William Tyndale: Martir yang Membuat Alkitab Bisa Dibaca Semua Orang

Religi, ElrolumNews –

“Kisah nyata William Tyndale, seorang sarjana dan imam dari Inggris yang berjuang agar Alkitab dapat dibaca oleh orang biasa. Ia melarikan diri dari negaranya, hidup dalam persembunyian, dan akhirnya mati sebagai martir — tetapi terjemahannya mengubah dunia.”

Seorang Anak Petani yang Haus akan Firman

Aku lahir sekitar tahun 1490-1494 di sebuah desa dekat perbatasan Wales, di daerah Gloucestershire, Inggris . Namaku William Tyndale. Keluargaku adalah petani, tetapi mereka cukup mampu untuk mengirimku ke sekolah. Aku belajar di Oxford dan Cambridge, menguasai bahasa Latin, Yunani, dan Ibrani — bahasa-bahasa asli Alkitab.

Tetapi yang paling mengubah hidupku bukanlah pendidikanku. Itu adalah apa yang aku lihat di desa-desa Inggris.

Aku melihat para petani bekerja di ladang, buta huruf dan tidak mengenal Firman Tuhan. Aku melihat orang-orang biasa yang tidak pernah mendengar tentang kasih Kristus karena Alkitab hanya tersedia dalam bahasa Latin — bahasa yang mereka tidak mengerti. Bahkan banyak imam pun tidak memahami bahasa Latin dengan baik.

Di Inggris saat itu, membaca Alkitab dalam bahasa Inggris adalah kejahatan yang bisa dihukum mati. Para uskup dan raja takut bahwa jika orang biasa membaca Alkitab, mereka akan mulai berpikir sendiri — dan itu akan mengancam kekuasaan mereka .

Tetapi aku tahu: Firman Tuhan bukanlah untuk para elit. Firman Tuhan adalah untuk semua orang.

Aku teringat pada seorang pemimpin agama yang berkata kepadaku: “Lebih baik kita tidak memiliki hukum Allah daripada hukum Paus.”

Aku menjawab dengan tegas: “Saya menentang Paus dan seluruh hukumnya. Jika Allah mengizinkan saya hidup, dalam waktu beberapa tahun saya akan membuat seorang bocah yang menarik bajak dapat mengerti Alkitab lebih banyak daripada Anda.” 

Melarikan Diri untuk Menerjemahkan

Aku berusaha menerjemahkan Alkitab di Inggris. Tetapi aku sadar: tidak ada uskup di London yang mau mendukungku. Tidak ada percetakan di Inggris yang berani mencetak Alkitab dalam bahasa Inggris. Uskup Cuthbert Tunstall, yang seharusnya membantuku, malah menghinaku dan mengusirku .

Maka pada tahun 1524, aku meninggalkan Inggris. Aku tahu aku tidak akan pernah kembali.

Aku pergi ke Jerman dengan nama samaran. Aku membawa sepuluh pound sterling yang diberikan oleh seorang sahabat, Humphrey Monmouth. Uang itu hampir cukup untuk mencetak Perjanjian Baru yang aku rencanakan .

Aku bekerja siang dan malam. Aku menerjemahkan dari bahasa Yunani asli — bukan dari bahasa Latin seperti yang dilakukan orang lain. Aku ingin orang biasa memahami Firman Tuhan dengan jelas. Aku menggunakan kata-kata sederhana: “kasih” bukan “belas kasih,” “jemaat” bukan “gereja,” “penatua” bukan “pendeta.” Beberapa ungkapan yang aku ciptakan — seperti “Passover,” “peacemaker,” dan “scapegoat” — masih digunakan sampai sekarang .

Pada tahun 1525, aku mencoba mencetak Perjanjian Baru di Cologne. Tetapi seorang musuh bernama Cochlaeus mengetahui rencanaku dan melaporkannya kepada otoritas. Aku harus melarikan diri, membawa halaman-halaman Injil Matius yang sudah tercetak .

Aku pergi ke Worms. Di sana, pada tahun 1526, akhirnya 6.000 salinan Perjanjian Baru dalam bahasa Inggris berhasil dicetak .

Menyelundupkan Firman ke Inggris

Mencetak adalah satu hal. Membawa Alkitab ke Inggris adalah hal lain.

Otoritas gereja dan kerajaan bertekad mencegah buku-buku itu menyeberangi Selat Inggris. Mereka membakar setiap salinan yang mereka temukan. Mereka menangkap siapa pun yang kedapatan memiliki Alkitab bahasa Inggris.

