New York, ELrolumNews — Puluhan delegasi meninggalkan ruang Sidang Umum PBB sebagai bentuk protes saat Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyampaikan pidatonya di Sidang Umum PBB ke-81 di New York, Jumat (26/9/2026). Aksi walk out ini menjadi bentuk solidaritas terhadap Palestina dan kecaman atas agresi Israel di Gaza.
Aksi protes dimulai sejak Netanyahu naik ke podium. Sejumlah delegasi dari negara-negara Arab, Afrika, dan Asia terlihat berdiri dan meninggalkan ruang sidang. Beberapa di antaranya mengibarkan bendera Palestina sebagai simbol dukungan.
Dalam pidatonya yang berlangsung sekitar 25 menit, Netanyahu membela tindakan militer Israel di Gaza. Ia menolak tuduhan genosida yang dilayangkan kepada Israel dan mengeklaim bahwa negaranya justru “mencegah genosida”.
“Israel tidak melakukan genosida. Israel mencegah genosida. Kami melindungi warga sipil kami dari terorisme Hamas,” tegas Netanyahu.
Ia juga menyerang Hamas dan kelompok militan lainnya yang menurutnya bertanggung jawab atas penderitaan warga Gaza.
“Jika Hamas meletakkan senjata dan menyerahkan para sandera, perang ini akan berakhir besok,” ujarnya.
Aksi walk out ini mendapat dukungan dari sejumlah negara. Delegasi dari Turki, Qatar, dan Afrika Selatan terlihat meninggalkan ruang sidang. Seorang diplomat dari negara Arab yang enggan disebutkan namanya menyatakan bahwa pidato Netanyahu adalah “propaganda” dan “distorsi fakta”.
“Kami tidak akan tinggal mendengarkan pembenaran atas pembantaian warga sipil,” tegasnya.
Organisasi hak asasi manusia internasional mengecam pidato Netanyahu. Amnesty International menyatakan bahwa Israel telah melakukan pelanggaran HAM berat di Gaza dan harus dimintai pertanggungjawaban.
“Kami menyerukan kepada komunitas internasional untuk bertindak tegas terhadap Israel. Tidak ada tempat bagi genosida di dunia ini,” ujar perwakilan Amnesty International.
Konflik Israel-Hamas di Gaza telah berlangsung sejak 7 Oktober 2023. Menurut data PBB, lebih dari 40.000 warga Palestina telah tewas dalam konflik tersebut, sementara jutaan lainnya mengungsi dan membutuhkan bantuan kemanusiaan.
Netanyahu dijadwalkan menggelar serangkaian pertemuan bilateral dengan sejumlah pemimpin dunia setelah pidatonya. Namun, beberapa negara dilaporkan membatalkan pertemuan dengan Netanyahu sebagai bentuk protes.
(fvs)





