Pendekar Tua yang Bijaksana, yang bernama Kyai Dharma, mendengarkan cerita mereka dengan seksama. Ia sesekali mengangguk dan menghela napas. Ketika Han Liong selesai bercerita tentang Naga Hitam dan rencananya, Kyai Dharma menatap mereka dengan mata yang tajam dan bijaksana. “Kalian telah melalui banyak hal. Kalian telah menghadapi Bayangan, mematahkan kutukan, dan menemukan keluarga yang hilang. Tetapi pertempuran kalian belum selesai. Naga Hitam adalah ancaman yang nyata.” Ia berdiri dan berjalan ke sebuah peti kayu tua di sudut gubuk. Ia membukanya dan mengeluarkan sebuah gulungan kuno. “Ini adalah peta menuju markas Naga Hitam. Tetapi untuk mencapainya, kalian harus melewati Hutan Kegelapan — tempat yang paling berbahaya di dunia persilatan.”
“Hutan Kegelapan?” Han Liong mengulangi kata-kata itu dengan hati-hati. “Apa yang membuatnya begitu berbahaya?” Kyai Dharma tersenyum tipis, “Hutan itu dipenuhi dengan ilusi dan jebakan. Ia akan menguji ketakutan terdalammu. Hanya mereka yang memiliki hati yang murni dan tekad yang kuat yang bisa melewatinya.” Ia menatap masing-masing dari mereka dengan mata yang tajam. “Kau, Han Liong, akan menghadapi ketakutanmu kehilangan orang yang kau cintai. Kau, Pauw Lian, akan menghadapi ketakutanmu tentang masa depan. Dan kau, Putri Lian, akan menghadapi ketakutanmu tentang masa lalumu.” Kemudian ia menatap Ken Arok, “Dan kau, Ken Arok, akan menghadapi ketakutanmu tentang identitasmu.”
Malam itu, mereka beristirahat di gubuk Kyai Dharma. Han Liong berbaring di dipan bambu, tetapi ia tidak bisa tidur. Ia memikirkan kata-kata Kyai Dharma — tentang ketakutan kehilangan orang yang dicintai. Ia menatap Pauw Lian yang tidur di dipan di seberangnya. “Aku tidak akan kehilanganmu,” bisiknya dalam hati. “Aku akan melindungimu apa pun yang terjadi.” Ia tersenyum kecil, dan kemudian akhirnya memejamkan matanya, membiarkan kelelahan membawanya tertidur. Di luar, angin malam berdesir di antara pepohonan, dan bintang-bintang bertaburan di langit yang gelap.
Keesokan paginya, setelah sarapan ringan dan ucapan terima kasih kepada Kyai Dharma, mereka memulai perjalanan menuju Hutan Kegelapan. Perjalanan memakan waktu tiga hari, dan ketika mereka akhirnya tiba di tepi hutan, mereka disambut oleh pemandangan yang mencekam: pepohonan hitam yang menjulang tinggi dengan ranting-ranting seperti cakar, kabut tebal yang menyelimuti segalanya, dan keheningan yang begitu dalam, seolah-olah tidak ada makhluk hidup di dalamnya. “Ini dia,” kata Han Liong pelan. “Hutan Kegelapan.” Pauw Lian menggenggam tangannya, “Kita akan melewati ini bersama.” Putri Lian dan Ken Arok mengangguk, siap menghadapi apa pun yang ada di dalam.
Di dalam Hutan Kegelapan, mereka masing-masing menghadapi ilusi yang menguji ketakutan mereka. Han Liong melihat Pauw Lian terbunuh di hadapannya, dan ia hampir putus asa. Namun ia ingat kata-kata Kyai Dharma: “Hanya mereka yang memiliki hati yang murni dan tekad yang kuat yang bisa melewatinya.” Ia menutup matanya dan mempercayai bahwa Pauw Lian masih hidup. Ketika ia membuka matanya, ilusi itu lenyap. Pauw Lian menghadapi ilusi di mana ia melihat masa depan yang gelap, tetapi ia memilih untuk percaya bahwa ia bisa mengubahnya. Putri Lian menghadapi ilusi masa lalunya, tetapi ia memilih untuk memaafkan dirinya sendiri. Dan Ken Arok menghadapi ilusi tentang identitasnya, tetapi ia memilih untuk menjadi dirinya yang baru. Bersama-sama, mereka berhasil melewati hutan itu.
Setelah melewati Hutan Kegelapan, mereka akhirnya tiba di hadapan markas Naga Hitam — sebuah benteng hitam yang menjulang di atas tebing, dikelilingi oleh kabut tebal dan kilat yang menyambar-nyambar. Di sana, di atas benteng, mereka melihat sosok Naga Hitam — seorang pria berjubah hitam dengan topeng naga yang menutupi wajahnya. “Akhirnya,” suaranya bergema di seluruh lembah, “kau datang, Han Liong. Aku sudah menunggumu.” Han Liong menggenggam pedangnya erat-erat, “Kami di sini untuk menghentikanmu, Naga Hitam.” Naga Hitam tertawa, “Kau pikir kalian bisa menghentikanku? Kalian hanya anak-anak yang bermain-main dengan pedang.” Han Liong menatapnya dengan mata tajam, “Kita akan lihat siapa yang bermain-main.” Pertarungan besar akan segera dimulai.
TAMAT EPISODE 5
“Han Liong dan rombongan telah berhasil melewati Hutan Kegelapan dan tiba di markas Naga Hitam. Namun pertarungan terbesar mereka baru akan dimulai. Siapakah Naga Hitam sebenarnya? Dan apakah Han Liong dan teman-temannya cukup kuat untuk mengalahkannya? Perjalanan mereka mencapai puncaknya!”
PREVIEWS EPISODE 6
“Pertarungan melawan Naga Hitam dimulai! Han Liong dan rombongan mengerahkan seluruh kekuatan mereka, tetapi Naga Hitam ternyata jauh lebih kuat dari yang mereka duga. Di tengah pertarungan, sebuah pengungkapan mengejutkan terjadi — Naga Hitam ternyata adalah seseorang yang sangat dekat dengan Han Liong! Siapa dia dan apa motif sebenarnya? Semua akan terjawab dalam episode yang mendebarkan ini
