Kathmandu — Bencana alam dahsyat melanda kawasan perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu (26/8/2026), memicu banjir bandang dan tanah longsor yang menghancurkan desa-desa, infrastruktur penting, dan menelan ratusan korban jiwa . Hingga Kamis (27/8/2026) pagi, jumlah korban tewas mencapai 168 orang, sementara lebih dari 1.300 orang masih dinyatakan hilang.
Bencana bermula pada Rabu pagi, ketika sebuah longsoran es dan batuan besar terjadi di dekat perbatasan Nepal-Tibet . Kejadian ini diduga dipicu oleh runtuhnya sebagian gletser Himalaya, kemungkinan akibat kombinasi aktivitas seismik dan pencairan es yang dipercepat oleh perubahan iklim.
Longsoran yang memiliki kekuatan setara gempa 5,2 magnitudo ini mengirimkan puing-puing es dan batuan ke Sungai Lhende, sebuah anak sungai Bhotekoshi, menciptakan bendungan alami yang kemudian jebol . Air, es, dan puing-puing meluncur deras ke hilir dengan kecepatan tinggi, menciptakan gelombang banjir yang diperkirakan mencapai ketinggian 40-49 meter .
“Banjir bandang itu luar biasa tingginya, mungkin mencapai 40-49 meter, dan airnya bergerak secepat 71 km per jam,” ujar Göran Ekström, seorang ahli geofisika dari Columbia University yang mempelajari peristiwa ini.
Air bah menyapu lembah Bhotekoshi dan Sungai Trishuli, melanda pemukiman di distrik Rasuwa, Nuwakot, Dhading, dan hingga Chitwan, sekitar 100 km dari pusat bencana . Dampaknya sangat luas dan menghancurkan:
| Aspek | Dampak |
|---|---|
| Korban Jiwa dan Hilang | 168 tewas, 826 hilang di Nepal; 3 tewas, 558 hilang di Tibet . |
| Wisatawan Asing Hilang | 579 turis hilang, termasuk 47 warga AS, 34 Australia, 33 Inggris, dan 24 Kanada . |
| Kerusakan Infrastruktur | 40 km jalan utama hancur, 19 jembatan rusak, mengisolasi jalur perdagangan utama ke Tibet . |
| Dampak Ekonomi | Kerusakan infrastruktur diperkirakan mencapai 200 miliar rupee Nepal (sekitar Rp 1,3 miliar USD) . |
| Infrastruktur Energi | 14 pembangkit listrik tenaga air (total 748 MW) rusak atau terputus kontak . |
Bencana ini menimpa wilayah yang menjadi rute utama bagi para peziarah menuju Gunung Kailash di Tibet, sehingga banyak wisatawan asing menjadi korban . Selain wisatawan, 85 personel keamanan Nepal (44 tentara, 28 polisi, dan 13 Polisi Bersenjata) juga dilaporkan hilang saat bertugas di wilayah terdampak.
Pemerintah Nepal menetapkan tiga distrik, yaitu Rasuwa, Nuwakot, dan Dhading, sebagai “wilayah krisis bencana” selama tiga bulan . Tim penyelamat gabungan, termasuk tentara Nepal dan operator helikopter swasta, dikerahkan untuk melakukan evakuasi dan pencarian. Helikopter dan drone digunakan untuk menjangkau daerah terpencil yang terisolasi . Lebih dari 100 orang telah berhasil dievakuasi, termasuk 8 warga asing yang diterbangkan ke Kathmandu.
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia melalui konfirmasi dari KBRI Kathmandu memastikan bahwa tidak ada Warga Negara Indonesia yang menjadi korban dalam bencana banjir bandang tersebut . KBRI terus memantau situasi dan siap memberikan bantuan jika diperlukan.
Para ilmuwan meyakini bahwa meskipun peristiwa seperti ini bisa terjadi secara alami, perubahan iklim mempercepat pencairan gletser dan meningkatkan frekuensi longsoran di wilayah pegunungan . Penelitian menunjukkan bahwa gletser di kawasan Himalaya mencair dua kali lebih cepat sejak tahun 2000.
(*/fvs)