Tetapi Tuhan punya cara. Para pedagang yang bersimpati menyembunyikan Perjanjian Baru di dalam tumpukan kain dan karung gandum. Mereka menyelundupkannya ke pantai Inggris, lalu ke Skotlandia .

Buku-buku itu dicetak dalam ukuran kecil — lebih kecil dari buku biasa — agar mudah disembunyikan .

Aku tidak pernah melihat hasil kerjaku dengan mataku sendiri. Tetapi aku mendengar kabar: orang-orang biasa mulai membaca Firman Tuhan. Para petani, pedagang, dan ibu rumah tangga — mereka semua bisa membaca tentang Yesus dalam bahasa mereka sendiri.

Beberapa di antara mereka yang tertangkap membawa Alkitabku dibakar hidup-hidup dengan Perjanjian Baru tergantung di leher mereka . Tetapi mereka tidak mundur. Firman Tuhan terlalu berharga untuk ditinggalkan.

Aku mendengar bahwa para pejabat gereja membeli salinan Alkitabku dalam jumlah besar — bukan untuk dibaca, tetapi untuk dibakar. Tetapi ironinya: uang yang mereka bayarkan justru membantu membiayai pencetakan lebih banyak Alkitab .

Pengkhianatan dan Penangkapan

Aku pindah ke Antwerp, di wilayah Belgia sekarang. Aku tinggal di sana dengan nama samaran, terus berpindah tempat, terus bersembunyi.

Selama bertahun-tahun, aku berhasil menghindari penangkapan. Aku terus menerjemahkan Kitab-Kitab Ibrani. Aku menyelesaikan Pentateukh pada tahun 1530 dan merevisi Perjanjian Baru pada tahun 1534 .

Tetapi pada tahun 1535, seorang pria bernama Henry Phillips datang ke Antwerp.

Phillips adalah orang Inggris yang gagal dalam hidupnya. Ia melihat peluang: jika ia bisa menangkap Tyndale, ia akan mendapat hadiah dan kemuliaan dari raja. Phillips berpura-pura menjadi teman. Ia mendekatiku, berbicara sopan, dan mendapatkan kepercayaanku .

Aku tidak curiga. Aku terlalu polos dalam hal-hal duniawi. Phillips berkata aku “sederhana dan tidak berpengalaman dalam tipu daya dunia ini.” 

Pada bulan Mei 1535, Phillips menyiapkan jebakan. Dua mata-mata Inggris menangkapku di Antwerp. Aku dibawa ke kastil Vilvoorde, di utara Brussels .

Di Penjara dan Di Hadapan Api

Aku dipenjara selama lebih dari setahun di kastil Vilvoorde .

Selama waktu itu, aku terus bekerja. Aku menyelesaikan terjemahan Kitab-Kitab Ibrani. Aku tahu waktuku singkat. Aku ingin menyelesaikan sebanyak mungkin sebelum aku mati.

Pada tahun 1536, aku diadili dengan tuduhan bidah. Aku dijatuhi hukuman mati: dicekik sampai mati, lalu tubuhku dibakar di tiang .

Thomas Cromwell, kanselir raja, berusaha menolongku. Tetapi ia gagal. Paus dan raja Inggris menginginkan kematianku.

Pada pagi hari tanggal 6 Oktober 1536, aku dibawa keluar dari penjara. Aku lemah, tubuhku kurus karena penderitaan. Para penjaga bersenjata membawaku melalui jalan-jalan kota kecil Vilvoorde. Orang banyak menonton dalam diam.

Aku diizinkan berdoa sebentar. Sebagai seorang imam, doa adalah landasan imanku. Aku berlutut, memohon kepada Tuhan untuk kekuatan.

Lalu aku berdiri dan berjalan menaiki tangga ke tiang tempat aku akan diikat. Aku menunggu api. Dan dalam detik-detik terakhir hidupku, aku berseru dengan suara keras:

“Tuhan! Bukalah mata Raja Inggris!” 

Tali dicekikkan ke leherku. Api dinyalakan. Tubuhku hangus menjadi abu.

Aku mati. Tetapi Firman Tuhan yang aku terjemahkan tidak bisa dibakar.

Warisan yang Tidak Dapat Dibakar

Aku mati pada tahun 1536. Tetapi Tuhan menjawab doaku.

Dua tahun setelah kematianku, pada tahun 1538, Raja Henry VIII mengizinkan Alkitab dalam bahasa Inggris untuk dicetak dan dibaca secara bebas di gereja-gereja. Alkitab itu disebut “Great Bible” — dan sebagian besar isinya adalah terjemahanku .

