Minyak Goreng Bekas: Berapa Kali Boleh Dipakai Ulang?

Tips & Fakta Kuliner, Elrolumnews – Banyak rumah tangga menyimpan minyak bekas penggorengan karena sayang membuangnya. Kebiasaan ini wajar, tetapi sejumlah penelitian dan pakar gizi mengingatkan bahwa minyak goreng yang dipanaskan berulang mengalami perubahan kimia dan ada batas yang disarankan untuk pemakaian ulang.

Menurut sejumlah kajian, pemanasan minyak berulang pada suhu tinggi dapat mengubah komposisi asam lemak dan menurunkan mutu minyak. Penelitian deskriptif terhadap sampel minyak bekas pedagang ayam geprek yang dipublikasikan repositori Poltekkes Tanjungkarang melaporkan bilangan peroksida dan asam lemak bebas yang meningkat pada minyak yang telah dipakai lebih dari tiga kali. Penelitian itu hanya menggunakan enam sampel pada lokasi tertentu, sehingga hasilnya menggambarkan kondisi sampel tersebut dan tidak dapat digeneralisasi.

Prof. Hardinsyah, pakar gizi, dalam wawancara dengan detikHealth, menjelaskan bahwa pemanasan berulang dapat mengubah asam lemak menjadi lemak trans, yang tidak baik bagi kesehatan. Ia menyarankan agar minyak bekas tidak dipakai lebih dari dua kali, atau total tiga kali sejak pertama digunakan.

Pemberitaan detikHealth juga mengutip penelitian tahun 2020 yang mengaitkan penggunaan minyak berulang dengan terbentuknya senyawa seperti polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH), yang bersifat karsinogenik. Hasil semacam ini sebagian besar berasal dari kondisi laboratorium dan tidak menggambarkan risiko tiap rumah tangga secara langsung, tetapi menjadi alasan kehati-hatian.

Umumnya, minyak yang sudah menurun mutunya tampak lebih gelap, lebih kental, berbau tengik, atau berasap pada suhu yang lebih rendah dari biasanya. Tanda-tanda ini bersifat petunjuk kasar, bukan pengganti uji laboratorium.

Makanan yang berbumbu atau bertepung cenderung meninggalkan sisa yang cepat gosong dan mengotori minyak, sehingga mutu minyak dapat menurun lebih cepat. Menyaring minyak setelah dingin dan tidak mencampur minyak lama dengan minyak baru dapat membantu, meski tidak menghilangkan perubahan kimia yang telah terjadi.

Hindari membuang minyak bekas ke saluran air karena dapat menyumbat dan mencemari lingkungan. Minyak yang sudah tidak layak dapat dikumpulkan dalam wadah tertutup dan diserahkan ke pengumpul atau program bank minyak jelantah bila tersedia di daerah masing-masing.

Memakai ulang minyak sesekali bukan hal luar biasa, tetapi penelitian dan pakar menyarankan pembatasan jumlah pemakaian ulang dan penggantian minyak yang sudah menggelap atau berbau tengik. Batas yang tepat dapat berbeda tergantung jenis makanan, suhu menggoreng, dan jenis minyak.

Catatan Artikel ini membahas minyak goreng sebagai bahan pangan berdasarkan ringkasan penelitian dan pernyataan pakar yang tersedia secara publik. Informasi ini bukan pengganti saran dari tenaga kesehatan, terutama bagi individu dengan kondisi medis tertentu.

Share:

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terkait
Tempe segar hasil fermentasi kedelai, pangan tradisional Indonesia yang banyak dikaji kandungan gizinya

Manfaat Tempe bagi Kesehatan, Apa Kata Penelitian dan Ahli...

Tips & Fakta Kuliner, Elrolumnews – Tempe adalah makanan fermentasi tradisional Indonesia yang umumnya dibuat dari kedelai...
Lumpia Semarang goreng dengan isian rebung, udang, dan telur, disajikan dengan saus manis

Lumpia Semarang, Kisah Akulturasi Tionghoa dan Jawa dalam Satu...

Kuliner Nusantara, Elrolumnews – Kulitnya tipis. Isiannya rebung. Aromanya khas dan rasanya manis gurih. Lumpia Semarang kerap dipandang...
Soto Betawi dengan kuah santan yang kental, potongan daging, dan tomat, disajikan dengan emping dan sambal

Soto Betawi, Kuah Santan dan Susu yang Mendapat Nama...

Kuliner Nusantara, Elrolumnews – Kuahnya keruh. Kental. Gurih dengan aroma santan yang khas. Itulah ciri yang paling mudah...

Lainnya

Popular