PEK LIONG PO KIAM: Pertarungan di Kuil Bayangan yang Mengguncang Takdir

Dengan teriakan penuh semangat, Han Liong melompat ke udara, pedang putihnya berputar membentuk pusaran cahaya raksasa. “JURUS NAGA PUTIH MENYAPU DUNIA!” teriaknya. Cahaya putih menyebar ke seluruh ruangan, mengenai setiap makhluk bayangan, mengubah mereka menjadi debu cahaya. Pasukan bayangan lenyap dalam sekejap. Bayangan yang duduk di singgasana terpaksa mengangkat tangannya untuk melindungi dirinya dari cahaya yang menyilaukan. “TIDAK! INI TIDAK MUNGKIN!” teriaknya dengan amarah. Han Liong mendarat dengan anggun di hadapan Bayangan, pedang putihnya sekarang bersinar seterang matahari. “Inilah yang kau sebut kutukan?” kata Han Liong dengan tenang. “Inilah yang sebenarnya — bukan kutukan, tetapi kekuatan yang lahir dari kebaikan. Dan kau tidak akan pernah bisa menghancurkannya.”

 

Bayangan tertawa pahit di balik tangannya. “Kau mungkin mengalahkan pasukanku, tetapi kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku! Selama kebencian masih ada di dunia ini, aku akan selalu kembali!” Han Liong menurunkan pedangnya, matanya menatap Bayangan dengan tenang tetapi tajam. “Mungkin kau benar. Selama kebencian masih ada, kejahatan akan selalu ada. Tetapi selama ada cinta, kebaikan juga akan selalu ada. Dan kebaikan akan selalu lebih kuat.” Bayangan terdiam. Untuk pertama kalinya, matanya yang merah menyala tampak ragu-ragu. “Kau… kau sangat mirip dengan ayahmu,” katanya pelan, hampir berbisik. “Dia juga berkata hal yang sama sebelum aku membunuhnya.” Han Liong merasakan amarahnya bangkit, tetapi ia menahannya. “Apa yang kau lakukan kepada ayahku?” tanyanya dengan suara bergetar. “Apa yang sebenarnya terjadi?”

- Advertisement -

Bayangan menghela napas panjang, suaranya kini terdengar lebih tua dan lebih lelah. “Ayahmu adalah sahabat terbaikku. Kami berdua menciptakan pedang-pedang pusaka ini — aku pandai besi, dan dia adalah ahli silat. Kami bekerja bersama, berbagi mimpi dan tawa. Namun kemudian ia jatuh cinta pada ibumu, dan ia melupakanku. Ia lupa pada persahabatan kita. Aku menjadi iri, dan iri itu berubah menjadi kebencian.” Han Liong mendengarkan dengan hati yang hancur. “Jadi kau membunuhnya karena ia bahagia?” Bayangan mengangguk pelan. “Aku tahu itu bodoh. Aku tahu itu salah. Tetapi aku tidak bisa berhenti. Kebencian telah memakanku dari dalam. Dan sekarang…” Bayangan menatap tangannya yang keriput, “aku hanya tinggal sisa-sisa dari apa yang dulu aku miliki.”

Han Liong terdiam lama. Kemudian ia berkata, “Kau melakukan kesalahan besar. Tetapi membunuhmu tidak akan mengembalikan ayah dan ibuku. Itu tidak akan mengembalikan apa pun.” Bayangan mengangkat kepalanya, terkejut. “Kau… kau tidak akan membunuhku?” Han Liong menggeleng. “Aku tidak bisa. Aku bukan hakim. Aku bukan algojo. Aku hanya seorang anak yang mencari kebenaran.” Ia berbalik menuju Pauw Lian, yang berdiri di dekatnya dengan mata berkaca-kaca. “Mari kita pergi, Pauw Lian. Kita sudah mendapatkan apa yang kita cari.” Pauw Lian mengangguk, dan mereka berdua mulai berjalan keluar dari kuil yang hancur. Namun di belakang mereka, Bayangan berteriak, “HAN LIONG!” Mereka berhenti. “Ayahmu… sebelum aku membunuhnya, ia berkata padaku bahwa aku akan menyesal. Dan ia benar. Aku menyesal. Aku menyesal setiap hari.” Han Liong tidak menoleh. Ia hanya berkata, “Penyesalan adalah awal dari perubahan. Semoga kau menemukan kedamaian, suatu hari nanti.”

