Flores, ElrolumNews — Hampir tiga pekan pasca-gempa utama M7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus lalu, aktivitas seismik di wilayah tersebut masih sangat dinamis. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat total 9.765 gempa susulan hingga Minggu (30/8/2026) pukul 05.00 WIB .
Dari ribuan gempa susulan tersebut, magnitudo terbesar tercatat mencapai M6,2, sementara yang terkecil tercatat M1,0 . Sebanyak 35 gempa susulan memiliki kekuatan di atas magnitudo 5, dan 155 gempa susulan dilaporkan dirasakan oleh masyarakat di wilayah terdampak .
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, sebelumnya menyampaikan bahwa rangkaian gempa susulan diperkirakan masih akan berlangsung selama tiga hingga empat minggu ke depan . Aktivitas gempa susulan pada beberapa hari pertama masih relatif tinggi dan belum menunjukkan pola peluruhan yang signifikan .
Jumlah gempa per 24 jam tercatat bervariasi: 704 kejadian pada hari pertama, meningkat menjadi 746 pada hari kedua, kemudian berkisar 668, 649, dan 627 kejadian pada hari ketiga hingga kelima, namun naik lagi menjadi 802 kejadian pada hari keenam . Sejumlah gempa susulan juga menghasilkan guncangan cukup kuat dengan intensitas IV hingga VI Modified Mercalli Intensity (MMI) yang dirasakan kuat oleh masyarakat .
Guncangan signifikan terjadi pada 19 Agustus (M5,6), 20 Agustus (M5,8), dan sejumlah gempa lainnya yang menyebabkan kerusakan tambahan pada bangunan dan infrastruktur yang sebelumnya telah terdampak gempa utama . Hasil relokasi BMKG menunjukkan persebaran gempa susulan tidak berlangsung secara merata. Aktivitas tersebut membentuk beberapa klaster dengan konsentrasi utama berada di sekitar sumber gempa utama M7,7 di wilayah utara Nagekeo, memanjang mengikuti arah Flores Back-arc Thrust .
Pada Minggu pagi, dua gempa kembali mengguncang wilayah Ruteng, Kabupaten Manggarai:
Gempa M3,7 pada pukul 08.23 WIB, pusat gempa 34 km timur laut Ruteng pada kedalaman 3 km .
Gempa M3,1 pada pukul 07.10 WIB, pusat gempa 46 km timur laut Ruteng pada kedalaman 32 km .
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa hingga hari ke-15 penanganan, jumlah korban meninggal dunia akibat gempa NTT tercatat sebanyak 111 orang dan 1.740 orang mengalami luka-luka . Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyatakan bahwa tidak ada penambahan korban meninggal dalam 24 jam terakhir .
Jumlah pengungsi tercatat 192.303 jiwa, dengan penambahan 16.394 orang setelah proses validasi data di Kabupaten Ngada . BNPB juga mencatat kerusakan pada 89.618 unit rumah serta sejumlah fasilitas umum di wilayah terdampak, meliputi Kabupaten Nagekeo, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Sikka, Ende, dan Ngada .
Hingga Sabtu (29/8/2026), total bantuan logistik yang telah didistribusikan mencapai 1.916 ton . BNPB juga memfasilitasi pemulangan 3.627 kepala keluarga dari pengungsian terpusat di GOR Samador, Sikka .
Masa tanggap darurat penanganan gempa Flores diperpanjang 14 hari oleh Pemerintah Provinsi NTT, dari 29 Agustus hingga 12 September 2026, karena aktivitas gempa susulan yang masih berlangsung.
(*/fvs)




