| Episode 3: “Rahasia Desa Kuno” |
Sasra/Fiksi, ElrolumNews – Setelah pertarungan di Kuil Bayangan, Han Liong dan Pauw Lian melanjutkan perjalanan mereka dengan tujuan baru: mencari tahu asal-usul kutukan yang melekat pada pedang-pedang pusaka mereka. Mereka berjalan selama tiga hari tiga malam, melewati hutan lebat, menyeberangi sungai deras, dan mendaki bukit-bukit terjal. Pada hari keempat, mereka tiba di sebuah lembah yang tersembunyi, di mana kabut tebal selalu menyelimuti pepohonan dan udara terasa dingin dan lembap. Di tengah lembah itu, mereka melihat sebuah desa kuno yang tampak seperti telah ada sejak ribuan tahun lalu — Desa Giok, nama yang terdengar seperti bisikan dari masa lalu.
Saat mereka memasuki desa, seorang perempuan tua muncul dari balik pintu sebuah rumah kayu. Ia berjalan dengan tongkat di tangannya, tetapi langkahnya tidak menunjukkan kelemahan. Matanya yang tajam dan berkilau menatap Han Liong dan Pauw Lian dengan penuh arti. “Akhirnya,” katanya dengan suara serak tetapi jelas, “kau datang, Han Liong. Aku sudah menunggumu.” Han Liong terkejut. “Apa kau mengenalku, Nenek?” Perempuan itu tersenyum, memperlihatkan gigi-giginya yang masih putih. “Aku mengenal ayah dan ibumu, Nak. Dan aku mengenal pedang yang kau bawa di pinggangmu. Masuklah, kita punya banyak hal untuk dibicarakan.” Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Han Liong dan Pauw Lian saling berpandangan dengan heran.

Di dalam rumah, udara terasa hangat dan harum dupa. Perempuan tua itu menyuruh mereka duduk di atas tikar bambu, lalu menyajikan teh hangat dalam cangkir-cangkir kecil dari tanah liat. “Namaku Nyi Roro,” katanya sambil duduk di hadapan mereka. “Dan aku adalah penjaga Desa Giok. Desamu,” ia menatap Han Liong, “adalah tempat ayah dan ibumu dilahirkan dan dibesarkan.” Han Liong terkesiap. “Apa? Ayah dan ibuku berasal dari sini?” Nyi Roro mengangguk. “Ya. Desa ini adalah tempat lahirnya Pedang Pusaka Naga Putih dan Naga Hitam. Dan aku adalah saksi dari semua yang terjadi.” Pauw Lian menyela, “Lalu, apakah Nenek tahu tentang kutukan itu? Tentang pedang yang tidak boleh dimiliki sepasang kekasih?”

Nyi Roro menghela napas panjang, matanya menatap jauh ke dalam kenangan. “Kutukan itu… dimulai dari sebuah cinta yang hancur. Pandai besi sakti yang menciptakan kedua pedang itu — namanya Ki Jaya Baya. Ia mencintai seorang perempuan bernama Dewi Bulan. Namun Dewi Bulan mencintai sahabatnya sendiri, seorang pendekar bernama Arya Seta.” Han Liong dan Pauw Lian mendengarkan dengan seksama. “Ki Jaya Baya merasa dikhianati,” lanjut Nyi Roro. “Ia menciptakan dua pedang untuk mereka — Pedang Putih untuk Arya Seta, dan Pedang Hitam untuk Dewi Bulan. Namun di dalam pedang-pedang itu, ia menanamkan kutukan. Jika kedua pedang itu dimiliki oleh sepasang kekasih, mereka akan menderita sengsara selama-lamanya.” Pauw Lian menggigit bibirnya, “Jadi kutukan itu benar-benar nyata?”

Han Liong mengepalkan tangannya. “Tetapi itu semua terjadi ribuan tahun lalu! Mengapa kutukan itu masih ada sampai sekarang?” Nyi Roro menatapnya dengan mata tajam. “Karena kutukan itu hanya bisa dipatahkan oleh keturunan dari orang-orang yang terlibat. Dan kau, Han Liong, adalah keturunan Arya Seta. Sementara Pauw Lian adalah keturunan Dewi Bulan.” Han Liong dan Pauw Lian saling berpandangan dengan terkejut. “Jadi… kamilah yang harus mematahkan kutukan itu?” tanya Pauw Lian. Nyi Roro mengangguk. “Hanya kalian berdua yang bisa melakukannya. Tetapi ada syaratnya: kalian harus menemukan ‘Jantung Pedang’ — inti dari kedua pedang pusaka yang tersembunyi di suatu tempat di desa ini.”





