Episode 4: “Mata Ketiga dan Konspirasi Kota Giok”
Sastra/Fiksi, ElrolumNews – Setelah berhasil mematahkan kutukan pedang pusaka, Han Liong dan Pauw Lian merasa lega dan bebas. Namun kebebasan itu tidak membuat mereka berpuas diri. Mereka berdua sepakat untuk melanjutkan perjalanan mereka sebagai pendekar pengembara, menolong orang-orang yang tertindas dan menegakkan keadilan di mana pun mereka pergi. Perjalanan mereka membawa mereka ke Kota Giok, sebuah kota besar yang terkenal dengan kekayaan dan keindahannya. Namun begitu mereka memasuki kota itu, mereka segera merasakan sesuatu yang tidak beres — udara terasa berat, dan orang-orang berjalan dengan wajah cemas dan tertunduk, seolah-olah ada sesuatu yang menekan mereka.

“Mengapa suasana kota ini terasa begitu menekan?” tanya Pauw Lian dengan hati-hati. Han Liong mengamati sekelilingnya, memperhatikan setiap detail. “Aku tidak tahu, tetapi ada sesuatu yang tidak beres di sini. Kita harus berhati-hati.” Mereka berjalan melewati pasar, dan di sana mereka melihat seorang pedagang kecil yang sedang dipukuli oleh sekelompok preman berseragam. “Bayar utangmu, atau kami akan menghancurkan kiosmu!” teriak pemimpin preman. Han Liong tidak bisa tinggal diam. Ia melangkah maju dan dengan gerakan cepat, melumpuhkan para preman itu satu per satu. Pedagang itu menangis terharu, “Terima kasih, Tuan Pendekar! Tetapi kalian harus pergi dari sini! Kota ini dikuasai oleh… oleh mereka!” Han Liong bertanya, “Siapa ‘mereka’?”

Pedagang itu berbisik ketakutan, “Mereka adalah antek-antek dari Gubernur Kota Giok, Tuan Liem. Ia telah memerintah kota ini dengan tangan besi selama bertahun-tahun. Ia memeras kami semua, dan siapa pun yang melawan akan menghilang tanpa jejak!” Han Liong mengepalkan tangannya, marah mendengar cerita itu. “Kami tidak akan membiarkan ini terus berlanjut. Bawa kami ke istana gubernur.” Pedagang itu gemetar, “Tuan, jangan! Gubernur memiliki pasukan pribadi yang sangat kuat dan seorang pendekar bayangan yang tak terkalahkan!” Pauw Lian tersenyum tipis, “Kami juga punya beberapa kejutan untuknya.” Dengan tekad yang kuat, Han Liong dan Pauw Lian berjalan menuju istana gubernur, siap menghadapi apa pun yang ada di sana.
Di depan istana gubernur yang megah dan menjulang, Han Liong dan Pauw Lian dihadang oleh puluhan penjaga bersenjata lengkap. Namun dengan gerakan yang cepat dan lincah, mereka berhasil melumpuhkan para penjaga itu tanpa melukai mereka. Mereka masuk ke dalam istana dan menemukan Gubernur Liem, seorang pria gemuk dengan wajah licik, sedang duduk di singgasananya. “Siapa kalian berani masuk ke istanaku!” teriaknya marah. Han Liong menatapnya dengan tajam, “Kami datang untuk menghentikan kekejamanmu, Gubernur. Kau akan mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu.” Gubernur Liem tertawa terbahak-bahak, “Kau pikir kalian bisa menghentikanku? Pendekar bayanganku akan menghancurkan kalian!” Ia menepuk tangannya, dan dari balik tirai, muncul seorang sosok bertubuh tinggi, terbungkus jubah hitam pekat, dengan pedang melengkung di tangannya.

Pendekar bayangan itu melangkah maju, matanya bersinar merah di balik kerudung hitam. Suaranya serak dan mengancam, “Kalian berani mengganggu ketenangan Tuanku Gubernur? Kalian akan menyesal.” Dengan gerakan secepat kilat, ia menyerang Han Liong. Pedang Han Liong terhunus dan bertemu dengan pedang melengkung pendekar bayangan itu dalam benturan yang menggetarkan ruangan. Mereka bertarung dengan kecepatan luar biasa, setiap jurus diimbangi dengan jurus lainnya. Sementara itu, Pauw Lian mengamati pertarungan dengan saksama, tangannya di gagang pedang hitamnya. Ia merasakan sesuatu yang aneh — seolah-olah ia bisa melihat gerakan pendekar bayangan itu sebelum ia melakukannya. “Han Liong, hati-hati! Ia akan menyerang dari kiri!” teriaknya. Han Liong berhasil menghindar tepat pada waktunya.






