PEK LIONG PO KIAM: Guru yang Hilang dan Misteri di Kota Naga

Episode 5: “Guru yang Hilang dan Misteri Kota Naga”

Sastra/FIksi, ElrolumNews – Setelah pertempuran di Gunung Naga Hitam dan reuni mengharukan antara Pauw Lian dan saudara kembarnya, Putri Lian, rombongan kecil mereka akhirnya melanjutkan perjalanan. Kali ini, tujuan mereka adalah Kota Naga — sebuah kota legendaris yang dibangun di sisi tebing raksasa, di mana kuil-kuil kuno menyimpan pengetahuan tentang asal-usul pedang pusaka dan kekuatan mereka. Han Liong berharap di sana ia bisa menemukan jawaban tentang kemampuan baru Pauw Lian dan asal-usul kekuatan pedangnya. Perjalanan menuju Kota Naga memakan waktu lima hari lima malam, melewati hutan belantara, padang pasir, dan pegunungan yang bersalju. Namun akhirnya, mereka tiba di gerbang kota yang megah, terukir dengan naga-naga batu yang menakjubkan.

Kota Naga adalah kota yang hidup dan ramai, dipenuhi oleh pedagang, pendekar, dan para peziarah yang datang untuk berdoa di kuil-kuilnya. Di setiap sudut kota, ada patung-patung naga yang dihiasi dengan emas dan permata. “Kota ini luar biasa,” kata Putri Lian dengan mata berbinar. “Aku belum pernah melihat tempat seperti ini.” Ken Arok mengangguk, “Kota Naga adalah pusat pengetahuan persilatan. Banyak pendekar dari seluruh penjuru dunia datang ke sini untuk belajar.” Han Liong tersenyum, “Maka inilah tempat yang tepat untuk mencari jawaban.” Mereka berjalan melewati pasar yang ramai, di mana para pedagang menjual berbagai macam barang — dari ramuan herbal hingga senjata kuno, dari gulungan kitab hingga jimat-jimat sakti.

Di tengah keramaian pasar, Han Liong tiba-tiba berhenti. Ia merasakan sesuatu — sebuah kehadiran yang sangat familiar, yang membuat jantungnya berdegup kencang. Ia menoleh ke arah sebuah gang kecil, dan di sana, berdiri seorang kakek tua dengan jubah hitam lusuh dan janggut putih panjang yang menjuntai hingga ke dadanya. Han Liong terkesiap. “Guru Beng Hoat?” Guru Beng Hoat adalah guru keempatnya — yang paling misterius dan paling jarang berbicara. Ia adalah orang yang mengajarkan Han Liong tentang ketenangan dan pengendalian diri. Namun ia menghilang tanpa jejak sebelum Han Liong turun gunung. “Guru! Apa yang kau lakukan di sini?!” teriak Han Liong dengan suara campuran terkejut dan bahagia.

Guru Beng Hoat tersenyum tipis, matanya berbinar-binar di balik keriput wajahnya. “Han Liong, anakku. Aku tahu kau akan datang ke sini.” Han Liong berlutut di hadapan gurunya, menundukkan kepalanya dengan hormat. “Guru, mengapa kau meninggalkan kami di gunung? Aku sangat merindukanmu.” Guru Beng Hoat menghela napas panjang, “Aku pergi karena ada sesuatu yang harus aku lakukan. Ada kebenaran tentang pedang pusaka yang harus aku selidiki.” Ia menatap Pauw Lian, lalu Putri Lian, lalu Ken Arok. “Kalian semua, ikuti aku. Ada banyak hal yang perlu kita bicarakan.” Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan berjalan menyusuri gang sempit itu, meninggalkan rombongan itu untuk mengikutinya.

Guru Beng Hoat membawa mereka ke sebuah kuil kecil yang tersembunyi di balik air terjun di ujung kota. Di dalam kuil, terdapat altar kuno dengan ukiran naga yang sangat detail. Di atas altar itu, tergeletak dua buah batu permata — satu putih dan satu hitam — yang tampaknya telah menunggu kedatangan mereka. “Apa ini, Guru?” tanya Han Liong. Guru Beng Hoat menatap kedua permata itu dengan mata yang dalam. “Ini adalah ‘Mata Naga’ — permata yang menyimpan memori dari Ki Jaya Baya, pandai besi sakti yang menciptakan pedang-pedang kalian. Jika kalian menyatukannya dengan Jantung Pedang yang sudah kalian miliki, kalian akan mengetahui semua kebenaran tentang pedang-pedang ini.”

Han Liong mengeluarkan pedang putihnya, dan Pauw Lian mengeluarkan pedang hitamnya. Ketika mereka mendekatkan pedang mereka ke kedua permata itu, terjadi sesuatu yang ajaib. Permata-permata itu melayang dari altar dan menyatu dengan bilah pedang, menciptakan cahaya yang menyilaukan. Han Liong dan Pauw Lian merasakan gelombang pengetahuan mengalir ke dalam pikiran mereka — sejarah pedang-pedang itu, asal-usul kutukan, dan rahasia di balik kekuatan mereka. “Aku… aku bisa melihat semuanya,” kata Han Liong dengan suara bergetar. “Aku bisa melihat Ki Jaya Baya… dan aku bisa melihat mengapa ia menciptakan pedang-pedang ini.”

Dalam penglihatannya, Han Liong melihat seorang pria tua dengan palu di tangannya — Ki Jaya Baya. Ia melihatnya menciptakan kedua pedang itu dengan penuh cinta, untuk dua orang yang paling ia sayangi. Namun ketika mereka mengkhianatinya, ia menangis dan menanamkan kutukan di dalam pedang-pedang itu. Han Liong juga melihat bahwa sebenarnya, kutukan itu bukanlah tentang kebencian — tetapi tentang kesedihan. Ki Jaya Baya tidak ingin orang lain mengalami patah hati seperti yang ia alami. Ia ingin melindungi mereka dari rasa sakit. Namun dengan cara yang keliru, ia justru menciptakan penderitaan yang lebih besar. Han Liong membuka matanya, “Dia tidak membenci mereka. Dia hanya… sangat sedih.

Share:

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

More like this

PEK LIONG PO KIAM: Mata Ketiga dan Konspirasi di...

Episode 4: "Mata Ketiga dan Konspirasi Kota Giok"Sastra/Fiksi, ElrolumNews - Setelah berhasil mematahkan kutukan pedang pusaka, Han...

PEK LIONG PO KIAM: Rahasia Desa Kuno yang Mengungkap...

Episode 3: "Rahasia Desa Kuno"Sasra/Fiksi, ElrolumNews - Setelah pertarungan di Kuil Bayangan, Han Liong dan Pauw Lian...

PEK LIONG PO KIAM: Pertarungan di Kuil Bayangan yang...

Episode 2: "Pertarungan di Kuil Bayangan"Sastra/Fiksi - ElrolumNews - Pintu kuil yang berat dan besar itu terbuka...

More

Recomended

Read More