Pada tahun 1537, sahabatku John Rogers menerbitkan “Matthew’s Bible” yang menggabungkan terjemahanku dengan terjemahan lain .

Dan pada tahun 1611, Raja James I dari Inggris menugaskan penerjemahan Alkitab baru yang menjadi standar bagi dunia berbahasa Inggris: King James Version. Hampir sepertiga dari Perjanjian Baru KJV diambil langsung dari terjemahanku — tanpa menyebut namaku .

Hari ini, jika engkau membaca Alkitab dalam bahasa Inggris, engkau membaca kata-kata yang aku terjemahkan. Ungkapan-ungkapan seperti “Let there be light” dan “Our Father which art in heaven” — itu adalah kata-kataku.

Aku mati sebagai martir. Tetapi aku tidak menyesal.

Karena aku tahu: Firman Tuhan tidak dapat dirantai.

Pelajaran dari William Tyndale

Dari kehidupan William Tyndale, kita belajar banyak hal:

Pertama, Firman Tuhan tidak dapat dibungkam oleh kekuasaan manusia. Mereka membakar Alkitabku. Mereka membunuhku. Tetapi Firman Tuhan terus menyebar — bahkan lebih cepat setelah kematianku. Tidak ada kekuasaan di dunia ini yang bisa menghentikan Firman Allah.

“Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun.” (Ibrani 4:12)

Kedua, pengorbanan kita mungkin tidak dilihat hasilnya dalam hidup kita. Aku tidak pernah melihat Alkitab bahasa Inggris dicetak secara bebas di Inggris. Aku tidak pernah melihat King James Version. Tetapi aku percaya bahwa pekerjaanku tidak sia-sia. Dan Tuhan setia untuk menyelesaikan apa yang Dia mulai.

“Ia yang memulai pekerjaan baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya.” (Filipi 1:6)

Ketiga, Firman Tuhan layak diperjuangkan dengan seluruh hidup kita. Aku meninggalkan rumah, keluarga, dan tanah airku. Aku hidup sebagai buronan. Aku mati sebagai martir. Tetapi aku tidak pernah menyesal. Karena aku tahu: orang biasa perlu membaca Firman Tuhan dalam bahasa mereka sendiri.

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (Mazmur 119:105)

Saya tidak tahu apa yang Anda hadapi hari ini.

Mungkin Anda merasa bahwa pengorbanan Anda untuk Tuhan tidak dihargai. Mungkin Anda merasa bahwa apa yang Anda lakukan untuk Kerajaan Allah tidak berarti. Mungkin Anda bertanya: “Apakah semua ini sia-sia?”

Ingatlah William Tyndale.

Ia mati di tiang pembakaran, tidak pernah melihat hasil pekerjaannya. Tetapi hari ini, jutaan orang membaca Alkitab dalam bahasa yang ia terjemahkan. Ia tidak pernah melihat buahnya, tetapi ia percaya bahwa Tuhan akan menyelesaikannya.

Teruslah setia. Teruslah bekerja. Teruslah menabur. Anda tidak pernah tahu apa yang Tuhan akan lakukan melalui kesetiaan Anda — mungkin bahkan setelah Anda tiada.

“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” — Galatia 6:9

KESIMPULAN

Tiga Pelajaran dari William Tyndale

1. Firman Tuhan Tidak Dapat Dijerat oleh Kekuasaan Manusia

Mereka membakar Alkitab dan membunuh Tyndale, tetapi Firman Tuhan terus menyebar hingga ke seluruh dunia. Tidak ada kekuasaan yang dapat menghentikan Firman Allah.

“Firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya.” (1 Petrus 1:25)

2. Pengorbanan Sejati Tidak Selalu Melihat Hasilnya

Tyndale mati tanpa pernah melihat Alkitab bahasa Inggris dicetak bebas di Inggris. Tetapi kematiannya menjadi benih yang menghasilkan panen besar. Pengorbanan kita mungkin tidak terlihat hasilnya sekarang — tetapi Tuhan akan menyelesaikannya.

“Sesungguhnya, jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” (Yohanes 12:24)

3. Firman Tuhan Layak Diperjuangkan dengan Seluruh Hidup

Tyndale meninggalkan segalanya demi Firman Tuhan. Ia menganggap Firman Tuhan lebih berharga dari nyawanya sendiri.

