Tips & Fakta Kuliner, Elrolumnews – MSG atau monosodium glutamat, yang akrab disebut micin atau vetsin, telah lama dikaitkan dengan berbagai mitos kesehatan, mulai dari anggapan dapat menurunkan kecerdasan hingga memicu migrain. Namun, sejumlah kajian ilmiah dan badan pengawas pangan dunia memberikan gambaran yang berbeda dari mitos tersebut.
Bagaimana penelitian menilai keamanan MSG?
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengklasifikasikan MSG sebagai bahan yang generally recognized as safe (GRAS), sejajar dengan garam dan gula sebagai bumbu masakan. Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga menetapkan MSG sebagai penguat rasa yang aman dikonsumsi dalam takaran wajar, dengan rekomendasi batas asupan harian sekitar 6 gram bagi orang dewasa.
Pada Januari 2018, International Headache Society turut mengeluarkan MSG dari daftar bahan makanan yang dikaitkan dengan pemicu sakit kepala dalam klasifikasi gangguan sakit kepala edisi ketiga, setelah sebelumnya sempat dimasukkan berdasarkan laporan anekdotal.
**Dari mana asal mitos “micin bikin bodoh”?**
Isu negatif seputar MSG bermula dari sebuah surat seorang dokter pada akhir 1960-an yang menceritakan gejala tidak nyaman setelah makan di restoran Tionghoa, yang kemudian dikaitkan dengan konsumsi MSG. Narasi ini menyebar luas meski penelitian ilmiah lanjutan tidak menemukan bukti kuat yang mendukung klaim tersebut.
Apakah ada efek samping dari konsumsi MSG?
Sebagian kecil orang dilaporkan mengalami reaksi ringan dan bersifat sementara, seperti rasa tidak nyaman di perut, setelah mengonsumsi MSG dalam jumlah besar pada kondisi penelitian tertentu. Namun, reaksi semacam ini tidak terjadi pada mayoritas orang dalam konsumsi sehari-hari dengan takaran wajar.
MSG bukan bahan berbahaya seperti yang sering digambarkan dalam mitos populer, selama dikonsumsi dalam jumlah wajar sebagaimana bumbu masakan lainnya. Namun, seperti halnya garam dan gula, konsumsi berlebihan dari makanan olahan secara keseluruhan tetap perlu diperhatikan.
🥄 Catatan
Artikel ini membahas MSG sebagai bahan pangan berdasarkan ringkasan kajian dan regulasi yang tersedia secara publik. Informasi ini bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan bagi individu dengan kondisi medis tertentu.




