Kuliner Nusantara, Elrolumnews – Nasi liwet biasanya dijual di pinggir jalan, dengan meja kecil dan lampu temaram pada malam hari. Sederhana. Tidak mahal. Tapi di balik kesederhanaan itu, hidangan ini punya akar yang jauh lebih mewah dari penampilannya.
Dari Dapur Keraton ke Pinggir Jalan
Berdasarkan penelusuran akademik oleh Inti Krisnawati dalam kajian berjudul “Nasi Liwet Solo: Kuliner Tradisional dengan Keunikan Sejarah, Budaya, dan Filosofi” (2022), asal-usul nasi liwet berkaitan dengan masa Kerajaan Mataram Islam. Hidangan yang semula identik dengan dapur keraton ini kemudian menyebar ke rumah-rumah masyarakat Solo, hingga menjadi makanan rakyat yang dikenal luas.
Nasi dimasak bersama santan, daun salam, dan pandan, menghasilkan aroma gurih yang khas. Pelengkapnya pun tidak sembarangan: ayam suwir yang dimasak santan, telur pindang, sayur labu siam, dan areh atau krim santan kental yang disebut kumut.
Terkait Tradisi Sekaten
Nasi liwet juga memiliki kaitan dengan tradisi Sekaten, upacara tahunan masyarakat Solo untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Dalam konteks ini, nasi liwet bukan sekadar menu harian, tetapi juga bagian dari ritual budaya yang diwariskan lintas generasi.
Diakui sebagai Ikon Kuliner Nusantara
Nasi Liwet Solo termasuk dalam daftar 30 ikon kuliner tradisional Nusantara yang ditetapkan pada 14 Desember 2012 di Jakarta. Pengakuan ini menegaskan posisi nasi liwet bukan hanya sebagai kuliner lokal Solo, tetapi juga sebagai representasi kekayaan kuliner Indonesia secara nasional.
Dari meja makan keraton hingga gerobak pinggir jalan, nasi liwet membuktikan bahwa jarak antara kemewahan dan kesederhanaan dalam kuliner nusantara kadang tidak sejauh yang dibayangkan.
(el)