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (Mazmur 119:105)

Untuk Renungan

  • Apakah Anda menghargai Firman Tuhan? Apakah Anda membacanya setiap hari?

  • Apakah Anda bersedia berkorban untuk memastikan orang lain mendengar Firman Tuhan?

  • Bacalah Ibrani 4:12 — tentang kuasa Firman Tuhan yang hidup.

  • Bacalah Yohanes 12:24 — tentang pengorbanan yang menghasilkan buah.

  • Doakan mereka yang masih belum memiliki Alkitab dalam bahasa mereka sendiri.

Kabar baiknya: Firman Tuhan tidak dapat dirantai. Pengorbanan kita untuk Kerajaan Allah tidak pernah sia-sia.

(el)

Sumber Utama
  1. Britannica. “William Tyndale”. Encyclopedia Britannica. Sumber utama yang mencatat kelahiran (c. 1490-94), kematian (6 Oktober 1536), dan latar belakang Tyndale sebagai penerjemah Alkitab dan martir Protestan .
  2. JW.org. “Tyndale, William”. Sumber yang mencatat detail perjalanan Tyndale ke Jerman (1524), pencetakan Perjanjian Baru pertama di Worms (1526), dan penggunaan kata-kata sederhana dalam terjemahannya .
  3. Wikipedia Indonesia. “William Tyndale”. Sumber yang mencatat penangkapan Tyndale (1535), pengkhianatan oleh Henry Phillips, dan kata-kata terakhirnya: “Tuhan! Bukalah mata Raja Inggris!” .
  4. Watchtower ONLINE LIBRARY. “William Tyndale—Pria yang Mempunyai Visi”. Sumber yang mencatat percakapan Tyndale dengan pemimpin agama: “Jika Allah mengizinkan saya hidup, dalam waktu beberapa tahun saya akan membuat seorang bocah yang menarik bajak dapat mengerti Alkitab lebih banyak daripada Anda.” .
  5. Library of Congress. “‘Let There Be Light’ Exhibition Spotlights William Tyndale, English Martyr”. Sumber yang mengonfirmasi detail kematian Tyndale di Vilvoorde dan penahanannya selama 16 bulan .
  6. Moore College. “William Tyndale, translator and martyr” (2026). Sumber yang mencatat pencetakan Perjanjian Baru pertama (Februari 1526) dan kematian Tyndale (Oktober 1536) .
  7. Bible.org. “Tyndale’s Translation of the Bible”. Sumber yang mencatat kata-kata terakhir Tyndale dan detail pengkhianatan oleh Henry Phillips .
  8. Daniell, David. William Tyndale: A Biography. Yale University Press, 2001. Biografi komprehensif yang mendokumentasikan kehidupan dan pengaruh Tyndale terhadap Alkitab bahasa Inggris .
  9. Church of Jesus Christ. “The Blessing of Scripture” (2010). Sumber yang mencatat pengaruh terjemahan Tyndale terhadap King James Version .

Catatan: William Tyndale mati sebagai martir pada 6 Oktober 1536. Namun, doanya — “Tuhan, bukalah mata Raja Inggris” — dijawab dua tahun kemudian ketika Raja Henry VIII mengizinkan Alkitab bahasa Inggris dicetak dan dibaca secara bebas. Terjemahan Tyndale menjadi dasar hampir semua Alkitab bahasa Inggris berikutnya, termasuk King James Version .

 

Share:

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

More like this

"Kaleb berusia 85 tahun berdiri di puncak gunung dengan tegas, memandang tanah perjanjian dengan iman, melambangkan kesetiaan dan penyertaan Tuhan yang tidak pernah gagal."

Kaleb: 45 Tahun Menanti Janji Tuhan

Religi, ELrolumNews -"Kisah nyata Kaleb, seorang pengintai yang tetap setia kepada Tuhan selama 45 tahun di padang...
Mazmur 51: Pemulihan bagi Orang Berdosa

Mazmur 51: Pemulihan bagi Orang Berdosa

Religi, ElrolumNews -"Kisah ini terinspirasi dari pergumulan nyata banyak orang percaya yang bergumul dengan dosa dan kerinduan...
Roma 8:28: Mengapa Segala Sesuatu Bekerja untuk Kebaikan?

Roma 8:28: Mengapa Segala Sesuatu Bekerja untuk Kebaikan?

Religi, ElrolumNews -"Kisah ini terinspirasi dari pergumulan nyata banyak orang percaya yang bergumul dengan janji Roma 8:28...

More

Popular

Read More