PEK LIONG PO KIAM: Pertarungan di Kuil Bayangan yang Mengguncang Takdir

Episode 2: “Pertarungan di Kuil Bayangan”

Sastra/Fiksi – ElrolumNews – Pintu kuil yang berat dan besar itu terbuka dengan suara berderit yang panjang dan mengerikan, seolah-olah kuil itu sendiri sedang mengerang menahan beban ribuan tahun. Di dalam, kegelapan pekat menyambut Han Liong dan Pauw Lian — kegelapan yang begitu dalam sehingga seolah-olah ia memiliki wujud, menekan dada mereka dan membuat napas terasa berat. Namun, di tengah kegelapan itu, sepasang mata merah menyala bersinar tajam, menatap mereka dengan kebencian dan kebanggaan. “Akhirnya,” suara berat dan serak bergema dari dalam gelap, “kau datang, Han Liong. Pewaris Pedang Putih yang malang. Dan kau membawa serta gadis berbaju hitam — pewaris Pedang Hitam. Sungguh… aku sudah menunggu kalian berdua sangat lama.”

Han Liong melangkah maju, melindungi Pauw Lian di belakangnya. Pedang Naga Putih di tangannya mulai bersinar terang, menerangi sebagian ruangan besar di dalam kuil. Ia bisa melihat pilar-pilar batu besar yang berukirkan naga-naga hitam, lantai batu yang retak-retak, dan di ujung ruangan, sebuah singgasana batu yang terbuat dari tulang-belulang manusia. Di atas singgasana itu duduk sesosok makhluk bertubuh tinggi kurus, terbungkus jubah hitam lusuh, dengan wajah yang hampir tidak terlihat di balik kerudung gelap. Hanya matanya yang merah menyala yang terlihat jelas. “Siapa kau?” tanya Han Liong dengan suara tegas namun bergetar tipis. Makhluk itu tertawa, suaranya seperti gesekan batu. “Aku? Aku adalah Bayangan — pemimpin persekutuan iblis ini. Dan aku adalah orang yang membunuh ayah dan ibumu, Han Liong.”

Han Liong merasakan darahnya mendidih. Amarah yang selama sepuluh tahun ia pendam kini meledak seperti gunung berapi. “KAU!” teriaknya dengan suara parau, “KAU YANG MEMBUNUH MEREKA?!” Ia melompat ke depan, pedang putihnya terayun dengan kecepatan luar biasa menuju makhluk itu. Namun Bayangan hanya tertawa. Dengan gerakan yang hampir tidak terlihat, ia mengangkat tangannya dan melepaskan gelombang energi hitam yang menghantam Han Liong di tengah udara. Han Liong terlempar ke belakang, tubuhnya membentur pilar batu dengan keras. Ia terjatuh, batuk darah, tetapi segera bangkit kembali. “Kau masih terlalu lemah, anak kecil,” kata Bayangan dengan nada mengejek. “Ayolah, tunjukkan padaku apa yang kau pelajari dari keempat guru tua itu selama sepuluh tahun!”

- Advertisement -

Pauw Lian berteriak, “HAN LIONG!” Ia melangkah maju, pedang hitamnya terhunus dan bercahaya gelap. “Kau jangan menyentuhnya!” bentaknya pada Bayangan. Namun Bayangan hanya tertawa. “Ah, gadis kecil yang pemberani. Pewaris Pedang Hitam. Tahukah kau, kutukan yang melekat pada pedang-pedang itu adalah ciptaanku?” Pauw Lian terkejut. “Apa? Kau yang menciptakan kutukan itu?” Bayangan mengangguk pelan. “Ya. Aku adalah pandai besi yang dulu menciptakan kedua pedang itu. Aku menciptakannya untuk kekasihku dan sahabatku. Namun mereka mengkhianatiku. Jadi aku mengutuk pedang-pedang itu — agar tidak pernah membawa kebahagiaan bagi siapa pun yang memilikinya.” Suaranya menjadi lebih gelap dan penuh kebencian. “Dan kalian berdua, pewaris pedang-pedang itu, akan menderita nasib yang sama!”

Han Liong bangkit dengan susah payah, darah masih membasahi bibirnya. Namun matanya tidak pernah lepas dari Bayangan. “Kutukan…” gumamnya. “Jadi semua ini tentang dendam pribadi. Kau menghancurkan keluarga-keluarga hanya karena kau dikhianati.” Bayangan tertawa lagi, tetapi kali ini tawanya terdengar lebih getir. “Kau tidak mengerti apa-apa, bocah! Cinta dan pengkhianatan adalah dua sisi dari koin yang sama. Aku mencintai mereka, dan mereka menghancurkanku. Jadi aku akan menghancurkan semua yang mereka cintai!” Han Liong menggenggam pedangnya erat-erat. “Kau salah,” katanya dengan suara mantap. “Kau mungkin bisa menghancurkan tubuh, tetapi kau tidak bisa menghancurkan cinta. Dan aku akan membuktikannya padamu!” Dengan teriakan perang, ia melesat ke depan sekali lagi — kali ini lebih cepat dan lebih kuat dari sebelumnya.

Explore additional categories

Explore