Kali ini Han Liong tidak menyerang langsung. Ia menggunakan jurus yang diajarkan Guru Hwi Seng — gerakan yang lincah seperti monyet, menghindari serangan energi hitam Bayangan dengan gesit. Ia melompat ke kiri, ke kanan, berputar di udara, mendekati singgasana dari berbagai arah. Bayangan mulai kehilangan kesabaran. “Bocah menyebalkan! Berdiam dirilah!” Ia melepaskan gelombang energi hitam yang lebih besar, tetapi Han Liong menghindarinya dengan tipis. Di saat yang sama, Pauw Lian bergerak dari sisi lain. Dengan pedang hitamnya yang bercahaya gelap, ia menyerang dari belakang. “Sekarang!” teriaknya. Han Liong dan Pauw Lian menyerang secara bersamaan — putih dan hitam, cahaya dan bayangan, bersatu dalam satu gerakan yang sempurna.
Bayangan terkejut oleh serangan simultan itu. Ia berhasil menghindari serangan Han Liong, tetapi pedang hitam Pauw Lian mengenai lengan kirinya. Energi gelap dari pedang itu membuat Bayangan menjerit kesakitan — jeritan yang mengerikan, seperti ribuan ular mendesis sekaligus. “SIALAN!” teriak Bayangan. Darah hitam menetes dari lengannya. Untuk pertama kalinya, ia tampak tidak lagi percaya diri. “Kau… kau telah melukaiku. Tidak ada seorang pun yang bisa melukaiku selama seratus tahun terakhir!” Han Liong berdiri di samping Pauw Lian, pedang putih dan hitam mereka sekarang bersinar dalam harmoni yang sempurna. “Kami bukan siapa-siapa,” kata Han Liong dengan tenang. “Kami hanya dua orang yang memilih untuk melawan kejahatan, bukan dengan kebencian, tetapi dengan keberanian.”
Bayangan tertawa pahit. “Kau pikir kau sudah menang? Kau bodoh! Ini baru permulaan!” Ia mengangkat tangannya yang sehat ke atas, dan seluruh kuil mulai berguncang. Dinding-dinding retak, pilar-pilar mulai roboh, dan dari tanah muncul pasukan bayangan — makhluk-makhluk hitam tak berwujud dengan mata merah yang menyala. “Hancurkan mereka!” perintah Bayangan. Puluhan pasukan bayangan melesat menuju Han Liong dan Pauw Lian. Han Liong dan Pauw Lian saling berpandangan, dan tanpa kata, mereka mengerti satu sama lain. “Kita bertarung bersama,” kata Han Liong. Pauw Lian mengangguk. “Sampai akhir.” Mereka lalu berputar saling membelakangi, pedang putih dan hitam mereka menari dalam tarian kematian yang indah.
Pertarungan berlangsung sengit. Han Liong menggunakan jurus-jurus yang ia pelajari dari keempat gurunya — jurus tangan kosong dari Guru Hwi Seng, jurus pedang dasar dari Guru Liem Bu, strategi dari Guru Cu Kang, dan ketenangan dari Guru Beng Hoat. Sementara itu, Pauw Lian bergerak seperti bayangan, pedang hitamnya menebas dengan kecepatan mematikan. Mereka bertarung bahu-membahu, melindungi satu sama lain, menutupi kelemahan masing-masing. Satu per satu, pasukan bayangan mulai rubuh, berubah menjadi asap hitam dan menghilang. Namun semakin banyak yang muncul, dan Han Liong mulai kelelahan. “Kita tidak bisa bertahan selamanya!” teriak Pauw Lian.
Di tengah keputusasaan, Han Liong teringat pada kata-kata Guru Cu Kang: “Ilmu pedang bukanlah untuk balas dendam. Ilmu pedang adalah untuk melindungi.” Dan kata-kata Guru Beng Hoat yang misterius: “Saat kau berada dalam kegelapan, ingatlah bahwa cahaya sejati berasal dari dalam.” Han Liong menutup matanya sejenak. Ia merasakan kehadiran Pauw Lian di sampingnya, merasakan denyut nadi pedang putihnya, dan merasakan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri — sebuah kekuatan yang datang dari cinta, dari persahabatan, dari keyakinan bahwa kebaikan akan selalu menang. Ia membuka matanya, dan kali ini, cahaya dari pedangnya menyala lebih terang dari sebelumnya, menyilaukan seperti matahari.
