Lumajang, ElrolumNews — Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terus meluas. Hingga Jumat (28/8/2026), luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 160 hektare, dan api masih terlihat menyala di sejumlah titik di dalam kawasan konservasi tersebut.
Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai Besar TNBTS, Septi Eka Wardhani, menyampaikan bahwa titik api terkonsentrasi di dua blok utama, yaitu Blok Ayak-Ayak dan Blok Bangunan Cilik, yang berada di wilayah Desa Ranu Pani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang.
“Luas area terdampak kebakaran hingga hari ini mencapai sekitar 160 hektare. Api masih terlihat di Blok Ayak-Ayak dan sebagian di Blok Bangunan Cilik. Petugas masih berjibaku memadamkan api dari darat dan udara,” ujar Septi kepada wartawan, Jumat (28/8/2026).
Tim gabungan yang terdiri dari petugas Balai Besar TNBTS, Manggala Agni, TNI, Polri, dan masyarakat sekitar terus melakukan pemadaman dari jalur darat. Namun, medan yang curam dan akses yang sulit menjadi kendala utama dalam upaya pemadaman.
Untuk mempercepat penanganan, Balai Besar TNBTS mengerahkan helikopter water bombing untuk menjatuhkan air dari udara ke titik-titik api yang sulit dijangkau dari darat.
“Helikopter water bombing dikerahkan untuk menjatuhkan air di lokasi yang sulit dijangkau tim darat. Kami berharap dengan bantuan udara, api dapat segera dipadamkan,” tambah Septi.
Balai Besar TNBTS telah menutup total seluruh akses pendakian dan jalur wisata di kawasan Bromo untuk keselamatan pengunjung dan mempermudah proses pemadaman.
“Kami mengimbau seluruh wisatawan dan masyarakat untuk tidak mendekati atau memasuki kawasan TNBTS sampai kondisi dinyatakan aman. Prioritas utama saat ini adalah pemadaman api dan keselamatan bersama,” tegas Septi.
Masyarakat dan wisatawan yang berada di sekitar kawasan Bromo juga diimbau untuk menggunakan masker untuk melindungi diri dari paparan asap yang mulai menyebar ke sejumlah wilayah di sekitar Lumajang dan Malang.
Hingga saat ini, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan. Namun, berdasarkan pengalaman sebelumnya, kebakaran di kawasan Bromo sering kali dipicu oleh faktor manusia, seperti pembakaran sampah atau puntung rokok yang dibuang sembarangan di kawasan wisata.
Balai Besar TNBTS berencana melakukan evaluasi menyeluruh setelah api berhasil dipadamkan untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.
(*/fvs)




