Krill Antartika Ternyata Turun ke Laut Sedalam 1.100 Meter: Terungkap Rahasia di Dekat Gunung Api Bawah Laut

Science, ElrolumNews – Selama ini, krill Antartika dikenal sebagai penghuni penting perairan terbuka Samudra Selatan. Tubuhnya kecil, tetapi perannya sangat besar: hewan ini menjadi sumber makanan bagi paus, anjing laut, penguin, burung laut, dan berbagai organisme lainnya.

Namun penelitian terbaru mengungkap sisi lain dari kehidupan krill yang selama ini nyaris tidak diketahui.

Para ilmuwan menemukan betina krill Antartika yang sedang membawa telur di sekitar ventilasi hidrotermal di dasar laut, termasuk pada kedalaman sekitar 1.100 meter di bawah permukaan.

Temuan tersebut diterbitkan dalam jurnal Communications Biology pada September 2026. Para peneliti menemukan beberapa garis bukti yang menunjukkan bahwa betina yang aktif bereproduksi tidak hanya mengunjungi habitat laut dalam tersebut, tetapi juga kemungkinan memperoleh makanan dari mikroorganisme yang hidup dengan memanfaatkan energi kimia dari ventilasi hidrotermal.

Penemuan ini memperluas pemahaman ilmuwan tentang habitat krill—dan menimbulkan pertanyaan baru tentang di mana sebenarnya sebagian proses reproduksi hewan kecil yang menopang ekosistem Antartika itu berlangsung.

Empat Krill Membuka Sebuah Misteri

Kisah penemuan ini bermula ketika para peneliti melakukan survei menggunakan remotely operated vehicle (ROV) di kawasan Hook Ridge, di Selat Bransfield, dekat Semenanjung Antartika.

ROV beroperasi sekitar 3.600 kaki atau sekitar 1.100 meter di bawah permukaan laut untuk mempelajari sistem ventilasi hidrotermal.

Ventilasi hidrotermal merupakan celah di dasar laut tempat fluida panas dan kaya mineral keluar dari kerak Bumi. Lingkungannya gelap, bertekanan tinggi, dan memiliki kondisi kimia yang ekstrem.

Ketika kamera ROV menangkap krill di sekitar struktur ventilasi tersebut, para peneliti memperoleh kesempatan yang tidak biasa.

Mereka berhasil mengumpulkan empat ekor krill, dan semuanya merupakan betina dewasa yang sedang membawa telur. Keempatnya juga menunjukkan tanda telah kawin.

Temuan tersebut menjadi sangat menarik karena krill Antartika selama ini terutama dikaitkan dengan perairan bagian atas Samudra Selatan.

Kini, dasar laut ternyata juga masuk dalam peta habitat yang harus diperhitungkan.

Bukan Sekadar Kebetulan

Empat ekor hewan tentu belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh populasi krill bergantung pada ventilasi hidrotermal.

Karena itu, tim peneliti mencari bukti tambahan.

Mereka membandingkan krill yang ditemukan di sekitar ventilasi dengan krill dari lokasi dasar laut yang tidak memiliki ventilasi hidrotermal.

Analisis dilakukan terhadap mikrobioma usus, isotop stabil, dan unsur logam jejak dalam tubuh krill. Hasilnya memberikan petunjuk bahwa krill dari kawasan ventilasi telah mengonsumsi mikroorganisme yang berkaitan dengan proses kemosintesis.

Ini penting karena kehidupan di sekitar ventilasi hidrotermal tidak harus bergantung langsung pada cahaya Matahari.

Di banyak ekosistem permukaan, energi awal rantai makanan berasal dari fotosintesis.

Di sekitar ventilasi hidrotermal, mikroorganisme tertentu dapat memperoleh energi dari senyawa kimia yang keluar dari dasar laut. Mikroba tersebut kemudian menjadi bagian dari rantai makanan lokal.

Dengan demikian, krill tampaknya dapat memanfaatkan sumber makanan yang berasal dari sistem biologis berbeda dari yang biasanya diasosiasikan dengan kehidupan di perairan terbuka Antartika.

Mereka Tidak Sedang Memasak Telur

Nama “ventilasi hidrotermal” mungkin membayangkan air yang sangat panas dan berbahaya.

Tetapi penting untuk membedakan antara fluida panas yang keluar dari ventilasi dan air laut di sekitarnya.

Krill tidak ditemukan berenang langsung di dalam fluida hidrotermal yang ekstrem. Mereka berada di lingkungan sekitar struktur ventilasi, tempat terjadi pencampuran antara fluida kaya mineral dan air laut.

Lingkungan ini menghasilkan kondisi kimia yang unik sekaligus menyediakan habitat bagi komunitas mikroorganisme.

Para peneliti menduga kondisi tersebut mungkin menawarkan beberapa keuntungan bagi krill betina yang sedang bereproduksi.