Di luar kuil, matahari pagi bersinar terang, menyambut Han Liong dan Pauw Lian dengan kehangatan yang menyegarkan. Udara pegunungan terasa segar, dan burung-burung berkicau riang di pepohonan. Han Liong menghela napas panjang, melepaskan semua beban yang telah ia pikul selama ini. “Aku tidak menyangka… musuhku adalah seseorang yang dulu mencintai ayahku.” Pauw Lian menatapnya dengan penuh pengertian. “Cinta dan kebencian memang dua sisi yang sama, Han Liong. Tetapi kau memilih sisi yang benar.” Han Liong tersenyum. “Aku tidak melakukannya sendiri. Aku melakukannya bersamamu, Pauw Lian. Tanpamu, aku mungkin akan kalah.” Pauw Lian tersenyum balik, dan untuk pertama kalinya, mereka berdua merasa benar-benar bebas.

Perjalanan pulang tidak terasa melelahkan. Han Liong dan Pauw Lian berjalan melewati hutan dan sungai yang sama, tetapi sekarang semuanya terasa berbeda — lebih cerah, lebih indah. Mereka tidak lagi berbicara tentang masa lalu yang gelap, tetapi tentang masa depan yang terbentang di hadapan mereka. “Ke mana kita pergi sekarang?” tanya Pauw Lian. Han Liong berpikir sejenak. “Aku tidak tahu. Tetapi di mana pun kita pergi, aku ingin kau ada di sisiku.” Pauw Lian tersipu, tetapi ia tersenyum. “Aku juga, Han Liong.” Mereka berjalan bergandengan tangan di bawah sinar matahari pagi, dan untuk pertama kalinya, Han Liong merasa bahwa ia bukan lagi seorang anak yang mencari orang tuanya. Ia sudah menemukan sesuatu yang lebih berharga — seorang sahabat, seorang pendamping, dan mungkin… seseorang yang akan menjadi bagian dari takdirnya.

Saat mereka mencapai sebuah desa di kaki gunung, Han Liong dan Pauw Lian memutuskan untuk beristirahat sejenak. Mereka duduk di tepi sungai yang jernih, menikmati kedamaian yang telah lama hilang dari hidup mereka. Namun di dalam hati Han Liong, masih ada satu pertanyaan yang belum terjawab: “Kutukan itu… benar-benar nyata? Apakah aku dan Pauw Lian tidak bisa bersama?” Ia menatap Pauw Lian yang sedang tertawa kecil melihat ikan-ikan berenang di sungai. Ia tidak ingin kehilangan momen ini. Ia tidak ingin kehilangan gadis ini. “Aku akan mencari tahu,” pikirnya. “Aku akan mencari cara untuk mematahkan kutukan itu. Demi kita.”

Malam tiba, dan bintang-bintang mulai muncul satu per satu di langit yang cerah. Han Liong dan Pauw Lian duduk di sekitar api unggun kecil, berbincang tentang apa pun dan segalanya. Namun di antara percakapan, Han Liong tiba-tiba berkata, “Pauw Lian, aku mencintaimu.” Pauw Lian terkejut, wajahnya memerah. “A-apa?” Han Liong tersenyum, matanya bersinar di bawah cahaya bintang. “Aku tidak peduli dengan kutukan itu. Aku tidak peduli dengan apa kata orang. Aku mencintaimu, dan aku akan melindungimu, apa pun yang terjadi.” Pauw Lian terdiam lama, kemudian ia tersenyum — senyuman yang paling tulus yang pernah ia berikan. “Aku juga mencintaimu, Han Liong.” Mereka lalu duduk berdampingan, tangan saling menggenggam, menatap langit malam yang bertaburan bintang. Di kejauhan, dua ekor burung terbang berdampingan di bawah sinar bulan — putih dan hitam, seperti pedang mereka, seperti takdir mereka, seperti cinta mereka.

TAMAT EPISODE 2

“Han Liong dan Pauw Lian telah mengalahkan Bayangan dan mengungkap kebenaran tentang masa lalu. Namun, kutukan yang melekat pada pedang-pedang pusaka masih menghantui mereka. Bisakah cinta mereka bertahan melawan takdir yang tampaknya telah ditulis sejak ribuan tahun lalu? Perjalanan mereka masih panjang, dan rintangan masih menunggu di depan.”

Preview EPISODE 3

“Han Liong dan Pauw Lian memutuskan untuk mencari tahu asal-usul kutukan pedang pusaka. Perjalanan mereka membawa mereka ke sebuah desa kuno yang menyimpan rahasia tentang pandai besi sakti yang menciptakan pedang-pedang tersebut. Namun di desa itu, mereka bertemu dengan seorang perempuan misterius yang mengaku mengenal ibu Han Liong. Apakah perempuan ini teman atau musuh? Dan apa hubungannya dengan kutukan yang membayangi cinta mereka?”

[📚 Daftar Episode]

Explore additional categories

Explore