Kuliner Nusantara, Elrolumnews – Warnanya hitam pekat. Aromanya khas dan sedikit earthy. Rasanya gurih dengan jejak rempah yang dalam.
Itulah rawon, sup daging asal Jawa Timur yang pada 2024 dinobatkan TasteAtlas sebagai sup terenak di dunia, mengungguli berbagai hidangan sup populer dari negara lain. Soto Betawi, sesama kuliner nusantara, menyusul di posisi kedua pada daftar yang sama.
Kluwek, Rahasia di Balik Warna Hitamnya
Warna hitam khas rawon berasal dari kluwek, biji dari pohon Pangium edule yang harus melalui proses perebusan, perendaman, dan fermentasi sebelum aman dikonsumsi. Selain memberi warna gelap, kluwek juga menyumbang rasa gurih yang khas dan sulit ditiru bahan lain.
Kluwek tidak hanya dipakai di rawon. Bahan yang sama juga muncul dalam masakan Toraja dan Manado, meski dengan nama dan olahan yang berbeda.
Jejak Rawon dalam Prasasti Kuno
Sejarah rawon ternyata jauh lebih tua dari yang banyak orang kira. Menurut penelusuran RRI, keberadaan rawon diperkirakan sudah ada sejak abad ke-10 Masehi, berdasarkan temuan Prasasti Taji di dekat Ponorogo, Jawa Timur. Dalam prasasti tersebut, muncul istilah “rarawwan” yang diyakini menjadi cikal bakal nama rawon.
Rawon juga tercatat dalam naskah sastra Jawa dari abad ke-18, menunjukkan hidangan ini telah menjadi bagian dari tradisi kuliner masyarakat Jawa jauh sebelum era kuliner modern.
Satu Nama, Banyak Versi
Meski berasal dari Jawa Timur secara umum, rawon punya karakter yang sedikit berbeda di tiap daerah. Rawon Surabaya dikenal sebagai varian paling populer, tetapi Malang, Pasuruan, dan Probolinggo juga memiliki versi khasnya masing-masing.
Perbedaan ini bukan soal mana yang paling otentik, melainkan bukti bagaimana satu resep bisa berkembang mengikuti selera lokal di setiap daerah, sambil tetap mempertahankan kluwek sebagai jiwa dari hidangan ini.
(el)