Namun, penelitian ini belum membuktikan bahwa ventilasi hidrotermal merupakan tempat krill bertelur atau bahwa krill bergantung pada habitat tersebut untuk berkembang biak. Kesimpulan yang lebih aman adalah bahwa betina yang aktif bereproduksi terbukti memanfaatkan habitat tersebut.

Perbedaan ini penting.

Dalam ilmu pengetahuan, menemukan suatu hewan di sebuah habitat tidak otomatis berarti habitat tersebut merupakan tempat wajib bagi seluruh siklus hidupnya.

Petunjuk dari Isi Perut

Salah satu bukti paling menarik berasal dari mikroorganisme di dalam saluran pencernaan krill.

Pada krill yang dikumpulkan di Hook Ridge, para peneliti menemukan tanda-tanda konsumsi bakteri kemosintetik, termasuk kelompok seperti Sulfurimonas dan Sulfurovum.

Sebaliknya, krill dari lokasi yang tidak memiliki ventilasi menunjukkan tanda konsumsi organisme yang berkaitan dengan produksi fotosintetik.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa krill yang mengunjungi ventilasi hidrotermal kemungkinan memperoleh sebagian makanannya dari sumber yang berbeda.

Dengan kata lain, dasar laut bukan sekadar tempat mereka kebetulan lewat.

Ada indikasi bahwa lingkungan tersebut menyediakan sumber daya yang benar-benar mereka manfaatkan.

Ada Mineral yang Mungkin Penting

Analisis jaringan tubuh juga memberikan petunjuk lain.

Krill yang dikumpulkan di sekitar ventilasi memiliki jejak unsur logam yang berbeda dibandingkan krill dari lokasi pembanding.

Salah satu unsur yang mendapat perhatian adalah mangan.

Mangan merupakan unsur penting bagi organisme dan diduga memiliki peran dalam berbagai proses biologis, termasuk perkembangan embrio pada krustasea. Para peneliti mengusulkan bahwa kelimpahan unsur tertentu di sekitar ventilasi mungkin menjadi salah satu alasan betina yang sedang bereproduksi memanfaatkan habitat tersebut.

Tetapi sekali lagi, ini masih berupa hipotesis yang perlu diuji lebih lanjut, bukan bukti bahwa mangan merupakan alasan pasti krill turun ke dasar laut.

Ilmuwan masih perlu mengetahui apakah manfaat nutrisi, makanan, kondisi temperatur, atau kombinasi beberapa faktor yang mendorong perilaku tersebut.

Penemuan Kedua Membuatnya Lebih Menarik

Jika penemuan hanya terjadi sekali di satu lokasi, kemungkinan bahwa fenomena tersebut merupakan kejadian langka akan lebih sulit dikesampingkan.

Namun para peneliti mendapatkan petunjuk tambahan.

Rekaman ROV dari Quest Caldera di kawasan Scotia Arc juga memperlihatkan keberadaan krill betina yang membawa telur di sekitar ventilasi hidrotermal.

Dengan demikian, fenomena tersebut tidak hanya diamati di satu lokasi.

Kedua lokasi tersebut berjarak sangat jauh satu sama lain, sehingga pengamatan tambahan ini memperkuat dugaan bahwa penggunaan habitat ventilasi hidrotermal mungkin merupakan perilaku yang lebih luas daripada yang sebelumnya diperkirakan.

Tetapi seberapa luas perilaku tersebut masih belum diketahui.

Krill: Hewan Kecil dengan Peran Raksasa

Ukuran krill mungkin hanya beberapa sentimeter.

Namun secara ekologis, pengaruhnya sangat besar.

Krill Antartika (Euphausia superba) merupakan salah satu komponen utama jaring makanan Samudra Selatan. Paus, anjing laut, penguin, burung laut, dan berbagai predator laut lainnya bergantung langsung maupun tidak langsung pada keberadaan krill.

Para peneliti memperkirakan biomassa kumulatif krill Antartika mendekati setengah miliar ton, menjadikannya salah satu kelompok hewan liar dengan biomassa terbesar di Bumi. Sekitar 30 persen biomassanya terkonsentrasi di kawasan dari Semenanjung Antartika bagian utara hingga Laut Scotia.

Karena itu, perubahan kecil dalam pemahaman tentang habitat krill dapat memiliki konsekuensi besar bagi penelitian ekosistem Samudra Selatan.

Jika ternyata habitat laut dalam memiliki peran penting pada fase reproduksi tertentu, peta perlindungan krill mungkin tidak cukup hanya memperhatikan perairan permukaan.

Laut Dalam Tidak Lagi Terlihat Sebagai Dunia Terpisah

Selama bertahun-tahun, ilmuwan sering mempelajari ekosistem permukaan dan ekosistem dasar laut sebagai lingkungan yang relatif berbeda.

Penemuan ini menunjukkan bahwa hubungan di antara keduanya bisa jauh lebih rumit.

Krill yang biasanya dikenal membentuk kawanan di perairan atas ternyata dapat turun ke lingkungan laut dalam dan memanfaatkan sumber daya yang berasal dari sistem geologi dasar laut.

