Kuliner Nusantara, Elrolumnews – Mie-nya dari Tiongkok. Bumbunya dari India. Rasa akhirnya? Sepenuhnya Aceh.
Itulah yang membuat Mie Aceh unik dibanding hidangan mie daerah lain di Indonesia. Hidangan ini lahir dari pertemuan dua jalur perdagangan kuno yang sama-sama singgah di tanah Serambi Mekah.
Dua Jalur Budaya yang Bertemu di Satu Mangkuk
Menurut catatan yang dirangkum dari berbagai sumber kuliner, mie pada hidangan ini merupakan mie Hokkien yang dibawa masuk melalui hubungan dagang antara Kerajaan Aceh dan Tiongkok yang telah terjalin sejak abad ke-13. Sementara itu, bumbu kuah kental berempah seperti jintan, kapulaga, dan kunyit, yang membuat Mie Aceh terasa seperti perpaduan antara mie dan kari, dipercaya dibawa oleh pedagang Muslim dari Gujarat, India, yang kemudian berbaur dengan masyarakat setempat.
Penyajian dengan daging kambing dan sapi mencerminkan tradisi Islam yang kuat di Aceh, sementara variasi dengan hasil laut menunjukkan pengaruh kondisi geografis Aceh yang dikelilingi lautan.
Nama yang Belum Lama Populer
Menariknya, istilah “Mie Aceh” sendiri belum lama dikenal luas. Menurut laporan ANTARA, sebelum tahun 2000-an istilah ini belum begitu populer; masyarakat Aceh lebih mengenalnya dengan sebutan mie teupong, yang berarti mie tepung dalam bahasa Aceh. Nama “Mie Aceh” baru berkembang luas seiring meningkatnya wisatawan domestik dan internasional yang mempromosikan kuliner ini ke berbagai daerah.
Dari Rekonstruksi Pascatsunami ke Panggung Dunia
Popularitas Mie Aceh justru semakin menanjak setelah tsunami Aceh 2004. Sekitar 2006, kuliner khas Aceh mulai mendapat sorotan lebih luas, ditandai dengan bermunculannya restoran-restoran bertema Aceh di berbagai kota di Sumatra dan Jawa. Kini, Mie Aceh bahkan dipromosikan di komunitas diaspora Aceh hingga ke Qatar sebagai bagian dari identitas budaya yang dibawa serta.
Dari pelabuhan dagang kuno hingga meja makan di berbagai penjuru dunia, Mie Aceh menjadi bukti bahwa akulturasi budaya kerap menghasilkan sesuatu yang jauh lebih kaya dari sekadar penjumlahan asal-usulnya.
(el)




