya secara refleks meraih gagang pedang di pinggangnya. Ia teringat amanat gurunya: “Pedang ini untuk melindungi.” Ia melangkah maju dengan langkah tenang tetapi tegap. “Hentikan!” suaranya lantang memecah suasana. Para bajak itu menoleh dan tertawa terbahak-bahak melihat seorang pemuda kurus dengan pedang di pinggang. “Cih, anak kecil! Pergi mainlah sebelum kau cedera!” ejek pemimpin mereka, seorang laki-laki bertubuh tinggi dan kekar dengan wajah penuh bekas luka.
Han Liong tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya tersenyum tipis — senyuman yang aneh, tidak marah tetapi penuh keyakinan. Perlahan, ia mencabut pedang pusakanya dari sarungnya. Swaaaang! Suara logam yang nyaring terdengar, dan cahaya putih keperakan memancar dari bilah pedang itu, menyilaukan mata para bajak. Beberapa dari mereka mundur selangkah, terkejut dengan cahaya aneh itu. “Apa-apaan itu?” gumam salah satu bajak. Han Liong mengangkat pedangnya setinggi dada, mata kirinya sedikit menyipit. “Pedang ini,” katanya pelan, “bernama Pek-liong Pokiam — Pedang Pusaka Naga Putih. Ia tidak pernah haus akan darah. Tetapi ia haus akan keadilan.” Tanpa menunggu reaksi mereka, tubuh Han Liong melesat ke depan, lebih cepat dari kilat. Para bajak hanya melihat bayangan putih melayang di antara mereka, dan kemudian yang terdengar hanyalah suara thak-thak-thak — gagang pedang Han Liong mengenai titik-titik saraf di lengan, punggung, dan leher mereka. Satu per satu, para bajak itu jatuh dengan mata terbelalak, tangan mereka mati rasa, golok-golok mereka berjatuhan ke tanah berbatu. Pemimpin bajak yang tinggi kekar itu melihat anak buahnya rubuh dalam hitungan detik. Wajahnya pucat pasi. “Kau… kau iblis apa?!” teriaknya sambil mundur ketakutan. Han Liong menatapnya dengan mata yang tenang tetapi tajam. “Aku bukan iblis. Aku hanyalah seorang pengembara yang tidak suka melihat orang lemah ditindas.” Dengan satu gerakan gesit, ia mengayunkan gagang pedangnya ke pergelangan tangan pemimpin bajak itu. Buk! Pemimpin itu menjerit dan goloknya terlepas. Dalam hitungan beberapa jurus — yang ia beri nama dalam hatinya sebagai ‘Tarian Naga Putih Menyapu Daun’ — pemimpin bajak itu sudah terkapar di tanah, tidak mampu bergerak.
Setelah semua bajak terkapar dan tidak berdaya, Han Liong memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung dengan gerakan anggun. Ia berjalan menuju nelayan tua yang terluka dan menunduk di sampingnya. “Maafkan aku, Paman, aku datang terlambat,” katanya dengan lembut. Nelayan tua itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Tidak, Nak… kau datang tepat waktu. Kau menyelamatkan kami semua.” Gadis kecil yang tadi menangis kini berhenti dan memandang Han Liong dengan mata penuh kekaguman. “Paman pendekar, kau luar biasa!” katanya. Han Liong tersenyum dan mengelus rambut gadis itu. “Aku bukan pendekar, aku hanya orang biasa yang beruntung memiliki guru yang baik.” Para penduduk desa berkerumun, berterima kasih dan menawarkan makanan serta tempat istirahat. Han Liong menerima dengan rendah hati, tetapi hatinya tidak tenang. Ia teringat pada kata-kata Guru Cu Kang: “Orang tuamu gugur melawan persekutuan jahat.” Apakah para bajak ini bagian dari persekutuan itu? Atau apakah musuh sejatinya masih berada di luar sana, menunggu?
Setelah beristirahat sehari di desa itu, Han Liong melanjutkan perjalanannya. Kini ia dikenal sebagai “Pendekar Pedang Putih” di kalangan penduduk desa, tetapi ia sendiri tidak pernah menyebut dirinya demikian. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan berbagai macam orang — ada yang baik hati, ada yang licik, ada yang mendambakan bantuannya, dan ada yang mengincar pedang pusakanya. Ia mulai mendengar kabar tentang sebilah pedang pusaka lainnya — Pedang Pusaka Naga Hitam (Ouw-liong Pokiam). Konon, pedang itu adalah pasangan dari pedangnya, dan keduanya diciptakan oleh seorang pandai besi sakti ribuan tahun lalu. Namun ada kutukan yang melekat: “Jika kedua pedang ini bersatu dalam genggaman sepasang kekasih, maka malapetaka besar akan menimpa dunia.” Han Liong menggelengkan kepala mendengar cerita itu. “Kutukan?” pikirnya. “Apa gunanya pedang jika hanya membawa kutukan?”
Perjalanan Han Liong akhirnya membawanya ke sebuah lembah yang indah, dikelilingi oleh tebing-tebing batu yang menjulang tinggi. Di tengah lembah itu, ia bertemu dengan seorang gadis muda yang sedang berlatih pedang. Ia menonton dari kejauhan, dan ia langsung tahu bahwa gadis itu bukanlah orang biasa. Gerakannya sangat lincah, anggun, dan mematikan — mirip dengan jurus-jurus yang ia pelajari, tetapi dengan sentuhan yang berbeda, lebih gelap dan lebih cepat. Gadis itu menyadari kehadirannya dan langsung mengayunkan pedangnya ke arahnya. “Siapa kau?!” bentaknya. Han Liong menghindar dengan gesit. “Aku hanya pengembara yang lewat. Maaf jika aku mengganggu latihanmu.” Namun ketika gadis itu mengayunkan pedangnya sekali lagi, Han Liong melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdegup kencang: bilah pedang gadis itu berwarna hitam pekat, dan di sarungnya terukir naga hitam. Ini adalah Pedang Pusaka Naga Hitam! “Kau!” seru Han Liong. “Kau pewaris Pedang Naga Hitam?” Gadis itu menghentikan gerakannya, matanya menyipit curiga. “Apa kau mengenal pedang ini? Siapa kau sebenarnya?”