Hal tersebut juga memperlihatkan bagaimana ekosistem kemosintetik laut dalam dapat terhubung dengan jaring makanan yang jauh lebih luas.

Ventilasi hidrotermal tidak lagi hanya dipandang sebagai “oasis” kehidupan yang terisolasi di dasar laut. Energi dan biomassa yang dihasilkan mikroorganisme di sana ternyata berpotensi masuk ke jaringan makanan organisme yang lebih besar.

Apakah Krill Akan Selalu Kembali ke Sana?

Inilah pertanyaan terbesar yang belum terjawab.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa betina yang sedang bereproduksi menggunakan habitat ventilasi hidrotermal.

Tetapi para ilmuwan belum dapat memastikan apakah mereka:

  • hanya mencari makanan;
  • memperoleh mineral tertentu;
  • memanfaatkan kondisi lingkungan yang lebih menguntungkan;
  • menggunakan kawasan tersebut sebagai tempat persiapan reproduksi;
  • atau melakukan kombinasi dari beberapa perilaku tersebut.

Belum diketahui pula apakah betina benar-benar melepaskan telurnya di sekitar ventilasi atau kemudian kembali ke perairan yang lebih dangkal.

Para peneliti sendiri menekankan perlunya penelitian lanjutan untuk memahami fungsi sebenarnya dari habitat tersebut.

Temuan yang Mengubah Peta Habitat Krill

Penemuan ini tidak berarti bahwa krill Antartika tiba-tiba meninggalkan laut terbuka dan pindah ke dasar laut.

Perairan permukaan tetap merupakan bagian penting dari kehidupannya.

Yang berubah adalah gambaran kita tentang seberapa luas habitat yang dapat dimanfaatkan krill, terutama oleh betina yang sedang aktif bereproduksi.

Dari permukaan Samudra Selatan hingga dasar laut sekitar 1.100 meter, ternyata ada hubungan ekologis yang sebelumnya belum terlihat.

Dan semuanya terungkap berkat kamera sebuah kendaraan robotik yang bekerja dalam kegelapan dasar laut.

Ketika Krill Membawa Kita Lebih Dalam

Penemuan ini memberikan pelajaran penting dalam ilmu kelautan: kita mungkin belum benar-benar memahami suatu spesies hanya dengan mempelajari tempat yang paling mudah kita lihat.

Krill Antartika telah lama menjadi salah satu simbol kehidupan di perairan dingin Samudra Selatan.

Kini, para ilmuwan menemukan bahwa bagian tertentu dari kehidupannya mungkin berlangsung di tempat yang sangat berbeda—di dasar laut, di antara cerobong mineral yang dibentuk aktivitas geologi Bumi.

Hewan kecil yang menopang rantai makanan raksasa ternyata memiliki hubungan dengan salah satu lingkungan paling ekstrem di planet ini.

Dan mungkin, seperti banyak penemuan laut dalam lainnya, ini bukan akhir dari cerita.

Justru awal dari pertanyaan yang jauh lebih besar: berapa banyak bagian dari siklus kehidupan di laut yang masih tersembunyi di bawah permukaan?

Sumber Berita
  1. Communications Biology / Nature Portfolio — Bernard, K. S. et al. (2026), “Deep Sea hydrothermal vent habitats support gravid Antarctic krill”, Communications Biology 9, 1129. DOI: 10.1038/s42003-026-10780-1.
  2. PubMed / National Library of Medicine — rekaman penelitian dan abstrak ilmiah.
  3. National Geographic Society — laporan mengenai penemuan krill di sekitar ventilasi hidrotermal dalam ekspedisi Southern Ocean.
  4. NPR / Oregon Public Broadcasting — laporan lapangan mengenai penemuan krill betina pembawa telur di kedalaman sekitar 1.100 meter dan konteks penelitian.

Share:

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terkait
James Webb mengungkap kelahiran bintang di nebula NGC 7129

James Webb Menangkap Tempat Bintang Dilahirkan: Nebula 3.300 Tahun...

Science, ElrolumNews - Di balik awan debu yang tampak gelap dan tenang, bintang-bintang sedang lahir.Sekitar 3.300 tahun...
Katai cokelat perlahan mentransfer materi kepada bintang kecil dalam orbit 87 menit

Bintang Kecil Ini Sedang Memakan Tetangganya: Katai Cokelat Mengorbit...

Science, ElrolumNews - Sekitar 300 tahun cahaya dari Bumi, dua benda langit sedang menjalani hubungan kosmik yang...
Ketika cahaya kota mengubah malam, ekosistem ikut merespons

Ketika Malam Tidak Lagi Gelap: Cahaya Kota Diam-Diam Mengubah...

Science, ElrolumNews - Malam bagi manusia mungkin hanya berarti waktu untuk menyalakan lampu. Bagi alam, malam adalah bagian...

Lainnya

Popular